Friday, 3 February 2012

Cerita seru Maaf..Saya Menggauli Anda

Ini cerita berawal dari kebetulan yang tak kami duga dimana aku dapat mengenal dan menikmati hidup lebih berbahagia dengan istri orang. Suatu siang aku sedang mengantar istriku untuk perawatan tubuh, biasa saja di tempat mandi luluran dan SPA. Setelah lima belas menit istriku masuk, ada sepasang anak muda datang dan duduk di ruang tunggu. Reynald dan Dian, wah ternyata mereka kuliah semester satu jurusan akuntansi di salah satu perguruan tinggidi SBY. "Kenapa kalian nggak segera daftar supaya cepat ditangani?" kataku sambil memperhatikan tubuh seksi Dian si cewek. "Bingung Pak, tapi istri Bapak ambil yang mana? dan berapa lama?" jawab Dian sambil agak gelisah karena memergoki aku sering lihat buah dada dan pantatnya yang benar- benar menggiurkan. "Wah nggak tahu Dik, tapi istriku selalu ambil yang dua jam setengah untuk perawatan," kataku singkat ke arah Reinald. "Wah kalau gitu tak tinggal dulu ke kampus dulu ya Dian, nanti tak jemput setelah dua jam," sergah si Reynald. "Ya sudah sana biar nggak ditinggal Pak Mahmud, jangan lupa lho jemput 2 jam lagi," jawab Dian sambil senyum. Setelah itu Dian daftar dan menunggu sekitar 10 menit sampai biliknya siap. Kesempatan itu aku pergunakan untuk minta maaf kepadanya karena suka mencuri pandang tubuhnya. "Dik Dian, aku minta maaf ya sudah kurang ajar tadi," kataku membuka percakapan. "Nggak apa-apa, saya sudah biasa kok diperlakukan begitu," jawab Dian. "Tapi aku nggak biasa, hanya karena memang.." aku coba menahan kalimatku. "Kenapa Pak, teruskan saja saya nggak marah kok," cecar Dian serius. "Baru kali ini saya melihat orang cantik alami dan berbadan sempurna seperti Dik Dian, maaf kalau agak terus terang Dik," kataku. "Ah.. Bapak pintar memuji," katanya malu- malu. "Serius, saya nggak bermaksud kurang ajar tapi memang lho," aku tersenyum. "Suka senam dan minum jamu ya?" pujiku terselubung di pertanyaanku. "Ng.. nggak juga asli kok," katanya sambil memerah pipinya. "Selamat siang, nama saya Anie yang akan jadi assistant Ibu, Mari ke kamar di belakang Bu!" sapa petugas tersebut sambil mengangguk ke arahku. Sial, lagi seru-serunya kok dipotong, batinku. Kemudian Dian permisi dan mengikuti petugas tersebut ke arah kamar belakang di depan taman, meninggalkan bayangan pinggul kecil nan padatnya yang bergoyang-goyang menyiratkan kenikmatan tersembunyi, jakunku jadi makin cepatmengiring, air liurku membasahi tenggorokan yang tiba-tiba kering. Sesudah itu aku pergi untuk refreshing dan makan siang kira-kira satu jam lebih, aku balik ke klinik perawatan yang kecil nan asri tersebut. Tetapi tidak lama kemudian datang si Anie menghampiriku dan berkata, "Pak, Ibu Dian sudah selesai dilulur tinggal bagian pribadi. Ibunya minta supaya Bapak sendiri yang melakukan." "Apanya yang harus saya lakukan?" jawabku bingung. "Eh, itu lho Pak lulur di payudara dan sebelah dalam paha," jawab Anie malu. "OK, tapi nanti saya ditinggal sendirian saja ya," jawabku sambil meredam jantungku yang berdetak lebih kencang dari cuma 140 perdetik. "Baiklah Pak, tapi setelah itu tolong ditinggal ibunya supaya makin rileks dan ibunya sudah tahu nanti jam 2 harus bilas sendiri di bak SPA- nya," kata Anie sambil mempersilakan aku masuk ke kamar di ujung, di depan taman yang sejuk dan indah. Setelah aku masuk dan mengunci pintu, aku terbelalak ketika kulihat tubuh telanjang Dian sudah terbungkus lulur berwarna putih dan matanya tertutup rapat dengan buah "bengkuang". Nafasku sesak dan hampir terkejut ketika kusadari bahwa dada dan kemaluannya hanya ditutup handuk kecilsedangkan tangannya sudah terlentang penuh dengan lulur. Dengan gemetar aku ambil lulurnya dan mulai membasuh di bagian pinggir payudaranya, ohh.. kenyal dan membulat penuh ke atas dengan puting kecil berwarna merah mentah menantang. Aku sangat terangsang, sehingga batang kemaluanku mulai terasa sakit karena terpaksa membengkak di dalam kantong CD XXL. "Aaahh.. Rey.. sshhss.." erang si Dian ketika kusap-usap sampai permukaan susunya rata terbungkus lulur kecuali putingnya. "Sshh.. teruss.. Rey ciumin dong.." Dia menggigit bibirnya sendiri. Gila, bagai dapat durian runtuh nih, dalam hati aku berkata. Sambil deg- degan karena kalau sampai tahu yang menggosok bukan pacarnya, wow.. tidak kebayang deh akibatnya. Aku cium putingnya sambil memainkan lidahku melilit-lilit puting merah muda itu, kemudian kugigit manja. "Aahh.. sshhss.. aku mao keluar Rey.. sshshh gimana nih.." erang Dian. Segera kugosokkan lulur ke arah paha dalamnya secara perlahan terus sampai mendekati daerah lipatan yang sangat hangat itu. "Ahh.. sshshs.. Rey.. peting dong.. ada orang nggak.. ss.." lirih Dian. "Sshh hmm.. kok diam.. please.." rengek Dian. "Tunggu ya.." jawabku sambil kubuat-buat supaya suaraku sama dengan Reynald. Aku cepat-cepat cuci tangan dan melepas celana dan bajuku. Kemudian segera kujilati lubang kemaluannya sambil mengusap-usap payudaranya, dan mulai kujilati bibir luar vaginanya."Ahh.. Rey.. ngapain sshh.. kamu.. di situ.. sshh," erang Dian dengan lidah kukait-kait klitorisnya sambil kutelusuri garis bibir vaginanya. Sambil menggoyangkan pinggulnya kiri-kanan Dian berkata, "Yess.. di situ.. ahh.. sshs.." katanya ketika mulai kuhisapdan menjilati klitorisnya. Setelah membesar, aku tusuk-tusukkan lidahku di liang senggamanya tetapi tak kuduga reaksinya. "Aahh.. shshshsh mmhh ss.. teruss hhmm," Dian menggelinjang-gelinjang sambil memaju- mundurkan pinggulnya, vaginanya seolah-olah merebut lidahku untuk masuk lebih dalam kerongga nikmat itu, sementara batang kemaluanku sudah merah padam dari tadi ingin segera menggantikan lidahku. "Ahh.. teruuss.. teruuss.. lebih cepaat.. ssh.." gelinjang Dian semakin cepat. "Shshss.. aku hampiirr.. shshh.. mmyamyam memem.. ss," suara Dian semakin kacau. Pantatnya semakin cepat mengocok lidahku, sehingga ranjang lulur itu bergoyang kencang danmenimbulkan bunyi, "Kriet.. kreyet.. kreyet.. kreyet.." Ketika kedutan lubang kemaluannya makin rutin, segera kuhentikan dan kutarik lidahku, terlihat alis si Dian mengkerut seperti sedang bertanya-tanya, sementara dadanya masih naik-turun dengan cepat. Tanpa berpikir lebih jauh tentang apa Dian masih perawan atau sudah pernah, secepatnya kuposisikan kepala penisku ke lubang hangat dan basah itu. "Ahh.. sshsh mm.." erang manja si Dian. Memang penisku tidak terlalu besar, hanya kepalanya agak besar dan melengkung ke atas seperti terompet tapi panjang lho, hehehe.. ada juga yang dibuat bangga nih. Badan Dian jadi seperti kaku seakan menantikan sesuatu. "Rileks sayang.. sebentar kita lanjutkan perasaanmu," bisikku. Kemudian kudorong perlahan kepala penisku, dan dahi Dian mengernyit tanda agak sakit atau dia merasa penisnya agak lain? Setelah kepala penisku masuk, secara bertahap kudorong batangku agak dalam, kutarik lagi sedikit, sorong lebihdalam, tarik sedikit, sampai.. "Bluess.. duk.." kiranya sudah mentok kebentur ujung rahimnya, padahal belum semuanya masuk lho. Terasa di tangan kiriku kira-kiramasih tiga lebar jariku. tapi efeknya.. "Ssshh.. mmhh.. aahh.. auh!" jerit tertahan Dian. Kurasakan agak banjir di dalam sana dan jepitan di sepanjang kepala penissampai hampir seluruh batangku itu makin erat. "Ahh.. ssh shshss.." aku coba konsentrasi karena vagina yang nikmat dan sangat sempit ini mencoba menarik semua spermaku sehingga kepala penisku membesar dan berdenyut-denyut menahan kenikmatan yang nyaris memancar. Kemudian aku coba goyang secara perlahan, makin lama makin cepat. Kupraktekkan rumus ini- itu sambil membuatnya menikmati setiap gesekan penisku serta mengalihkan pikiranku untuk melupakan nikmatnya lubang kemaluan Dian, sempitnya vaginanya. Tubuhnya yang sempurna, payudaranya yang ranum dan perawan yang tertekan dadaku. "Ouch.. sshh.. hemm.." sulit rasanya menghadapi kenyataan nikmat ini, apalagi setelah puncak kenikmatannya yang tertunda itu kembali melanda Dian, ini terbukti dengan goyangan pinggul dan pantatnya berputar dan sekarang maju-mundur, menentang setiap gerakanku yang semakin cepat tusuk dan tarik.. "Aahh.." Kuberanikan mencium bibirnya dan melumatnya, kulilit lidahnya, sekilas Dian kelihatan ragu, sedetik kemudian dia tidak bisa pungkiri kenikmatan yang melanda itu, sehingga Dian pun membalas ciumanku dengan ganasnya. Geregetan, penasaran, kenikmatan, itu yang mungkin ada di pikirannya, karena siapa yang menindihnya beda, juga yang di dalam vaginanya beda danpanjang, ganas lagi. Bibirku yang di atasnya ada kumisnya (Reynald sih culun.. mulus man!). Setelah hampir setengah jam kami goyang (kurasa Dian sudah dua kali keluar) dan akhirnya vaginanya mulai menjepit dan mengurut penisku cepat sekali. Dengan nafasnya yang memburu dangerakan pinggulnya, "Aaahh.. aku.. tahu.. sshhmm.. kamu bukan Rey.. sshs hh shsh," Dian mulai meracau tidak karuan sambil kakinya melingkari pinggangku dan menekan pantatku keras seakan-akan dia sanggup menelan penis panjangku sehingga kurasa bahwa setiap kutusuk vaginanya terasa ada benturan dan terus memutar di ujung dalam kenikmatannya. "Sshshs aasshh.. siapa.. sshh.. kamu.. sshshsh.." jerit tertahan Dian. Aku pun kelagapan dan kepalang tanggung, aku goyang dan memaju- mundurkan agak kasar liang vagina sempit ini, "Duk..bluess.. duuk.. bluess.." kulihat pangkal penisku agaknya nyaris semuanya masuk,"Sssh shh shh.. teruss.. Pak Mike.. sshh," reka si Dian. "Aku puas.. sshh hmm.. Pak.. cepat.. sshh," lanjutnya. "Tubuhmu bagus.. dan sempurna.. sayang..apa bol.."aku mulai berani berbicara. "Di.. dalam.. saja.. shsh shh mmhh.." Dian memotong sambil menaikkan pinggulnya sambil menekan pantatku serta membenamkan seluruh penisku seluruhnya."Aaahh.. ssmmhh hhmm.." kurasakan vaginanya berdenyut-denyut keras membuat suara becek goyangan kami yang makin keras. Aku sudah tidak kuat lagi, ilmuku seakan hilang, kesadaranku melayang. Kemudian sambil melenguh kutarik punggulnya lengket ke pangkal penisku dan kujilat serta kugigit putingnya, kulepas semua spermaku, "Aaahh.. sshh.." "Crot.. crot.. crot.." Hampir enam atau delapan kali semprotan maniku melesat ke dalam rahimnya. "Aaahh ss mm.. hmm.. enak.. hangat.." Dian mengerang-erang, sambil terus menggoyangkan pinggulnya berputar- putar. Dalam keheningan nikmat, kubiarkan penisku di dalam vaginanya yang masih terasa sempit, kucium lembut bibirnya dan Dian pun membalas manja, kemudian kubuka tutup matanya sambil tersenyum danmembelalakkan matanya seakan tak percaya kalau aku yang ada di atas tubuhnya serta mengisi penuh liang vaginanya. Kemudian sambil bersikap marah Dian memeluk diriku serta menggigit hisap leherku. Wah.. merah nih jadinya. "Biar istrimu tahu kalau kamu habis memperkosa aku," ejeknya sambil senyum. Kuceritakan kesalahan ini disebabkan si Anie dan aku terpaksa memenuhi permintaan Dian yang sudah tidak tahan tadi, kami pun tertawa renyah. Dian mengaku kalau dia hanya sekali berhubungan senggama dengan Reynald, itupun karena kebablasan waktu peting saat gesek- gesek kemaluan mereka, tapi punya si Rey kecil sehingga tidak terasa sudah masuk dan merenggut selaput darahnya. Kami merasakan bahagia bercampur rasa bersalah terhadap pasangan kami, sehingga kami berjanji untuk merahasiakan kekeliruan ini. Tapi kami melewati perasaan senang dan nikmat bercampur dosa sampai saat ini. Dian dinikahi si Reynald dan punya anak satu. Aku kangen kamu lho, bagiku kamu masih sempurna. To be apart of you, and you apart of me. The only love.. Sayup-sayup terdengar lagu si Bee Gees.
TAMAT

Thursday, 2 February 2012

Cerita seru Supermarket Hot

Aku bekerja sebagai sales assistant di sebuah supermarket Y di Bandung. Di tempat kerjaku ada seorang cewek bernama Ita. Ita adalah cewek yang paling akrab denganku. Segala masalahnya akan dia beritahukan padaku. Ita memang cantik, kulitnya putih, matanya bulat, buah dadanya pun membulat, tidak terlalu besar tapi cukup menantang membuat setiap laki-laki yang dekat dengannya ingin selalu menjamahnya. Siapapun yang melihat tubuh Ita pasti naik nafsu syahwatnya. Pantat Ita mengiurkan juga. Rambutnyapun panjang sebahu. Suatu hari Ita datang padaku”, Fer belakang badan Ita gatal-gatal nih”, Ita memberitahuku akan masalahnya.
“Tolong gosokkan ya, Fer” Ita menyuruhku.
“Kalau begitu kemarilah”, balasku dengan sedikit terkejut.
“Disini saja, di dalam gudang lebih nikmat” Ita memberitahuku dengan suara yang amat lembut dan begitu manja. Hatiku jadi cair.
“Fer” Ita menarik tanganku menuju ke dalam gudang yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.

Kemudian Ita mengunci pintu gudang itu, serta mengambil bedak antiseptik di rak yang berdekatan, lalu mengulurkannya kepadaku. Aku tak sungkan-sungkan lagi, terus saja menaburkan bedak itu di atas telapak tanganku. Ita menarik baju yang dipakainya ke atas hingga sebatas tengkuk. Aku menelan ludah melihat ke belakang badan Ita, yang selama ini tak pernah aku lihat tanpa busana. Aku menepuk bedak yang ada di tanganku ke atas badan Ita. Hangat badannya. Aku mulai menggosok. Sesekali Ita kegelian, ketika aku mengurutkan jariku pada alur di tengah belakang badan Ita. Aku menggosok rata. Ita meraba-raba kancing BH-nya, lalu dilepaskannya, maka terurailah tali BH-nya itu di belakang badannya itu. berdesir darahku, aku menelan air liur, melihat aksi Ita yang berani itu tadi. Aku terus menggosok, dengan hati yang berdebar-debar. Aku merasa batang penisku sudah mulai mengeras. Aku merasa tak tahan. Tengah menggosok belakang badan Ita, tanganku secara perlahan-lahan merayap ke dada Ita.
“Hei! Apa-apaan nih”, Ita melarang sambil menepuk tanganku.
“Ohh! sorry”, aku meminta maaf. Tanganku kembali ke bekakang. BH yang Ita pakai masih melekat di dadanya, menutupi buah dadanya yang mungil itu. Aku terus menggosok, kali ini turun sampai ke batas pinggang. Aku memberanikan diri mengurut ke dalam rok Ita, tetapi Ita menepuk lagi tanganku.
“Jangan!”, larang Ita lagi.
“Sudah hilang belum gatal itu?”, Tanyaku pada Ita.
“Belum!” jawab Ita pendek.
Aku merasa semakin terangsang, batang penisku semakin mengeras dan mula tegang! Aku coba lagi untuk meraba ke dada Ita, kini aku telah dapat memegang buah dada Ita yang lembut itu, yang tertutup dengan BH berwarna putih. Ita tidak lagi menepuk tanganku tetapi dia memegang tanganku yang aku takupkan pada payudaranya itu. Aku mulai meremas buah dada Ita. Ita menggeliat geli sambil tangannya memegang pergelangan tanganku. Ita nampak sudah mula merasa terangsang. Aku mencium tengkuk Ita. Dia masih menggeliat-geliat akibat remasan serta ciumanku. Buah dadanya aku rasa sudah semakin menegang. Jariku kini memainkan peranan memilin-milin puting susu Ita pula! Aku sadari tadi memeluk Ita dari belakang. Batang penisku yang keras menonjol itu aku gesek-gesekkan pada alur pantat Ita. Ita ketawa kecil, merangsang sekali! Ita membuka kancing bajunya dan terus menanggalkannya berserta BH-nya dan mencampakkannya di atas lantai. Kini payudara Ita tak tertutup apa-apa lagi. Aku terus meremas-remas dan membalikkan badan Ita supaya berhadapan denganku. Ita menciumku rakus sekali, sambil mengulum-ngulum lidahku. Akupun begitu juga membalas dengan rakus serangan Ita. Aku menanggalkan bajuku. Ita mencium dadaku, perutku. Aku tetap mengecup-ngecup buah dada nya yang sudah mengeras tegang. Tanganku menekan-nekan pantatnya. Batang penisku semakin menegang. Tiba-tiba Ita berlutut, lalu membuka retsleting celanaku. Dia menarik keluar batang penisku yang tegak keras. Ita merasa kagum melihat batang penisku yang menegang secara maksimal itu. Ita menguak rambutnya ke belakang dan meng-”karaoke” batang kejantananku. Dia menggengam dengan rapi. Sambil mengulum secepat-cepatnya. Ita mengarahkan batang penis ke matanya, hidungnya, ke pipinya. Ita mencium sekitar batang penisku. Aku merasa nikmat sekali. Ita terus mengulum penisku hingga ke pangkal makin lama semakin cepat. Aku merasa kepala penisku terkena anak tekak Ita. Ngilu rasanya! Aku juga membantu Ita dengan mendorong dan menarik kepalanya.
“Ita, sudah hampir keluar! Sudah hampir keluar! Ita sengaja berlagak tak tahu saja, ketika aku katakan maniku sudah hendak keluar. Ita masih mengulum. Air maniku tersemprot memenuhi rongga mulut Ita. Dia lantas mencabut keluar penisku lalu menjilat-jilat air maniku. Dia nampaknya menikmati sekali. Penisku jadi lembek kembali!
“Aik! belum apa-apa sudah lembek”. Ita mengulum lagi penisku. Penisku jadi tegang lagi. Ita tersenyum memandangnya. Aku membuka celana. Ita duduk di atas meja. Aku berlutut menarik rok dan celana dalamnya. Ita sudah bugil di depanku. Bulu yang tipis warna pirang menutupi vaginanya. Aku mencium sekitarnya. Ita meletakkan kedua belah kakinya di atas bahuku. Aku mengangkangkan paha Ita. Bibir vaginanya sedikit terbuka. Aku menjilatinya. Aku buka sedikit dengan jari lalu mengoreknya sedikit demi sedikit jariku menyodok vagina Ita. “Argh, argh, argh!” Ita mengerang perlahan. Vaginanya terlihat basah sekali. Aku meletakkan kepala penisku ke pintu vaginanya. Aku sodok sedikit, “Argh!” Ita mengerang lagi. Laku aku tekan lagi. ” Yes!” suara Ita perlahan. Aku menyodok lagi dalam sedikit dan terus ke pangkal. Aku mendorong dan menarik berulang kali. Ita makin terlihat lemas dan nikmat. Aku merasa kehangatan lubang vagina Ita. Ita mencabut penisku keluar. Dia turun dari atas meja dan mendorongku telentang lalu duduk di atas badanku dan memasukkan lagi penisku ke dalam lubang vaginanya itu. Dia mengayun ke atas dan ke bawah. Tak lama dia tarik keluar lagi penisku. Ita kini agresif. Aku mendorongnya telentang lagi. Ita merapatkan payudaranya dengan kedua belah tangannya.
“Masukin di celah susuku dong! Masukin di celah susu ah..!” Ita menyuruhku. Aku tidak sungkan-sungkan lagi terus melakukannya tapi sebentar saja. Aku duduk dan Ita masih telentang, pahaku di bawah paha Ita, aku sodok lagi penisku ke dalam vaginanya. Aku mengayun dengan perlahan. Licin dan sedap rasanya Ita bangun dan bertiarap di atas meja, kakinya lurus ke lantai menungging! Akupun berdiri lalu membuat ‘dog style’. Aku pegang kiri dan kanan pantat Ita dan mengayun lagi. Aku kemudian menyangkutkan sebelah kaki Ita di atas bahuku dalam posisi telentang. Aku sodok lagi tarik dan keluar dorong dan masuk ke dalam vaginanya, pokoknya malam itu kami merasakan kepuasan bersama dengan mencoba segala posisi.

Cerita seru Biaya Antar Pulang Yani

Kuliah jam terakhir di kampus S di kawasan Jakarta Selatan baru saja berakhir. Jam menunjukkan pukul 18.00 dan hari pun mulai gelap. Vani, mahasiswi semester 4 fakultas Ekonomi dengan rambut sebahu berwarna brunette berjalan meninggalkan kampus menuju halte depan kampus. Sesampainya di halte, Vani merasa agar kurang nyaman. Mata para cowok penjual rokok dan si timer memelotinya seolah ingin menelanjanginya. Tersadarlah Vani bahwa hari itu dia memakai pakaian yang sangat sexy. T-shirt putih lengan pendek dengan belahan rendah bertuliskan WANT THESE?, sehingga tokednya yang berukuran 36C seolah hendak melompat keluar, akibat hari itu Vani menggunakan BH ukuran 36B (sengaja, biar lebih nongol). Apalagi kulit Vani memang putih mulus. Di tambah rok jeans mini yang digunakannya saat itu, mempertontonkan kaki jenjang & paha mulusnya karena Vani memang cukup tinggi, 173cm. ”Buset, baru sadar gue kalo hari ini gue pake uniform sexy gue demi ngadepin ujiannya si Hutabarat, biar dia gak konsen”, pikir Vani. Biasanya Vani bila naik angkot menggunakan pakaian t-shirt atau kemeja yang lebih tertutup dan celana panjang jeans, demi menghindari tatapan dan ulah usil cowok-cowok di jalan. Siang tadi Vani ke kampus datang numpang mobil temannya, Angel. Tapi si Angel sudah pulang duluan karena kuliahnya lebih sedikit.
Vani tambah salah tingkah karena cowok-cowok di halte tersebut mulai agak berani ngliatin belahan tokednya yang nongol lebih dekat lagi. ”Najis, berani amat sih nih cowok-cowok mlototin toked gw”, membatin lagi si Vani. Vani menggunakan bukunya untuk menutupi dadanya, tapi mereka malah mengalihkan pandangan mesumnya ke pantat Vani yang memang bulat sekal dan menonjol. Makin salah tingkahlah si Vani. Mau balik ke kampus, pasti sudah gelap dan orang sudah pada pulang. Mau tetap di halte nungguin angkot, gerah suasananya. Apalagi kalo naik bus yang pasti penuh sesak jam segini, Vani tidak kebayang tangan-tangan usil yang akan cari-cari kesempatan untuk menjamahi tubuhnya. Sudah kepikiran untuk naik taxy, tapi uang tidak ada. Jam segini di kos juga kosong, mau pinjam uang sama siapa bingung. Vani coba alternatif terakhir dengan menelpon Albert cowoknya atau si Angel atau Dessy teman2nya yang punya mobil, eh sialnya HP mereka pada off. ”Buset, sial banget sih gue hari ini.” Mulailah celetukan mesum cowok-cowok di halte dimulai ”Neng, susunya mau jatuh tuh, abang pegangin ya. Kasihan, pasti eneng keberatan hehe”. Pias! Memerahlah muka Vani. Dipelototin si tukang ojek yang berani komentar, eh dianya malah balas makin pelototin toked si Vani. Makin jengahlah si Vani.
Tiba-tiba sebuah sedan BMW hitam berhenti tepat di depan Vani. Jendelanya terbuka, dan nongolah seraut wajah hitam manis berambut cepak sambil menyeringai, si Ethan. Cowok fakultas Ekonomi satu tahun di atas Vani, berkulit hitam, tinggi besar, hampir 180cm. ”Van, jualan lo disini? Hehe”. Vani membalas ”Sialan lo, gue ga ada tumpangan neh, terpaksa tunggu bus. Than, anter gue ya” pinta Vani. Vani sebenarnya enggan ikut bersama si Ethan karena dia terkenal suka main cewek. Tapi, dilihat dari kondisi sekarang, paling baik memang naik mobil si Ethan. Tapi si Ethan malah bilang ”Wah sory Van, gue harus pergi jemput nyokap gue. Arahnya beda sama kosan elo”. ”Than, please anter gue ya. Ntar gw traktir deh lo” rajuk Vani. Sambil nyengir mesum Ethan berucap ”Wah kalo ada bayarannya sih gue bisa pertimbangin”. ”Iya deh, ntar gue bayar” Vani asal ucap, yang penting bisa pergi segera dari halte tersebut. ”Hehe sip” kata Ethan sambil membuka pintu untuk Vani. Vani masuk ke dalam mobil Ethan, diiringi oleh pandangan sebel para cowok-cowok di halte yang kehilangan santapan rohani.
Mobil Ethan mulai menembus kemacetan ibu kota. ”Buset dah lo Van, sexy amat hari ini”. Kata Vani ”Gue sengaja pake uniform andalan gue, karena hari ini ada ujian lisannya si Hutabarat, Akuntasi Biaya. Biar dia ga konsen, n kasi gw nilai bagus hehe”. ”Gila lo, gue biarin bentar lagi, lo udh dient*tin sama tu abang-abang di halte haha” balas Ethan. “Sial, enak aja lo ngomong Than” maki Vani.
Sambil mengerling ke Vani, Ethan berucap “Van, bayaran tumpangan ini, bayar sekarang aja ya”. ”Eh, gue bawa duit cuma dikit Than. Kapan2 deh gue bayarin bensin lo” balas Vani. “Sapa yang minta diduitin bensin, Non” jawab Ethan. “Trus lo mau apa? Traktir makan” tanya Vani bingung. “Ga. Ga perlu keluar duit kok. Tenang aja” ucap Ethan misterius. Semakin bingung si Vani. Sambil menggerak-gerakan tangan kirinya si Ethan berkata ”Cukup lo puasin tangan kiri gue ini dengan megangin toked lo. Nepsong banget gue liatnya”. Seringai mesum Ethan menghiasi wajahnya. Seperti disambar petir Vani kaget dan berteriak ”BANGSAT LO THAN. LO PIKIR GUE CEWE APAAN!!”. Pandangan tajam Vani pada wajah Ethan yang tetap cengar-cengir. “Yah terserah lo. Cuma sekenyot dua kenyot doang. Apa lo gue turunin disini” kata Ethan. Pada saat itu mereka telah sampai di daerah yang gelap dan banyak gubuk gelandangan. Vani jelas ogah. “Bisa makin runyam kalo gue turun disini. Bisa2 gue digangbang” Vani bergidik sambil melihat sekitarnya. ”Ya biarlah si Ethan bisa seneng-seneng bentar nggranyangi toked gue. Itung-itung amal. Kampret juga si Ethan ini”. Akhirnya Vani ngomong ”Ya udah, cuma pegang susu gue doang kan. Jangan lama-lama” Vani ketus. ”Ga kok Van, cuma sampe kos lo doang” kata Ethan penuh kemenangan. ”Sialan, itu sih bisa setengah jam sendiri. Ya udhlah, biar cepet beres nih urusan sialan” pikir Vani.
Tangan kiri Ethan langsung terjulur meraih toked Vani sebelah kanan bagian atas yang menonjol dari balik t-shirtnya. Vani merasakan jari-jari kasar Ethan dikulit tokednya mulai membelai-belai pelan. Darah Vani agak berdesir ketika merasakan belaian itu mulai disertai remasan-remasan lembut pada toked kanan bagian atasnya. Sambil tetap menyetir, Ethan sesekali melirik ke sebelah menikmati muka Vani yang menegang karena sebal tokednya diremas-remas. Ethan sengaja jalanin mobil agak pelan, sementara Vani tidak sadar kalau laju mobil tidak secepat sebelumnya, karena konsen ke tangan Ethan yang mulai meremas-remas aktif secara bergiliran kedua bongkahan tokednya. Nafas Vani mulai agak memburu, tapi Vani masih bisa mengontrol pengaruh remasan-remasan tokednya pada nafsunya ”Enak aja kalo gue sampe terangsang gara-gara ini” pikir Vani. Tapi Ethan lebih jago lagi, tiba-tiba jari-jarinya menyelusup kedalam t-shirt Vani, bahkan langsung masuk kedalam BH-nya yg satu ukuran lebih kecil. Toked Vani yang sebelah kanan terasa begitu penuh di telapak tangan Ethan yang sebenarnya lebar juga. ”Ahh...!” Vani terpekik kaget karena manuver Ethan. ”Hehe buset toked lo Van, gede banget. Kenyal lagi. Enak banget ngeremesinnya. Tangan gue aja ga cukup neh hehe” ujar Ethan penuh nafsu. Ethan melanjutkan gerakannya dengan menarik tangan kirinya beserta toked Vani keluar dari BH-nya. Toked sebelah kanan Vani kini nongol keluar dari wadahnya dan terekspos full. ”Wuah..buset gedenya. Pentilnya juga gede neh. Sering diisep ya Van” kata Ethan vulgar. ”Bangsat lo Than. Kok sampe gini segala” protes Vani berusaha mengembalikan tokednya kedalam BH-nya. Tangan Vani langsung ditahan oleh Ethan ”Eh, inget janji lo. Gue boleh ngremesin toked lo. Mo didalam BH kek, di luar kek, terserah gue”. Sambil cemberut Vani menurunkan tangannya. Penuh kemenangan, Ethan kembali menggarap toked Vani yang kini keluar semuanya. Remasan-remasan lembut di pangkal toked, dilanjutkan dengan belaian memutar disekitar puting, membuat Vani semakin kehilangan kendali. Nafasnya mulai memburu lagi. Apalagi Ethan mulai memelintir-melintir puting Vani yang besar dan berwarna pink. Gerakan memilin-milin puting oleh jari-jari Ethan yang kasar memberikan sensasi geli dan nikmat yang mulai menjalari toked Vani. Perasaan nikmat itu mulai muncul juga disekitar selangkangan. Perasaan geli dan getaran-getara nikmat mulai menjalar dari bawah puser menuju ujung selangkangan Vani. ”Ngehek nih cowok. Puting gue itu tempat paling sensitif gue. Harus bisa nahan!” membatin si Vani.
Tapi puting Vani yang mulai menegang dan membesar tidak bisa menipu Ethan yang berpengalaman. ”Hehe mulai horny juga nih lonte. Rasain lo” pikir Ethan kesenangan. Karena berusaha menahan gairah yang semakin memuncak, Vani tidak sadar kalau Ethan sudah mengeluarkan kedua bongkah tokednya. Tangan kiri Ethan semakin ganas meremas-remas toked dan memilin-milih kedua puting Vani. Ucapan-ucapan mesum pun mulai mengalir dari Ethan “Nikmatin aja Van, remasan-remasan gue. Puting lo aja udh mulai ngaceng tuh. Ga usah ditahan birahi lo. Biarin aja mengalir. memiaw lo pasti udah mulai basah sekarang”. Vani sebal mendengar ucapan-ucapan vulgar Ethan, tapi pada saat yang sama ucapan-ucapan tersebut seperti menghipnotis Vani untuk mengikuti libidonya yang semakin memuncak. Vani juga mulai merasakan bahwa celana dalamnya mulai lembab. “Sial..memiaw gue mulai gatel. Gue biarin keluar dulu kali, biar gue bisa jadi agak tenangan. Jadi habis itu, gue bisa nanganin birahi gue walopun si Ethan masih ngremesin toked gue” pikir Vani yang mulai susah menahan birahinya. Berpikir seperti itu, Vani melonggarkan pertahanannya, membiarkan rasa gatal yang mulai menjalari memiawnya menguat. Efeknya langsung terasa. Semakin Ethan mengobok-ngobok tokednya, rasa gatal di memiaw Vani semakin memuncak. “BUSETT. Cuma diremes-remes toked gue, gue udah mo keluar”. Vani menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah, ketika kenikmatan semakin menggila di bibir memiawnya. Ethan yang sudah memperhatikan dari tadi bahwa Vani terbawa oleh birahinya, semakin semangat menggarap toked Vani. Ketika melihat urat leher Vani menegang tanda menahan rasa yang akan meledak di bawahnya, jari telunjuk dan jempol Ethan menjepit kedua puting Vani dan menarik agak keras kedepan. Rasa sakit mendadak di putingnya, membawa efek besar pada rasa gatal yang memuncak di memiaw Vani. Kedua tangan Vani meremas jok kuat-kuat, dan keluar lenguhan tertahan Vani “Hmmmffhhhhhhh….”. Pada saat itu, memiaw Vani langsung banjir oleh cairan pejunya. Pantat Vani mengangkat dan tergoyang-goyang tidak kuat menahan arus orgasmenya. “Oh..oh..hmmffhh” Vani masih berusaha menahan agar suaranya tidak keluar semua, tapi sia-sia saja. Karena Ethan sudah melihat bagaimana Vani orgasme, keenakan karena tokednya dipermainkan. “Hahaha dasar lonte lo Van. Sok ga suka. Tapi keluarnya sampe kelonjotan gitu” Ngakak Ethan penuh kemenangan. Nafas Vani masih tidak beraturan, dan agak terbungkuk-bungkuk karena nikmatnya gelombang orgasme barusan. “Kampret lo Than” maki Vani perlahan. “Lo boleh seneng sekarang. Tapi berikut ga bakalan gue keluar lagi. Gue udah ga horny lagi” tambah Vani yang berpikir setelah dipuasin sekali maka libidonya akan turun. Tapi, ternyata inilah kesalahan terbesarnya. Beberapa saat setelah memiawnya merasakan orgasme sekali, sekarang malah semakin berkedut-kedut, makin gatal rasanya ingin digesek-gesek. ”Lho, kok memiaw gue makin gatel. Berkedut-kedut lagi. Aduuuh..gue pengen memiaw gue ditongkolin sekaraangg..siaall..” sesal Vani dalam hati. Ethan seperti tahu apa yang berkecamuk dalam diri (dan memiaw) Vani. Walaupun Vani bilang dia tidak horny lagi, tapi nafasnya yang memburu dan putingnya yang semakin ngaceng mengatakan lain. Ethan menghentikan mobilnya mendadak di pinggir jalan bersemak yang memang sangat sepi, dan tangannya langsung bergerak ke setelan kursi Vani.

Tangan satunya langsung menekan kursi Vani agar tertidur. Vani yang masih memakai seatbealt, langsung ikut terlentang bersama kursi. ”EEHHH...APA-APAAN LO THAN??” Teriak Vani. Tidak peduli teriakan Vani, tangan kiri Ethan langsung meremas toked Vani lagi, sedang tangan kanannya langsung meremas memiaw Vani. ”OOUUHHHH..........!!” lenguh Vani keras, karena tidak menyangka memiawnya yang semakin gatel dan berkedut-kedut keras akan langsung merasakan gesekan, bahkan remasan. Akibatnya, Vani langsung orgasme untuk kedua kalinya. Ethan tidak tinggal diam, ketika badan Vani masih mengejang-ngejang, jari-jarinya menggesek-gesek permukaan celana dalam Vani kuat-kuat. Akibatnya, gelombang orgasme Vani terjadi terus-menerus. ”Oouuuhh...Aghhhh...Ouhhhhhhhhhh Ethaannnnn...!! Teriak Vani makin keras karena kenikmatan mendadak yang menyerang seluruh selangkangan dan tubuhnya. Kedua tangan Vani semakin kuat meremas jok, mata memejam erat dan urat-urat leher menonjol akibat kenikmatan yang melandanya. Ketika gelombang orgasme mulai berlalu, Vani mulai membuka matanya dan mengatur pernafasannya. Rasanya jengah banget karena keluar begitu hebatnya di depan si Ethan. ”Aseem, napa gue keluar sampe kaya gitu sih. Bikin tengsin aja. Tapi, emang enak banget. Udah semingguan gue ga ngent*t” batin Vani. Saat Vani masih enjoy rasa nikmat yang masih tersisa, Ethan sudah bergerak di atas Vani, mengangkat t-shirt Vani serta menurunkan BH-nya kekecilan sehingga toked Vani yang bulat besar terpampang jelas di depan hidung Ethan. Tersenyum puas dan napsu banget Ethan berucap ”Gilaa..toked lo Van. Gede banget, mengkal lagi. Harus gue puas-puasin ngenyotinnya ni malem”. Ethan langsung menyergap kedua toked Vani yang putingnya masih mengacung tegak. Mulutnya mengenyot toked yang sebelah kanan, sambil tangan kanannya meremas-remas & memilin-milin puting yang sebelah kiri. Diisap-isap, lidah Ethan juga piawai menjilat-jilat dan memainkan kedua puting Vani. Gigitan-gigitan kecil dipadu remasan-remasan gemas jemari Ethan, membuat Vani terpekik ”Ehhgghh ahh.. ahh.. Ehhtanhnn.. kahtanya.. kahtanya cuma pegang-pegang..kok.. kok sekarangg.. loh ngeyotin tohked guehh...ahh..ahh..” kata Vani sambil tersengal-sengal nahan birahi yang naik lagi akibat rangsangan intensif di kedua tokednya. Ethan sudah tidak ambil pusing ”Hajar bleh. Kapan lagi gue bisa nikmatin toked kaya gini bagusnya”. Sekarang kedua tangan Ethan menekan kedua toked Vani ketengah, sehingga kedua putingnya saling mendekat. Kedua puting Vani langsung dikenyot, dihisap & dimainin oleh lidah Ethan. Sensasinya luar biasa, Vani semakin terhanyut oleh birahinya. Desahan pelan tertahan mulai keluar dari bibir ranum Vani. Lidah Ethan mulai turun menyusuri perut Vani yang putih rata, berputar-putar sejenak di pusernya. Tangan kanan Ethan aktif membelai-belai dan meremas paha bagian dalam Vani. ”Aah..ah.. emhh.. emh..Than.. lo ngapahin sihh..” keluh Vani tak jelas. Dengan sigap Ethan menyingkap rok mini Vani tinggi-tinggi. Memperlihatkan mini panty La Senza Vani berwarna merah. Agak transparan, dibantu cahaya lampu jalan samar-samar memperlihatkan isinya yang menggembung montok. Jembi Vani yang tipis terlihat hanya diatas saja, dengan alur jembi ke arah pusernya. ”Buseett..sexxyy bangett.. bikin konak gue ampir ga ketahan.” syukur Ethan dalam hati. Tanpa babibu lagi jari-jari Ethan langsung menekan belahan memiaw Vani, dan Ethan langsung mengetahui betapa horny-nya Vani ”Wah Van, memiaw lo udah becek banget neh. Panty lo aja ampe njeplak gini hehe”. Vani cuma bisa menggeleng-geleng lemah, sambil tetap menggigit bibir bawahnya, karena jemari Ethan menenekan dan menggesek-gesek memiawnya dari atas panty. ”Thaan..than..singkirinn tangan lo doong....emh..emh..” keluh Vani perlahan, tapi matanya memejam dan gelengannya semakin cepat. ”Wah, harus cepat gw beri teknik lidah gue neh, biar si Vani makin konak hehe” pikir Ethan napsu. Cepat Ethan ambil posisi di depan selangkangan Vani yang terbuka. Kursi Vani dimundurkan agar beri ruang cukup untuk manuver barunya. Paha Vani dibuka semakin lebar, dan Vani nurut saja. Jemari Ethan meraup panty mungil Vani, dan membejeknya jadi bentuk seperti seutas tali sehingga masuk kedalam belahan memiaw Vani. Ethan mulai menggesek-gesekkan panty Vani ke belahan memiawnya dengan gerakan naik turun dan kiri kanan yang semakin cepat. ”Aah.. aahh...ehmm..ehhmm.. uuh.. hapaan itu Etthann ahh...” desah Vani keenakan, karena gesekan panty tersebut menggesek-gesek bibir dalam memiawnya sekaligus clitorisnya. Ethan juga semakin konak melihat memiaw Vani yang terpampang jelas. Dua gundukan tembem seperti bakpau, mulus tanpa ada jembi di sekelilingnya, cuma ada dibagian atasnya saja. ”Van, memiaw lo ternyata mantap & montok banget. Pasti enak kalo gue makan neh. Apalagi sampe gue genjot nanti hehe” ujar Ethan penuh nafsu. Panty Vani dipinggirkan sehingga lidah Ethan dengan mudah mulai menjilati bibir memiaw Vani. Tapi sebentar saja Ethan tidak betah dengan panty yang mengesek pipinya. Langsung diangkatnya pantat Vani, dan dipelorotkan panty-nya. Kini antara Ethan dan memiaw Vani yang tembem dan mulus, sudah tidak ada penghalang apa-apa lagi. Ethan langsung menyosorkan mulutnya untuk mulai melumat bakpao montok itu. Tapi, Vani yang tiba-tiba memperoleh kesadarannya, karena ada jeda sesaat ketika Ethan melepaskan pantynya, berusaha menahan kepala Ethan dengan kedua tanggannya. ”Gila lo Than, mo ngapain lo?? Jangan kurang ajar ya. Bukan gini perjanjian kita!” ujar Vani agak keras. Tapi kedua tangan Vani dengan mudah disingkirkan oleh tangan kiri Ethan, dan tanpa dapat dicegah lagi mulut Ethan langsung mencaplok memiaw Vani. Ethan melumatnya dengan gemas, sambil sekali lidah menyapu-nyapu clitoris dan menusuk-nusuk kedalam memiaw. Bunyi kecipakan ludah dan peju Vani terdengar jelas. Konak Vani yang sempat turun, langsung naik lagi ke voltase tinggi. Kepala Vani mengangkat dan dari bibirnya yang sexy keluar lenguhan agak keras ”Ouuuffhhh....eeahh...ah..ah lo apain mehmmek gue Thann..” erang Vani nyaris setengah sadar. Rasa gatal yang hebat menyeruak dari sekitar selangkangannya menuju bibir-bibir memiawnya. Rasa gatal itu mendapatkan pemuasannya dari lumatan bibir, jilatan lidah dan gigitan kecil Ethan. Tapi, semakin Ethan beringas mengobok-obok memiaw Vani dengan mulut, dibantu dengan ketiga jarinya yang mengocok lubang memiaw Vani, rasa gatal nikmat itu malah semakin hebat. Vani sudah tidak dapat membendung konaknya sehingga desahan dan erangannya sudah berubah menjadi lenguhan ” OUUHHHHG..... HMMPPHH... ARRGGHH.. HAHHH.. OUHHH..”. Kepala Vani menggeleng ke kiri dan kanan dengan hebatnya. Kedua tangannya menekan kepala Ethan semakin dalam ke selangkangannya. Pantatnya naik turun tidak kuat menahan rangsangan yang langsung menyentuh titik tersensitif Vani. Rasa ogah & jaim sudah hilang sama sekali. Yang ada hanya kebutuhan untuk dipuaskan. ”ETHAANN...GILLAA... HOUUUHHH.. ENAAKK.... THANN...AHHH” Vani semakin keenakan. Ethan yang sedang mengobok-obok memiaw Vani semakin semangat karena memiaw Vani sudah betul-betul banjir. Peju dan cairan pelumas Vani membanjir di mulut dan jok mobil Ethan. Jempol kiri Ethan menggesek-gesek clitoris Vani, sedang jari-jari Ethan mengocok-ngocok lubang memiaw dan G-spot Vani dengan cepat. ”Heh, ternyata lo lonte juga ya Van. Mulut lo bilang nggak-nggak mulu. Tapi memiaw lo banjir kaya gini. Becek banget” kata Ethan dengan semangat sambil tetap ngocok memiaw Vani. Dalam beberapa kocokan saja Vani sudah mulai merasakan bahwan gelombang orgasme sudah diujung memiawnya. Ketika Ethan melihat mata Vani yang mulai merem melek, otot-otot tangan mulai mengejang sambil meremas jok mobil kuat-kuat dan pantat Vani yang mulai mengangkat, Ethan tau bahwa Vani akan sampai klimaksnya. Langsung saja Ethan menghentikan seluruh aktivitasnya di wilayah selangkangan Vani. Vani jelas saja langsung blingsatan ” Ah..ah napa brentii...” sambil tangannya mencoba mengocok memiawnya sendiri. Ethan dengan tanggap menangkap tangan Vani, dan berujar ”Lo mau dituntasin?”. Vani merajuk ”Hiyah.. Than.. gue udah konak banggett nih. Pleasee.. kocokin lagi gue ya”. “Kalo gitu lo nungging sekarang” kata Ethan sambil menidurkan kursi sopir agar lebih lapang lagi dan ada pijakan buat Vani nungging. “Napa harus nungging Than” Vani masih merajuk dan tangannya masih berusaha untuk menjamah memiawnya sendiri. “Ayo, jangan bantah lagi” kata Ethan sambil mengangkat pantat Vani agar segera menungging. Vani dengan patuh menaruh kedua tangannya di jok belakang, dengan kedua lutut berada di jok depan yang sudah ditidurkan. Posisi yang sangat merangsang Ethan, demi melihat bongkahan pantat yang bulat, dan memiaw tembem yang nongol mesum di bawahnya. Cepat Ethan melepas sabuk dan celana panjangnya, lalu meloloskan celana dalamnya. Langsung saja tongkol hitam berurat sepanjang 17cm dan berdiameter 4.5cm itu melompat tegak mengacung, mengangguk-ngangguk siap untuk bertempur. Vani yang mendengar suara-suara melepas celana di belakangnya, menengok dan langsung kaget melihat tongkol Ethan sudah teracung dengan gagahnya. ”Buset, gede juga tu tongkol, hampir sama dg punya Albert” pikir Vani reflek. ”Eh, lo mo ngontolin gue Than. Enak aja!” teriak Vani dan mencoba untuk membalik badan. Tapi Ethan lebih cepat lagi langsung menindih punggung Vani, sehingga Vani harus bertelekan lagi dengan kedua sikunya ke jok belakang. Ethan menggerakkan maju mundur pantatnya sehingga tongkolnya yang ngaceng, menggesek-gesek bibir memiaw Vani. ”Sshh...Than...mmhh.. jangan macem-macem lo ya!” ujar Vani masih berupaya galak, tidak mau dikent*t oleh Ethan. Kedua tangan Ethan meraih kedua toked besar Vani yang menggantung dan meremas-remasnya dengan ganas. Sambil menciumi dan menggigit tengkuk Vani, Ethan berkata ”Udah deh, lo ga usah sok ga doyan tongkol gitu. Kan lo yang mau dituntasin. Ini gue tuntasin sekalian dengan tongkol gue. Lebih mantep timbang cuma jari & lidah hehe”. Remasan & pilinan di kedua toket dan serbuan di tengkuk dan telinga membuat gairah Vani mulai naik lagi. Nafas Vani mulai memburu. Tapi Vani masih mencoba untuk bertahan. Namun, gesekan tongkol yang makin intense di bibir memiaw Vani, betul-betul membuat pertahanan Vani makin goyah. Kepalanya mulai terasa ringan, dan rasa gatal kembali menyerang memiawnya dengan hebat. ”Hmffh...shh...awas lo Than kalo sampe hhemm.. sampe berani masukin tongkol lo, lo bakal gue..hmff..gue....OUUHHHHH” omongan Vani terputus lenguhannya, karena tiba-tiba Ethan mengarahkan pal-kon nya ke lubang memiaw Vani yang sudah basah kuyup dan langsung mendorongnya masuk, hingga kepala tongkol Ethan yang besar kaya jamur merah amblas dalam memiaw tembem Vani, sehingga ada peju Vani yang muncrat keluar. ”Hah..hah...shhh...brengsek lo Ethannn. tongkol lo...tongkol lo...itu mo masuk ke memiaw guee...” erang Vani kebingungan, antara gengsi dan birahi. Ethan diam saja, tapi memajukan lagi pantatnya sehingga tongkolnya yang besar masuk sekitar 2 cm lagi, tapi kemudian ditarik perlahan keluar lagi sambil membawa cairan pelumas memiaw Vani. Sekarang pantat Ethan maju mundur perlahan, mengocok memiaw Vani tapi tidak dalam-dalam, hanya dengan pal-konnya aja. Tapi, hal ini malah membuat Vani blingsatan, keenakan. ”HMFPHH....HEEMMFFHH...SSHH AAHH...Ethannn tongkol lo... tongkol lo... ngocokin memiaw guee....hhmmmff”. Rasa gatal yang mengumpul di memiaw Vani, serasa digaruk-garuk dengan enaknya. Vani yang semula tidak mau ditongkolin, jadi kepengen dikocok terus oleh tongkol Ethan. Kata Ethan ”Jadi mau lo gimana? Gue stop neh”. Ethan langsung mencabut tongkolnya, dan hanya menggesek-gesekkan di bibir memiaw Vani. ”Ethaan...pleasee.. kent*t gue. Masukin tongkol lo ke memiaw gue. Gue udah ga tahan gatelnya..gue pengen dikenttooott!!!” rengek Vani sambil menggoyang-goyangkua pinggulnya, berusaha memundurkan pantatnya agar tongkol Ethan yang dibibir memiawnya bisa masuk lagi. ”Hahahaha sudah gue duga, elo emang lonte horny Van. Dari tampang & body elo aja gue tau, kalo elo itu haus tongkol” tawa Ethan penuh kemenangan. ”Ayo buka paha lebih lebar lagi” perintah Ethan. Vani langsung menurutinya, membuka pahanya lebih lebar sehingga memiawnya makin terpampang. Ethan tanpa tedeng aling-aling langsung menusukkan tongkolnya kuat-kuat ke memiaw Vani. Dan...BLESHH...seluruh tongkol hitam itu ditelan oleh memiaw montok Vani. Air peju Vani terciprat keluar akibat tekanan tiba-tiba benda tumpul besar. ”AUUGGHHHH............!!!” pekik Vani yang kaget dan kesakitan. ”Hehehe gimana rasa tongkol gue Van” kekeh Ethan yang sedang menikmati hangat dan basahnya memiaw Vani. Vani masih shock dan agak tersengal-sengal berusaha menyesuaikan diri dengan benda besar yang sekarang menyesaki liang memiawnya. ”Buseet..tebel banget nih tongkol. memiaw gue penuh banget, keganjel. Mo buka paha lebih lebar lagi udah ga bisa.. mhhmff” erang Vani dalam hati. Karena Vani diam saja, hanya nafasnya saja yang terdengar memburu, Ethan mulai menarik keluar tongkolnya sampai setengahnya, kemudian mendorongnya masuk lagi. Demikian terus menerus dengan ritme yang tepat. ”Hehh..heh...mmm legit banget memiaw lo Vannn..” desah Ethan keenakan ngent*tin memiaw Vani yang peret tapi basah itu. Hanya butuh tiga kocokan, Vani mulai didera rasa konak dan kenikmatan yang luar biasa. Menjalari seluruh tangan, pundak, tokednya, sampai selangkangan dan seluruh memiawnya. Rasa gatal yang sangat digemari oleh Vani seperti mengumpul dan menjadi berkali lipat gatalnya di memiaw Vani. Vani sudah tidak mendesah lagi, tapi melenguh dengan hebat. Hilang sudah gengsi, tinggal rasa konak yang dahsyat. ”UUHHHHH..... UHHH...... OUUHHGGGG... ENNAAKKNYAA...”. ”OH GODD......memiaw GUE.. memiaw GUE..” Vani terbata-bata disela lenguhannya yang memenuhi mobil..”memiaw GUE..GATELLL BANGETT....KENTTOOTTT GUE TTHANN...ARGGHH...” lenguhan Vani semakin keras dan omongan vulgar keluar semua dari bibir sexy-nya. Kepalan tangan Vani menggegam keras, kepalanya menggeleng semakin cepat, pinggulnya bergerak heboh berusaha menikmati seluruh tongkol Ethan. Ethan pun terbawa napsunya yang sudah diubun-ubun. Tangannya meremas-remas toked Vani tanpa henti dengan kasarnya, dan Ethan sudah tidak menciumi pundak & tengkuk Vani, melainkan menggigitnya meninggalkan bekas-bekas merah. Pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang berantakan, cepat lalu perlahan, kemudian cepat lagi, membuat tongkol Ethan mengocok memiaw Vani seperti kesetanan. Bunyi pejuh Vani yang semakin membanjir menambah nafsu mereka berdua semakin menggila. SLEPP..SLEPP..SLEPP..PLAK..PLAK...suara tongkol yang keluar masuk memiaw dan benturan pantat Vani dengan pangkal tongkol Ethan terdengar di sela-sela lenguhan Vani & Ethan. Tak sampai 10 menit Vani merasakan aliran darah seluruh tubuhnya mengalir ke memiawnya. Rasa gatal sepertinya meruncing dan semakin memuncak di tempat-tempat yang dikocok oleh tongkol Ethan. ”GUEE KELUAARRRR THANNN......OUUUHHHHHHHHH....AHHHHHHH...” teriak Vani melampiaskan rasa nikmat yang tiba-tiba meledak dari memiawnya. Ethan merasakan semburan hangat pada tongkolnya dari dalam memiaw Vani. Karena Ethan tetap mengocokkan tongkolnya, bahkan lebih cepat ketika Vani mencapai klimaksnya, Vani bukan saja dilanda satu orgasme, melainkan beberapa orgasme sekaligus bertubi-tubi. ”OAHHH...OHHH....UUUHH..KOK..KOK.. KLUAR TERUSSS NIIIHHH...” erang Vani dalam klimaksnya yang berkali-kali sekaligus. Hal ini membuat Vani berada dalam kondisi extacy dalam 30 detik lamanya. Badan Vani berkelonjotan, air pejunya muncrat keluar dari dalam memiawnya. ”Gilaa..enak bener than... gue sampe keluar berkali-kali” ujar Vani agak bergetar karena Ethan masih dengan nafsunya mompain memiaw Vani. ”Hehehe demen banget liat lo keluar kaya gitu Van. Betul-betul nafsuin. Tapi ini baru setengah jalan. Gue bikin lo lebih kelonjotan lagi. Gue kent*t lo sampai peju lo keluar semua” kata Ethan. Vani hanya bisa merutuk dalam hati, karena memang dia merasa keenakan dient*t Ethan dengan cara sekasar itu. Kemudian Ethan membalik tubuh Vani agar terlentang dan bersandar di jok belakang. Kedua kaki Vani diangkat dan mengangkang lebar sehingga Ethan bisa dengan jelas melihat memiaw Vani yang chubby itu berleleran dengan peju Vani. ”Than, udahan dulu ya. Gue lemes banget” Vani terengah-engah minta time-out. Tapi bukan Ethan namanya kalo nurutin kemauan si cewek. Bagi Ethan, si cewek harus digenjot terus sampai betul-betul lemes, baru disitu si cewek dapat klimaksnya yang paling hebat. Tidak pedulian rengekan Vani, Ethan langsung mengarahkan tongkolnya ke memiaw Vani yang menganga, dan langsung BLEESHH..!! Dengan mudahnya memiaw Vani menelan tongkol Ethan. ”Hmmffpp..sshiitt..” Vani cuma bisa mengumpat perlahan karena tiba-tiba saja (lagi) tongkol Ethan sudah amblas kedalam memiawnya. Ethan langsung menggenjot Vani dengan kecepatan tinggi. SLLEPP...SLEEPP... SLLEPPP...SLEPP.... tongkol Ethan keluar masuk memiaw Vani dengan cepat. Vani yang sudah lemes dan kehabisa energy, tiba-tiba mulai merasakan sensasi horny lagi. ”Oh shit.. gue kok horny lagi. Lagi-lagi memiaw gue minta digaruk shhhh..” mengumpat Vani dalam hati. Ethan yang kini berhadapan dengan Vani, bisa melihat perubahan mimik muka Vani yang dari lemes dan ogah-ogahan, menjadi mimik orang keenakan dan horny abis. ”Hehehe gue kata juga apa. Elo memang harus dikent*t terus, dasar memiaw lonte” ujar Ethan sambil terus memompa memiaw Vani. Kedua tangan Ethan kini bertelekan di toked Vani, dan meremasnya seperti meremas balon. ”AAHH...AHH...AHH..EEMMPPHH....EKKHH....” erang Vani yang merem melek keenakan dient*t. Kali ini tidak sampai 5 menit, seluruh otot tubuh Vani sudah mengejang. Kedua tangan Vani memeluk dan mencakar punggung Ethan kuat-kuat. Lenguhan yang keluar dari mulut Vani semakin keras ”HOUUUHH....HOOOHH....UUUGGHHH...ENNAAKKKKK..TERUSSS THANN.... GENJOTTT TERUSS.... GUE AMPIIRR NEEHHH........”. ”Woe, lonte, lo udah mo kluar lagi? Tunggu gue napa” damprat Ethan tapi tetapi malah mempercepat genjotannya. Tanpa dapat dihalangi lagi, memiaw Vani kembali berkedut-kedut keras dan meremas-remas tongkol Ethan yang berada didalamnya. Diiringi pekikan keras, Vani mencapai klimaksnya yang kesekian ”AAGGGHHHHHHHHHHHHH....................GUE KLUUAARRR ........”. Vani merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa itu lagi, dan seluruh tulangnya serasa diloloskan. ”Hhhh.....enak bangetttttt. Lemes banget gue” membatin si Vani. Melihat Vani yang sudah keluar lagi, kali si Ethan agak kesal karena dia sebenernya juga sudah hampir keluar. Tapi kalo si cewek sudah nggak binal lagi, si Ethan merasa kurang puas. ”Sialan, lo Van. Main kluar aja lo. Kalo gitu gue ent*t diluar aja lo. Di sini sempit banget”. Maka Ethan langsung membuka pintu mobil, keluar dan menarik Vani keluar. ”Eh..eh.. apa-apaan ni Than. Gue mo dibawa kemana?” tanya Vani lemes. “Kaki gue lemes banget Than, susah banget berdiri” tambah Vani. Ethan langsung bopong Vani keluar dari mobil. Langsung dibawa kedepan mobil. Lantas badan Vani ditenkurapkan di kap depan BMW-nya. Posisinya betul-betul merangsang. Pinggang ke atas tengkuran di kap mobil, dengan kedua tangan terpentang. Kedua kaki Vani yang lemes menjejak tanah, dibuka lebar-lebar pahanya oleh Ethan. Vani jengah sekali karena kini dia bugil di tempat terbuka. Siapa saja bisa melihat mereka. ”Than, balik dalam lagi aja yuk” ujar Vani sambil berupaya berdiri. Tapi dengan kuatnya tangan Ethan menahan punggung Vani agar tetap tengkurap di kap mobil, sehinggu pantatnya tetap nungging. ”Kan gue udah bilang, gue bakal kent*tin lo sampai habis peju lo Van” ujar Ethan yang nafsunya makin berkobar melihat posisi Vani. Hawa dingin malam malah membuat Ethan merasa energinya kembali lagi. Kedua tangan Ethan meremas bongkahan semok pantat Vani, dan membukanya sehingga memiaw Vani yang masih berleleran peju ikut membuka. Ethan langsung melesakkan tongkolnya dalam-dalam ke memiaw Vani. ”AHHHH...” pekik Vani tertahan. Kali ini Ethan betul-betul seperti kesetanan. Tidak ada gigi 1, atau 2, bahkan 3. Langsung ke gigi 4 dan 5. Genjotan maju mundurnya dilakukannya sangat cepat, dan ketika menusukkan tongkolnya dilakukan dengan penuh tenaga. PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK..bunyi pantat Vani yang beradu dengan badan Ethan semakin keras terdengar. ”GILAA...ENAKKK BANGET NIH memiawKK.....” Ethan mengerang keenakan. Tangannya mencengkram pantat Vani kuat-kuat, dan kepala Ethan mendongak ke atas, keenakan. Vani yang mula-mula kesakitan, mulai terangsang lagi. Entah karena kocokan Ethan, atau karena sensasi ngent*t di areal terbuka seperti ini. Perasaan seperti dilihat orang, membuat memiaw Vani berkedut-kedut dan gatel lagi. Maka lenguhannya pun kembali terdengar ”OUUHHH....HHHMMFFPPPPP....OHHH..UOOHH...ENAK..ENAK..ENAAKKK....” Vani meceracau. Mendengar lenguhan Vani, Ethan tambah nafsu lagi ”Ooo.. lo demen ya dikent*t kasar gini ya Van..Gue tambahin lagi kalo gitu” kata Ethan dengan nafas memburu. Jari-jari Ethan tetap mencengkram bongkahan montok pantat Vani, tapi bedanya kedua jari jempolnya dilesakkan kedalam lubang pantatnya. Dan digerakkan berputar-putar didalamnya. Lubang pantat Vani adalah juga merupakan titik sensitif bagi Vani, sehingga mendatangkan sensasi baru lagi. Apalagi 2 jari jempol yang langsung mengobok-oboknya. Vani makin blingsatan dan makin heboh lenguhannya ”GILAA LO THAN...UUHHHHHH.. UHH..UHH.. OUUUUUUHHHHHHH.....! Vani sudah tidak bisa berkata-kata lagi, cuma lenguhan yang kluar dari mulutnya. Ethan tidak sadar bahwa setelah hampir 10 menit mengocok Vani dari belakang, Vani sudah dua kali keluar lagi. Vani yang sudah agak lewat sensasi orgasmenya, mulai menyadari bahwa gerakan Ethan mulai tidak beraturan dan tongkolnya jadi membesar. ”Oh shit, Ethan mo kluar. Pasti dia pengen nyemprot dalam memiaw gue. Harus gue cegah” pikir Vani panik. Tapi, pikiran tinggal pikiran. Badan Vani tidak mau diajak kerja sama. Mulutnya meneriakkan ”THAAN, JANGAN NGECRET DIDALLAMM....PLEASEE”. Tapi Ethan yang memang sudah berniat menyemprotkan pejunya dalam memiaw Vani, malah semakin semakin semangat menggenjot dalam-dalam memiaw Vani. Vani sendiri karena memiawnya semakin disesaki oleh tongkol Ethan yang membesar karena hendak ngecret, jadi terangsang lagi dan langsung hendak ngecret juga. Maka, ketika Ethan mencapai klimaksnya, tangannya mencengkram pantat Vani kuat-kuat, dan tongkolnya ditekan dalam-dalam dalam memiaw Vani, Ethan meraung ”HMMUUUUAHHHHH....AAHHHH” cairan peju hangat Ethan menyemprot berkali-kali dalam liang memiaw Vani. Vani pun bereteriak keras ” OUUUAAHHHH....GUE KELUARRRRR....” dan pejunya pun ikut muncrat lagi. Kedua mahluk lain jenis itu berkelonjotan menikmati setiap tetes peju yang mereka keluarkan. Cairan peju Ethan dan Vani berleleran keluar dari sela-sela jepitan tongkol & memiaw Vani. Banyak sekali cairan yang keluar meleleh dari memiaw Vani turun ke pahanya. Ethan puas sekali bisa menembakkan pejunya dalam memiaw cewek sesexy Vani. Apalagi si Vani ikutan keluar juga. ”Komplet dah” pikir Ethan. Karena lemas, Ethan ikut tengkurap, menindih tubuh Vani di atas kap mobil. tongkolnya yang mulai mengecil, masih dibiarkan di dalam memiaw Vani. Sedang Vani sendiri, masih memejamkan mata menikmati setiap sensasi extasy kenikmatan orgasme yang masih menjalarinya seluruh tubuhnya. Belum pernah ia ngent*t sampai keluar lebih dari 4 kali seperti ini. Apalagi sebelumnya dia sempat menolak. Rasa tengsin dan malu mulai menjalar lagi, setelah gelombang kenikmatan orgasmenya memudar. Ethan yang masih menindihnya berkata ”Hehehe enak kan. Gue demen banget ngent*t sama lo Van. Betul-betul binal & liar. memiaw lo ga ada matinya, nyemprot peju mulu” kata Ethan seenaknya. Vani cuma bisa diam dan ngedumel dalam hati. ”Udah, bangun lo. Anter gue pulang sekarang. Berlebih banget nih gue bayarnya” ujar Vani ketus. ”Heheh ok..ok gue udah dapet apa yang gue mau. Sekarang gue anter lo pulang” balas Ethan. Ethan pun bangun dari punggung Vani dan beranjak ke pintu mobil dan mulai memakai pakaian dan celananya. Tapi kemudian dia heran, kok si Vani masih tengkurapan aja di kap mobil. ”Hei, katanya mo pulang. Kok masih tengkurapan aja” tanya Ethan. Vani tidak menjawab, hanya terdenger dengusan nafas saja. Ketika Ethan menghampiri, terlihatlah betapa merahnya muka Vani, karena menahan malu. ”Than, bantuin gue bangun dong. Kaki gue lemes banget. Selangkangan gue rasanya kaya masih ada yang ngganjel” ujar Vani malu-malu. ”Hahaha...KO juga lo ya, cewe paling bahenol di kampus” tawa Ethan membahana. Bertambahlah merahlah muka si Vani. Ketika mau bopong Vani, tiba-tiba pikiran mesum Ethan keluar lagi. Dikeluarkanlah HP-nya yang berkamera. Ethan ambil beberapa shot posisi Vani yang mesum banget itu plus dua close up memiaw Vani yang berleleran peju. Karena Vani memejamkan mata untuk mengatur nafas, dia tidak sadar akan tindakan Ethan. Akhirnya Ethan kasihan juga, tubuh Vani dibopong masuk kedalam mobil. Bahkan dibantuin memakai pakaian dan roknya lagi. Tapi ketika Vani meminta panty-nya, Ethan berkata ”Ini buat gue aja. Kenang-kenangan. Lo ga usah pake aja. memiaw lo butuh udara segar kelihatannya, habis tadi gue sumpalin pake tongkol gue terus”. ”Sial lo Than. Ya udah, ambil dah sana” ketus Vani. Vani langsung tertidur di kursi mobil. Baru terbagun ketika mobil Ethan sudah sampai di depan pagar kos-kosan Vani. ”Lo bisa jalan ga Van? Kalo masih lemes, gue papah deh masuk ke kamar lo. Itung-itung ucapan terima kasih sudah mau ngent*t ama gue malam ini hehe” kata Ethan nakal. Vani tidak bisa menolak tawaran itu, karena memang dia masih merasa lemas dikedua kakinya. Maka Ethan pun memapah Vani berjalan menuju kosnya. Kamar Vani ada di lantai 2. Kamar-kamar di lantai 1 sudah pada tertutup semua. Tidak ada penghuninya yang nongkrong di luar. Diam-diam Vani merasa lega. Apa kata orang kalo dia pulang dipapah seperti ini. Kalo ga dibilang lagi mabok, bisa dibilang yang enggak-enggak lainnya. Tapi sialnya, ketika dilantai 2 mereka berpapasan dengan si Mirna yang baru dari kamar mandi. Mirna yang selama ini jealous dengan kesexy-an Vani, perhatiin Vani dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tiba-tiba si Mirna ketawa sinis ”Napa lo Van”. ”Sedikit mabok Mir” jawab Vani sekenanya. ”Mabok apa lo? Mabok peju kelihatannya” kata Mirna nyelekit sambil mandangi paha Vani. Reflek Vani nengok kebawah, betapa kagetnya Vani, karena dia baru sadar tadi belum bersihin leleran peju Ethan dan pejunya sendiri. Lelehan peju mengalir dari dalam memiaw Vani, sampai lututnya. Cukup banyak, sehingga kelihatan jelas. PIASS! Muka Vani langsung memerah. Vani langsung berpaling, sedang Mirna terkekeh senang. ”Kalo elo kelihatannya malah kekurangan peju neh. Mana ada cowo yang ikhlas kasi pejunya ke cewe kerempeng kayo elo?” tiba-tiba Ethan nyeletuk pedes. Muka Mirna berubah dari merah, kuning sampai jadi ungu. ”Heh, gue juga punya cowok yang mau ngent*t sama gue tanpa gue minta” balas Mirna ketus. ”Nah, berarti kan lo bedua sama, sama-sama butuh tongkol & pejunya. Napa saling hina. Urus aja urusan lo masing-masing, dan kenikmatan lo masing-masing. Ga usah saling sindir” tandas Ethan. Mirna langsung terdiam, dan ngloyor masuk dalam kamarnya. Vani sedikit terkejut, ga nyangka kalo si bejat Ethan bisa ngomong cerdas seperti itu. Betul-betul penyelamatnya. Setelah ditidurkan di ranjangnya Ethan pamit ”Gue cao dulu ya Van. Thks buat malam ini. Betul-betul sex yang hebat. Baru kali ini gue ngrasain. Kalo lo pengen, call gue aja ya. tongkol gue selalu siap melayani hehe”. ”Enak aja. Ini pertama dan terakhir Than. Kapok gue naik mobil lo” balas Vani pedas. Ethan cuma tartawa saja, lalu berbalik menutup pintu dan pergi. Sebenarnya Vani merasakan hal yang sama dengan Ethan, betul-betul sex yang luar biasa malam ini. Vani ragu-ragu, bila Ethan ngajak lagi, emang dia bakal langsung nolak. Kok ga yakin ya? Sialan maki Vani pada diri sendiri. Sekarang gue butuh tidur. Dalam sekejap Vani langsung terlelap, tanpa berganti pakaian.

Cerita seru Pesta Seks Dengan 3 Istri Tetangga

Aku tinggal disuatu kompleks perumahan kelas menengah di Jakarta Timur , tidak terlampau besar , kurang lebih dihuni oleh 150 keluarga kelas menengah keatas .
Hanya beda 1 jalan dari rumah , dipojokan terdapat rumah yang sangat asri yang ditempati oleh keluarga pak Juli seorang pengusaha tanggung yang kegedean lagunya . Biarin deh dia belagu terus yang penting bokinnya cing…kutilang ( kurus tinggi langsing ) , kulitnya kuning , rambutnya hitam abis dan matanya tuh…geunit pisan .
Dikompleks diantara Bapak - bapak muda pembicaraan mengenai bokinnya Pak Juli enggak pernah kering , giliran yang rumahnya ketiban arisan Ibu-ibu kompleks pastilah sang Bapak selalu stand by dirumah .
Enggak lain enggak bukan soalnya Mbak Candra begitu namanya , terkenal kalau pakai baju paling berani , pakai rok mini baju rendah belahannya dan paling sering ngongkong duduknya .
Yang lebih gile lagi kalau dia tahu sang Bapak ada dan ngelirik doi , secara sengaja dia pamerin CD nya yang sumpah jembutnya sebagian betebaran nongol keluar dari pinggiran CD-nya . Bulan lalu , rumah gue yang ketiban rejeki ngadain arisan , so pasti gue pura -pura repot bantuin bokin nyiapin segalanya , tau dong gue musti tampil keren abis , jeans Versace dan baju gombrong Guess sengaja gue lepas kancing atasnya , biar sexy katanya .
Bener aja , gue liat si Mbak Candra duduk dipojokan menghadap kamar kerja gue yang pintunya gue buka setengah aja .
Sambil menghadap komputer secara nyamping gue bisa melihat kearah ruang keluarga , khususnya kearah doi duduk . Sundel banget , doi sore itu pakai rok mini hitam kontras dengan kulitnya dan pakai baju beige yang ketat , tapi bahannya alus banget . Gue masa bodo deh denger ibu - ibu berkicau yang penting gue bisa liat terus Mbak Candra yang sesekali juga ngelirik gue , kalau bertatapan gue senyum doi juga dong . Mulailah doi buka jepitan pahanya , asli coy celana dalemnya yang krem keliatan , tengahnya keliatan item pasti karena jembutnya yang lebat , dan duile itu jembut gimana sih koq pada berurai keluar .
Tiba - tiba doi ngedipin gue , terus gue bales ngedip sambil julurin lidah , eh dia malah senyum senyum dan sambil meremin matanya seperti orang kalau lagi keasyikan di toi . Gue makin nekad , sekarang gue ngadep kedia sambil ngangkang dan secara atarktif gue usap-usap kontol gue dari luar celana ,
terus gue kasih kode supaya dia menuju kamar mandi , belagak kencing lah .
Doi ngangguk , terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi .
Gue dan doi tahu banget , dikamar mandi luar masih dipakai sama ibu Agus yang gendut dan beser melulu .
” Mas , ini ibu Candra mau numpang kekamar mandi yang disini ” bini gue dengan polos ngajakin doi kekamar mandi yang ada diruang kerja gue .
” Ya nih Pak Luki , abis kamar mandinya masih lama rasanya dipakai Ibu Agus ”
” Numpang ya , abis udah enggak tahan kebanyakan minum ” biasalah doi basa-basi biar enak dikupingnya bokin .
” Silahkan Bu , tapi enggak papa khan saya nerusin kerja dikomputer , maklum Bu belum jadi pengusaha seperti Pak Juli ”
” Ah Pak Luki bisa aja ” kata doi sambil nyelonong kekamar mandi gue . Dasar otaknya juga pinter dalam hal berselingkuh , doi buka pintu kamar mandi setengah dan bilang ” Pak Luki , ledengnya rusak ya ? ” bokin gue masih ada lagi disitu . ” Mas coba liat dulu deh , bantuin Ibu Candra , malu-maluin aja kamar mandinya ” bokin gue setengah ngomel . ” Biar dibantu sama Mas Luki ya Bu , dia yang sering pakai kamar mandi itu ” terus bokin balik lagi kekamar tengah , soalnya bokin musti tanggung jawab dong sama rakyat arisannya . Dengan belagak males - malesan gue berdiri , eits kontol gue masih ngaceng lagi , ah cuek deh .
Mbak Candra ngelirik juga dan secara refleks doi ngeraba selangkangannya , anjir….terang aja itu tenda celana gue makin tinggi ,
“Hayo , celananya kenapa tu” dia berbisik waktu gue masuk kekamar mandi .
“Kamu sih bikin aku horny , jadi aku yang sengsara deh , mana pakai jean lagi ” gue nekad ngomong gitu sambil ngeraba paha mulusnya . Gilanya doi bukannya marah malah bilang ” Ya , kalau dibagian itu sih belum asyik ”
” Abis yang mana dong kalau asyik ” gue masih setengah berbisik menyelusurin pahanya kearah memeknya yang bejembut gila .
” Nah yang itu baru asyik , kamu juga kalau saya gituin juga asyik lah ” gantian doi yang ngelus kontol gue dari luar sambil coba - coba buka retsleitingnya . Busyet gila juga ini perempuan , mana bau Isei Miyakenya merangsang banget . Gue enggak tahan , ” Mbak ngentot yuk ” kata gue edan-edanan . ” Ayo , kapan dong , mending berani lagi ” tangannya sekarang udah masuk kedalam jeans gue dan mulai narikin halus kontol gue .
” Eh , siapa takut apalagi kalau ngentotnya bareng Mbak ” gue sekarang udah berhasil masukin jari kedalam memeknya yang basah dan lembab . ” Besok ya , kekolam renang Ancol , jam 10 ” Babi banget nih si Mbak , kenapa kekolam renang sih , emangnya gue kecebong . Besok jam 10 kurang seperempat gue udah stand by diparkiran kolam renang Ancol , gue telepon dia dengan no yang dikasih kemarin secara rahasia .
” Mbak , aku udah sampe nih , kamu dimana ” gue rada was was juga kalau doi enggak dateng .
” Ini aku baru mau masuk Ancol , tungguin ya , kontolnya udah ngaceng lagi belum ” sialan ngetest gue kali , tapi koq kedengarannya rame banget sih ada yang cekikikan dibelakangnya .
Mati gue , jangan - jangan gue mau dijebak , siapa tau dia bawa bokin gue juga .
” Kamu sama siapa sih , koq rame banget , gue jadi bisa enggak ngaceng lagi nih ”
” Janjinya gimana sih , katanya mau ML eh kamu bawa orang lain ” setengah kesel gue ngomong ditelpon .
” Pasti deh janjinya , pokoknya asyik banget kamu nantinya ” dia ngalemin gue . Enggak sampai 10 menit , mobil Honda putihnya mendarat persis disamping mobil gue .
” Surprise , nah ketauan ya enggak ngajak - ngajak kita ” suara 2 Ce temennya Candra teriak bareng .
Waduh pucet banget gue , karena ternyata yang diajak juga tetangga gue , Mbak Rina bininya pak Joko dan Mbak Ita bininya
pak Raja . Salah tingkah abis gue . ” Eh , kaget ya , take it easy aja , khan udah kenal , asyik-asyik aja deh pak Luki , eh kalau diluar Mas Luki dong ” Mbak Ita yang mungil dan putih ( persis banget Kris Dayantie ) itu nyerocos aja membuat suasana jadi enggak tegang . ” Enggak deh kita bilangin sang istri ” si Rina yang body dan facenya seperti Dian Nitami nambahin , ya gue makin
ngerasa siep banget dong . Tapi kewaspadaan tetap dipertahankan jangan lengah man . Setelah basa basi bentar , ” Udah ya , pokoknya enggak ada yang boleh tahu selain kita - kita ya Mas ” Rina sekarang yang
membuat gue makin PD . ” Pokoknya enjoy aja deh , kita bertiga udah kompak berat lho ” Candra tanpa sungkan ngegandeng gue
menuju loket . ” Khan gue yang janjian sama Mas Luki , elo pada jangan ngiri ya , entar juga kebagian ” . Kepala jalan sekarang si Rina , doi pesen kamar ganti dan bilas keluarga . Sekalian pesan ban renang 2 buah yang guede banget .
Ampun , ide apalagi sih . Seolah kita sekeluarga enteng aja mereka ngajak gue masuk bareng keruang ganti dan bilas . Denngan tenang mereka buka rok , baju dan terus BH , sialan mereka tenang aja seolah gue enggak ada disitu .
Gila aja kalau gue enggak ngaceng liat Candra , Rina dan Ita yang umurnya sekitar 30 an pada memamerkan bodynya .
” Eh , Mas Luki mau berenang atau mau nonton kita streap tease ” kata si Ita sambil buka BH putih transparantnya .
” Ya terang mau berenang dong , tapi aku maunya sih bilas dulu ah , masak langsung berenang ” gue akal - akalan supaya mereka juga mau berbulat ria , tanggung amat baru liat toket dan setengah body .
Gue buka baju dan celana , begitu tinggal CD mereka teriak bareng ” Asyik ya , udah ngaceng ”
” He eh abis kalian sih begitu merangsang dan mempesona ” kata gue sembarang siap - siap mau buka CD gue .
” Ah enggak fair nih , masak jadi aku duluan yang telanjang , barengan dong jadi aku enggak malu ”
” Hu…maunya tuh , ya Candra kamu khan yang punya ide , kamu dulu dong…mana jembutnya aduh udah pada keluar tu ”
kata si Ita sambil narikin jembutnya Candra yang nongol terus dari pinggiran CD .
” Aku sih Ta prinsip , sekali buka celana pantang kalau enggak di……”
” Joss !!!!! ” Ita dan Rina seperti koor nerusin apa maunya si Candra .
” Ia deh , gue juga malu khan kalau keluar kamar ganti nanti swempaknya ada tenda mancung “. Cari pembenaran dong .
” Bisa bubar orang dikolam nanti , elo pada mau ya gue jadi tontonan ” gue belagak memelas sambil nunjukin si Monas. Supaya enggak kaku , gue datengin si Candra yang masih berdiri dekat gantungan baju , gue peluk doi dengan kedua tangan dibagian pantatnya , gue cium bibirnya ala French kissing , lidah saling ketemu .
” Wow , nafsu nih ya ” si Ita ngeledek . Asyik banget deh pantat si Candra yang nonggeng gue remes - remes , tempelin abis mekinya dengan kontol gue , Candra langsung horny pingggangnya digoyang yang otomatis mekinya berputar diatas kontol gue .
Sekitar 3 menit adegan itu gue pertahankan , sebenarnya gue udah nafsu banget mau langsung masukin kontol gue kememeknya
Candra yang gue yakin udah basah . Sabar cing gue musti cool dong , pasang strategi soalnya masih ada 2 nonok lain menanti . Perlahan gue melorot , dengan tetap mata memandang dia tangan gue pindah berputar meremas perlahan toketnya yang pentilnya
relatif masih belum gede . ” Eh elo jangan ngiri , sementara belum dapat giliran elo pada meremas sendiri aja dulu ” masih sempat juga Candra ngeledek temannya yang terpana melihat gue yang sambil meremas toketnya sambil usaha jongkok depan dia , pakai gigi gue tarik perlahan CD nya . ” Enak ya Can remasannnya Mas Luki ? ” Rina bertanya tanpa arah karena gue tau dia juga tanpa
sadar meremas dan memilin pentil toketnya .
” Kita suruh buka sendiri ya ” Ita protes narik sedikit CDnya sambil tangannya ngobel memeknya sendiri . ” Sini dong sayang , tangan gue enggak sampe kalau elo pada jauh - jauh ” Gue enggak bisa ngomong panjang lagi karena Candra narik kepala gue kearah nonoknya minta dijilat , setelah CDnya melorot sampai dengkul kakinya .
Anjir….kesampean juga gue jilatin dan rasain nonoknya Candra yang jembutnya gilaaaaaa !!!!!
Itilnya agak gembung , merah banget , gue tahu setelah berupaya keras menepis bulu jembutnya . Sejenak ruang ganti sunyi , sambil ngejokil abis liang kenikmatannya Candra gue solider untuk pelorotin CD nya Rina dan Ita barengan , dan inilah pemandangan matanya pemirsa sekalian : Candra , toketnya 34 bentuknya bagus banget , pentilnya agak gede kecoklatan , kulit seluruh bodynya coy kuning kencang mengkilat , bagian pantat ada sedikit selulit , jembutnya…khan udah tau elo pada en bulu keteknya idem ditto.
Yang jelas enggak rapi , serabutan menutup semua bagian memeknya mendekati puser .
Sambil ngedorong pantatnya kedepan supaya lidah gue bisa lebih dalam masuk kelobang nonoknya , dia terus mendesah ,
kaki kananya ngegesek pelan kontol gue dari luar CD , sambil usaha masuk dari samping CD . Rina , yang gue pelorotin pakai tangan kanan , toketnya gede agak panjang seperti pepaya , kulitnya sawo matang , maklum Jawa
Solo sepertinya , bulu ketek anti cukur , serabutan disekitar susunya yang 36 . Pentilnya agak masuk kedalam .
Pahanya kencang , tinggi sekitar 170cm , jembutnya keriting rapi , diatur sekitar lobang nonoknya ( Sering berbikini kali..)
Lobang nonoknya memanjang , dibawah lipatan perut ada bekas jahitan Caesarnya .
Doi terus meremas susunya sambil liatin tangan gue yang lagi berusaha nurunin CD pinknya .
Supaya cepat , doi ikut ngebantu nurunin CDnya . Ita , siimut , tinggi sekitar 158 lah , jembutnya paling jarang jadi bagian dalam memeknya yang merah muda gampang keliatan ,
toketnya kecil kenceng ukuran 32 , perutnya rata , paling kalem keliatannya tapi tangannya aktif terus megangin bokongnya sendiri , jangan - jangan doi paling hobby dibol dari belakang . Ngimpi apa gue liat tetangga gue pada telanjang bulet , elo elo yang belum ada pengalaman maen sama bini orang , gue anjurin deh elo cari mereka bertiga , enggak resek , berpengalaman dan tahu penuh apa enaknya ML .
Kalau mau orgy cari yang sehati , kompak istilahnya dan enggak egoist , artinya mereka berupaya menikmati SEX sepenuhnya tanpa ada rasa sungkan , rilex dan terbuka .
Hal ini juga gue buktikan sebelumnya dengan 2 sahabat mahasiswi yang kompak , tapi ya kita harus konsider atas kebutuhan jajannya lah , jangan merki . Kurang yakin kemampuan ya modalin VIAGRA yang paling mahal Rp. 150.000 / pil 100 mg . ” Ya kamu pada mandi dulu deh dishower ” kata gue pelan , sambil menjilat sisa juicenya Candra yang ada disekitar bibir gue . Candra enggak bereaksi , dia nuntun gue ketempat duduk , pas gue duduk dia jongkok didepan gue dan brebet dia tarik CD gue ,
dia pandangin seluruh kostruksi kontol gue , enggak pakai komentar yang basi seperti cerita bokep yang lain ,
” Aduh gede amat kontolnya , atau sok ngebandingin sama kontol Co yang lain , itusih kuno , tipu….!!! Jangan mau elo dibohongin sama yang bikin cerita , itukan cuma kebanggaan semu , yang penting gocekannya bukan gedenya , emangnya mau modal berat aja…tipuuuuu……” ” Jangan kelamaan Can , langsung maenkan , tunjukan kecanggihannya , apa perlu gue nih yang terjun ” Rina sewot ngeliatin Candra yang masih memandang kontol gue sambil ngurut dari arah palkon kepangkalnya , tanpa komentar sambil tangan kirinya kasih kode enggak perlu , langsung kontol gue mulai dijilatin perlahan .
Seluruh kepala kontol gue ( helmnya ) dijilat berputar , doi tau bagian yang paling enak yaitu dibagian bawah Palkon sekitar sambungannya . Cairan bening gue dijilatin sambil matanya memandang arah mata gue , seolah butuh pengakuan atau komentar
Gue cuma bisa angkat 2 jempol , bravo go ahead Can .
Selanjutnya cepet banget lidahnya bergeser enggak berhenti menari disekitar batang kontol , begitu dikemot kedalam mulutnya yang memang sexy dia keluarin cadangan ludahnya , jadi rasanya kontol gue berenang didalam air ludah , enggak ada rasa gigi Cing , belajar dari banci Taman Lawang kali .
Gue udah seperti kura - kura yang dibalik , kaki gue kelayapan , gue tumpangin diatas pundaknya sambil kalau gue udah enggak tahan kepala si Candra gue bekep abis sama paha gue . ” Rina - Ita sini dong , gue mau nih megangin tetek dan nonok kamu ” Enggak sampai 2 kali order mereka langsung nyamperin gue dan Candra . Si Rina nyodorin susu pepayanya minta gue isap dan siimut Ita ngangkat kaki sebelah keatas bangku , berdiri disamping gue dan minta dirojok nonoknya dengan telunjuk gue yang masih bebas karena belum ada order .
Gue pegang nonoknya yang merah sudah rada becek , maklum turunan Cina , begitu telunjuk gue masuk dia yang gerakin pinggulnya maju mundur kaya lagi ngentot aja gayanya .
Doi merem melek ngerasain bulu - bulu yang ada ditangan gue , tangannya ngusap pentil susu gue secara beraturan .
Bibirnya ngejilatin bagian dalam kuping gue yang rada caplang , kadang ngemut juga bagian gelambir telinga ogud , terus berbisik
supaya enggak kedengaran sama yang lain ” Mas Luki , pejunya jangan diabisin semua ya , kamu mau enggak ngerasain bokongnya Ita ” …Busyet bener khan doi doyan dibool , buktinya begitu gue pindahin jari kelobang pantatnya udah rada longgar ,
gila kali pak Raja , doyan bener sodomi bokinnya yang imut .
Gue cuma ngangguk dan nyodorin bibir gue buat ngerasain juga ciumannya si Ita .
Wangi banget deh si Ita , bau Kenzonya makin ngerangsang gue . Biar adil nonoknya Rina yang jembutnya rapi gue rojok juga , masih agak kering tapi mantap itilnya tebal , karena ngerasa agak dicuekin kali , enggak sabar si Ita sekarang jongkok dibelakang Candra , tangan kanannya ngelus tetek dan pentilnya Candra dan tangan kirinya berusaha ngobok - ngobok nonoknya Candra yang makin basah , soalnya gue liat kadang - kadang si Ita jilatin jarinya yang basah berlendir , apalagi kalau bukan juicenya Candra yang asyik banget rasanya . Candra makin asyik aja nyepong gue , badannya menggeliat - geliat karena keasyikan dikobel Ita , gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Candra , entar gue timpa juga deh boolnya Candra , gue berandai andai . Gue cuma bisa teriak kecil ” Ngentot…..gila ngentot enak bener sama kamu pada , Candra uhhhh…uhhhh….abis ini gue entotin elo ya , gue nggak mau ngentotin kamu dari belakang , gue mau ngentot sambil terus ngeliatin nonok kamu yang jembutnya gila..”
” Rina , gue mau ngentotin kamu sambil duduk biar gue bisa terus meres tetek kamu yang sexy banget ” gue ngomong terus ngaco .
” Ta , gue ngentotin kamu dari belakang ya Ta , gue pengen ngentot dilobang pantat Ta , abis elo sexy banget sih goyangnya ”
Elo gue saranin deh kalau lagi ngentot musti sering - sering ngomong yang vulgar , Ce jenis apapun makin nafsu dengernya ,
dan elo gue jamin makin nafsu kalau Ce yang bukan Cabo atau Pecun teriak ngomong vulgar juga . Wuih ai jamin dah….. ” Mas Luki , nanti pejunya buat Rina juga ya , jangan disemprot semua kemulutnya Candra ” Rina sambil narik perlahan rambut gue juga turut berharap dengan memandang nafsu kerah kontol gue yang udah abis dikemot Candra .” Terus gue kebagian apa dong , gue mau juga dong ngerasain pejunya Mas Luki ” Ita protes ke Rina pura - pura belum minta jatah dari gue .
Enggak tahan gue tarik kontol gue yang enggak begitu gede dari mulutnya Candra , gue dudukin si Rina kebangku ,
gue kangkangin pahanya yang juga seperti si Dian Nitami , penasaran gue sih mau liat dalemnya .
Gue jilat itilnya yang udah rada ngegelambir , gile cing juicenya asyik banget rasanya , banyak banget dan meleleh ke bagian lobang pantatnya . Tanggung gue jilat sekalian lobang pantatnya yang berwarna coklat , yang didalamnya masih juga bejembut .
Candra bantuin ngisepin teteknya Rina , tangannya ikut bantu ngedorong kepala gue supaya makin masuk ngejilatin nonoknya Rina
yang rapi tercukur jembutnya . ” Ah gila Candraaaaa…….Mas Luki enak banget ya jilatannya , aduh mama…..mama….aku ndak
tahan nih ,…..Candra elo apain sih pentil aku….enakkkkkk Can….” Rina meronta - ronta yang membuat toketnya bergelantungan kekiri dan kekanan , pemandangan semakin horny cing . Eh kemana si imut Ita , doi kalem aja , pantat gue diangkat pelan sampai ketinggiannya sejajar kepala gue yang berada didaerah selangkangan Rina , doi duduk menyelinap melalui selangkangan gue sekarang jadi duduk menghadap kontol gue yang terayun bebas . Cepat dan tangkas dia hisap kontol gue dengan mulutnya yang mungil , maju mundur berupaya menelan habis seluruh batang kontol gue . Sesekali dia pindah mengulum biji peler gue yang jembutnya lumayanlah , wuih cing asyik banget…….
Saking imutnya seprti kancil dia menyelinap melalu selangkangan bergerak menuju arah belakang , dia remas - remas pantat gue..
Gue kaget , tiba tiba ada rasa aneh geli - geli asyik dilobang pantat gue yang sedikit berjembut ,….ih apaan sih …
Anjir …..rupanya lidahnya Ita yang menari disekitar lubang pantat yang kadang - kadang dia coba julurin masuk .
Nah sekarang gue enggak heran kenapa Homo doyan dimonon , rupanya emang enak kalau bool kita dimasukan sesuatu . “Ta…..terus Ta….entar gantian deh gue jilatin anus kamu yang merah jambu…..terus Ta…asyik…, enak gila…..” gue sejenak melupakan tugas ngejilatin nonoknya Rina .
” Mas Luki….Rina hampir nih….lagi dong jilatin….tanggung dikit lagi Mas…aduh tega ya….” Rina mengharap gue bertindak .
Langsung gue sosor lagi nonoknya , gue jilat abis lelehan juicenya yang mengarah kelobang pantatnya , gue jilat terus …menuju
bolnya dan Rina makin menggeliat - geliat seperti ayam yang dipotong tanggung . ” Mas…..entotin aku dong , sebentar aja deh pasti keluar ” Rina mengangkat kepala gue sambil berharap benar .
Gua bertindak gentle dong , jangan buat dia kecewa , secara berlutut gue pegang batang kontol gue yang masih basah karena
campuran ludahnya Candra dan Ita . Ita sigap pindah tempat disisi kiri Rina , sementara si Candra tetap pada posisinya dikanan
Rina sambil terus meremas toket pepayanya Rina . Kesemuanya kelihatan menanti apa yang akan terjadi , ” Candra - Ita , gue ngentotin Rina duluan bukan berarti elo pada gue nomor duakan , gue janji deh elo semua satu persatu akan gue entotin juga ”
” Okay Mas , buat kita enggak ada masalah yang penting kita bener - bener ML ” Candra memberi semangat .
Gue salut abis sama si Candra , solidaritasnya tinggi , tidak egois , pantas dia jadi kepala gang .
” Ya Mas Luki , khan Mas Luki nantinya bisa ganti namanya jadi Mas Cipto ( Cicip roto ) ” si Ita ikut nimpalin . Perlahan gue arahin kontol gue yang bentuknya agak mengarah kekiri kepalanya , enggak sulit masukin nonoknya Rina ,
tapi buat menghargai doi gue pura - pura merasa susah dong .
Blebessss……gile cing , emang bener ngentot tu enak banget .
Gue tolak pinggang pakai tangan kiri , kontol gue yang 15 cm maju - mundur terus , meliuk kiri kanan , berputar mencari itil dan G spotnya Rina ……….” Mas Luki ,……ya..ya…yang disitu yang marem Mas ” Rina bergetar , semua bagian bodynya yang enak - enak ada yang bertanggung jawab , nonok - toket kiri dan kanan , lobang pantat ada koordinator lapangannya ( KorLap ) ” Enak ya kontolnya Mas Cipto ..eh Mas Luki ….,…terus Rin ..goyang terus Rin…nikmatin abis…jangan ditahan - tahan ” Candra
tetap memilin pentilnya Rina sambil matanya nafsu melihat kontol gue yang bekerja dimemeknya Rina .
” Ayo terus Mas Luki …bikin si Rina puas ,…sini dong tangannya yang satu ” Candra bernasehat sambil minta jatah dirojer nonoknya . Kalau mau jujur seharusnya gue musti muasin Candra duluan , disamping memang target utamanya khan dia tadinya ,
enggak pakai dua kali lagi gue masukin jari tengah gue kedalam nonoknya yang sudah semakin basah . ” Aghhhhhh….agh……. aku dapet Can…aku dapet Ta……, Mas….ini ya Mas rasanya enaknya ngentot ” Rina makin mengelinjang .
” Mas….nanti lagi ya….Massss…….asu….asu. ….peline kui lho Mas…, maremmmmmm” hu…keliatan aslinya deh si Rina , keluar Jawanya . Gue tancep lebih dalam kontol gue , tanpa gerakan lagi gue pendam habis….dan emang bener enaknya Ce Solo ,
tau enggak lo…tiba-tiba gue merasa ada sesuatu yang berputar - putar cepat dibagian kepala dan batang .. ” Aduh..aduh apaan nih Rin , aduh…gila asyik - asyik….” gue senyum sambil terus tancepin kontol gue .
” Nah , baru tau dia …makanya jangan main - main sama Ce Solo ” Rina nyubit perut gue sambil senyum lebar ngeledek . Perlahan gue tarik keluar kontol gue yang masih ngaceng abis , keliatan makin berurat kayaknya . ” Waduh Candra , enggak salah deh kita janjian sama Mas Luki ” kata Rina sambil balik meres toketnya Candra dan Ita .
” Bener ya Rin , enak banget ya ngentotnya….ih kamu keringetan banget deh ” Ita melap keringat disekitar leher sampai perutnya Rina . ” Hayo ,sekarang siapa nih yang bertanggung jawab mengeluarkan peju gue ” dengan pura - pura marah gue liat kearah Candra .
Soalnya seperti gue bilang , Candra adalah target utama , jadi dia musti tau dong . Elo ngebayangi enggak sih Candra seperti siapa , tidak lain adalah paduan antara Iis Dahlia dan Cut Keke , nafsuin khan .

Cerita seru Pengalamanku Dengan Ita

Namanya Ita, usianya 4 tahun lebih tua dariku, karena Ita sekarang sudah berusia 32 tahun. Namun status Ita masih bujangan sama denganku. Awalnya aku juga bingung terhadap Ita, wajahnya cukup cantik, bahkan boleh dibilang termasuk sangat cantik untuk ukuran seorang wanita biasa, tapi sampai seusia itu kok belum juga dia menikah? Tingginya semampai, mungkin sekitar 173 cm, karena dia lebih tinggi dariku saat kami berdiri berjajar, sedangkan tinggiku saja sudah 170 cm. Aku memang tidak menanyakan hal itu padanya.

Aku dan Ita baru berkenalan belum lama, awalnya sejak aku mulai menuliskan kisahku di sumbercerita.com. Ita termasuk salah seorang wanita yang juga rajin membaca kisahku. Emailnya yang pertama tidak kurespons dengan serius, kujawab asal-asalan saja, karena kupikir ini pasti cowok yang menyamar dan mengaku sebagai cewek. Namun lama kelamaan aku percaya juga padanya dan ternyata memang dia cewek juga sepertiku, ini diawali dari foto yang ia kirimkan via email, kemudian nomor HP yang ia berikan padaku. Aku tidak pernah mengontak dia, Ita yang berkirim SMS duluan padaku dan dia juga yang mengawali meneleponku. Akhirnya kami sering kontak melalui telepon, juga janji bertemu, jalan bersama hingga terkadang cuci mata di mall.

Hubungan kami makin hari makin akrab dan kami saling curhat hingga bertukar pengalaman tentang sex, kami berbagi rasa hingga cerita tentang kiat menulis pengalamanku di sumbercerita.com. Ita juga memuji keberanianku dalam mengungkapkan kisahku, dia juga berterus terang sering melakukan masturbasi di depan computer saat membaca kisah-kisahku.

Akhirnya aku tahu bahwa Ita ternyata seorang bisex, dia bisa berhubungan dengan laki-laki, tapi dia juga suka melakukan hubungan dengan perempuan. Aku terus terang jadi penasaran dengan pengalamannya melakukan ML dengan para cewek temannya itu, kalau didengar dari ceritanya cukup membuat diriku ikut terangsang. Apa lagi aku juga secara tidak sengaja pernah melakukan hal yang hampir serupa dengan apa yang Ita lakukan, hanya bedanya aku melakukannya dengan Lina bersama dengan suaminya saat aku ke Jakarta beberapa waktu yang lalu, pembaca yang belum pernah mengikuti kisahku yang satu itu, silakan membaca kisahku terdahulu.

Tak jarang pada setiap obrolannya Ita juga sering memancingku untuk melakukan hubungan, namun momentnya banyak yang kurang tepat, lagi pula aku bukan seorang lesbian, jadi terus terang kurang begitu berminat dan masih ada rasa aneh bila aku harus melakukannya dengan sesamaku secara sengaja.

Entah kalau kejadiannya tidak disengaja seperti saat aku melakukannya dengan Lina yang kemudian diikuti oleh suaminya itu. Tapi terus terang dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada terselip rasa ingin sesekali mencobanya, dan akhirnya apa yang kubayangkan itu terjadi juga bersama Ita. Begini ceritanya..

Pada suatu siang Ita menghubungi HP-ku..

"Hallo Lia! Lagi ngapain nich?" tanya Ita diseberang sana.
"Nggak lagi ngapa-ngapain, kenapa?" balasku.
"Kamu di rumah kan? Aku jemput ya? Kita ke Trawas nginap di villaku yuk!" ajak Ita.
"Aku sudah lama tidak menginap di sana dan aku juga harus memberi gaji untuk penjaga villaku, karena Papaku sedang sibuk di luar kota" lanjut Ita menjelaskan padaku.
"Kapan pulangnya?" tanyaku pada Ita.
"Terserah! Mau besok siang atau besok malam juga boleh, aku jemput sekarang ya, kamu siap-siap saja, okey sampai nanti" sambung Ita yang kemudian mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dariku lagi.

Pukul 11 siang, tepatnya 40 menit setelah Ita meneleponku, mobil Ita sudah parkir di depan rumahku. Seperti biasanya Ita langsung nyelonong masuk ke rumahku tanpa mengetuk lagi, karena rumahku terbiasa terbuka lebar begitu saja saat siang hari. Melihat kondisi rumahku yang sepi, Ita langsung main teriak saja seperti biasanya.

"Lia! Ayo! Sudah siap belum? Cepetan dikit aku sudah lapar, nanti kita makan di rumah makan aja ya", demikian ajak Ita dengan sedikit berteriak padaku.

Ita siang itu memakai singlet tipis warna putih sehingga BH-nya yang tipis dan berbentuk mini dapat terlihat dengan jelas dari luar singletnya. Aku yakin BH yang dipakainya siang itu pasti satu setel dengan CD-nya, karena aku dapat mengenali bentuk dan warna BH yang ia pakai. Setelan tersebut memang dia beli bersamaku di Darmo Outlet beberapa saat yang lalu. Modelnya memang banyak yang bagus-bagus dan sexy sekali, sangat cocok dengan seleraku, maka aku juga membeli beberapa saat itu.

"Sebentar ya, aku ganti pakaian dulu" kataku sambil berganti pakaian tanpa menutup pintu kamarku, aku tidak kuatir ada orang yang melihat saat aku berganti pakaian, karena siang itu di rumahku juga tidak ada siapa-siapa, kecuali adikku yang juga perempuan dan juga ada Ita.

Aku sengaja memakai singlet juga tapi tanpa BH, pembaca yang sudah pernah membaca kisahku tentu sudah paham akan kebiasaanku yang memang selalu tanpa BH. Aku juga memakai celana pendek mengikuti penampilan Ita, tapi bentuk celana pendekku lebih sexy daripada yang dikenakan Ita. Celana pendekku berbentuk hot pants yang sangat pendek dan sexy, ujungnya lebih tinggi daripada selangkanganku, apa lagi ujung bawahnya agak lebar sehingga dari belakang dapat terlihat dengan jelas bentuk lekukan pantatku yang sintal.

"Ayo..! Aku sudah selesai" ajakku.

Setelah pamit ke adikku, kami pun segera memasuki mobil Ita dan langsung meluncur mengarah keluar kota, melewati Jalan Mayjend Sungkono, masuk jalan tol Satelit untuk menghindari tengah kota terutama bundaran Waru yang sering macet. Keluar pintu tol Gempol, Ita langsung membelokkan mobilnya masuk ke halaman rumah makan. Kami pesan sepiring nasi cap cay dan sea food untuk dibagi berdua, karena porsinya yang banyak tidak mampu kami habiskan sendirian. Kami juga sama-sama pesan orange juice. Siang itu rumah makan itu agak sepi. Selesai makan kami melanjutkan perjalanan menuju ke Trawas. Siang itu jalanan cukup lengang.

Villa Ita yang letaknya dekat dengan Grand Trawas, ternyata cukup besar dan halamannya sangat luas, ada kolam renang yang cukup besar di sana. Letaknya di bagian belakang Villa. Orang tua Ita memang dari kalangan keluarga yang berkecukupan, dalam bidang apa usahanya aku juga tidak pernah bertanya.

Villa yang mewah dan sebesar itu hanya dijaga oleh seorang penjaga yang usianya sudah cukup lanjut, panggilannya Pak Djo, usianya mungkin sekitar 70 tahun. Menurut Ita, Pak Djo sudah ikut keluarga Ita sejak dari kakek Ita, kakek Ita sendiri sudah almarhum dan Pak Djo juga ikut mengasuh Ita sejak masih bayi, saat diajak kedua orang tuanya berlibur di villa keluarga itu. Jadi hubungan Ita dengan Pak Djo juga seperti layaknya kakek sendiri hingga aku pun ikut menaruh hormat pada Pak Djo. Semua kebutuhan sehari-hari sudah ada dan tersedia di villa milik keluarga Ita, mulai dari makanan kecil, hingga pakaian ganti dan sebagainya, maka tak heran kalau Ita tadi tidak membawa apa-apa walau harus menginap di villanya.

"Kita berenang yuk!" ajak Ita sambil langsung melepat singlet dan celana pendeknya.

Ternyata betul juga perkiraanku, Ita memang memakai setelan dalaman yang mini berbentuk bikini yang dibelinya beberapa saat yang lalu bersamaku di Darmo Outlet. BH dan CD-nya tipis sekali sehingga puting susunya dapat terlihat dari luar BH yang ia kenakan, demikian pula CD-nya, lipatan vagina Ita tampak dengan jelas tapi tidak terlihat bulu kemaluannya, rupanya Ita telah mencukur bersih bulu kemaluannya.

Ita tampak cuek dan santai sekali dengan hanya memakai bikini mini dan tipis begitu di villanya, mungkin juga karena di villa itu tidak ada orang lain selain aku dan Pak Djo yang sudah dianggapnya seperti kakeknya sendiri itu tadi. Namun aku ragu-ragu untuk mengikuti caranya, bukan karena aku takut berenang tapi karena bentuk CD-ku adalah model G string yang sangat mini sekali, bahkan lebih mini daripada yang dipakai Ita, dan lagi aku tidak memakai BH. Rupanya Ita tahu akan keraguanku.

"Ayo, tidak masalah, lepaskan aja singletmu, tidak ada orang lain kecuali Pak Djo" ajak Ita.
"Lho It, aku kan tidak pakai BH, lagian CD-ku bisa bikin Pak Djo tidak bisa tidur nanti" jawabku.
"Gila loe! Pak Djo kan sudah uzur, lagian dia tau diri dan tidak bakal iseng, tau kita sedang berenang pakai pakaian minim begini, paling dia malah sembunyi di kamarnya, ayo aku temani juga tanpa pakai BH" lanjut Ita sambil langsung menarik tali BH-nya yang ikatannya ada di lehernya.

Tubuh Ita pun hampir bugil tanpa sehelai benang pun kecuali selembar kain tipis segi tiga yang membungkus bagian bawah selangkangannya. Aku akhirnya terpaksa mengikuti juga apa kemauan Ita. Kulepas singlet dan hot pants-ku hingga tinggal memakai G String yang di ujung lipatannya tersembul ujung-ujung bulu kemaluanku yang halus dan lembut.

Aku buru-buru menceburkan diri ke dalam air, kami bermain dan berenang dengan riangnya. Baru kali ini aku melihat bentuk tubuh Ita yang ternyata juga molek serta bersih dan putih sekali. Terus terang tubuhku juga tidak kalah dengan tubuh Ita hingga tidak dapat kubayangkan seandainya ada mata cowok yang mengintip kami berdua saat itu. Tapi aku melihat sekeliling yang ternyata cukup aman, selain dikelilingi tembok yang tinggi, di sekeliling bagian dalam tembok juga ditumbuhi pohon penesium yang cukup rindang dan tumbuh rapat sekali, jadi boleh dibilang tidak mungkin ada orang dari luar pagar tembok yang bisa mengintip ke dalam villa.

Air kolam renang lumayan dingin juga hingga kami pun tidak bisa berlama-lama berenang, maka kemudian kami sama-sama naik dan masuk ke dalam rumah untuk mandi dengan air hangat. Kami berdua mandi dalam satu kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur utama, kamar mandinya cukup besar dan mewah.

Ita tidak canggung-canggung melepaskan CD-nya di hadapanku, tubuhnya mulus dan sexy sekali, tak kalah dengan kemolekan tubuhku. Vaginanya bersih tanpa bulu kemaluan yang ternyata bukan karena dicukur, vagina Ita menurut pengakuannya memang sejak kecil sudah tidak pernah ditumbuhi bulu.

Ita menarik tali G Stringku sehingga aku pun ikut bugil di hadapannya, Ita juga mulai menggosokkan sabun cair ke tubuhku, tangannya mengelus seiap bagian tubuhku sambil meratakan tubuhku dengan sabun cair. Elusannya membuatku horny. Aku pun ikut menyabuni tubuhnya, sehingga kami akhirnya saling mengelus dan saling meraba. Elusan dan rabaan itu lama-kelamaan menjadi remasan-remasan, terutama saat tangan-tangan kami menyentuh bagian payudara kami masing-masing.

Saat itu kami sudah sama-sama terangsang sekali, sehingga entah kapan mulainya, kami pun sudah saling berpagutan, bibir kami saling lumat dan tangan kami juga saling raba, lidah kami pun bergantian saling menyusup dan saling lumat. Entah sudah berapa lama kami berdua saling kulum.
Liang vaginaku sudah basah sekali, demikian pula liang vagina Ita saat jari-jari tanganku menyusup di celah belahan vaginanya. Kami melakukan semua itu di bawah siraman shower, hingga beberapa saat kemudian Ita memutuskan untuk melanjutkannya di tempat tidur saja.

Selesai mengeringkan tubuh kami dengan apa adanya, kami pun bergumul di tempat tidur. Ita langsung melumat bibirku, dan aku pasrah saja saat bibir Ita melumat bibirku. Herannya aku tidak merasa jijik saat bibirku dikulum oleh sesama jenisku, bahkan aku sangat menikmatinya.

Ciumannya memang berbeda dengan cowok, beda yang paling menyolok adalah adanya kelembutan pada ciuman bibir Ita, kami sudah sama-sama diselimuti hawa nafsu hingga kami pun bergumul layaknya sepasang kasih yang sedang dilanda asmara, Ita bertindak lebih agresif dengan menjilat bagian leherku, sesekali bibirnya memberi kecupan di tubuhku.

Mulut Ita terus beraksi di sekujur tubuhku, payudaraku tak luput dari lumatannya, puting susuku dimainkan dengan ujung lidahnya. Aku jadi benar-benar horny, liang vaginaku kembali basah karena luapan birahiku, aku hanya dapat mengelus selangkangan Ita yang ternyata juga sudah mulai dibasahi oleh cairan yang mengalir keluar dari dalam rahimnya.

Kumainkan ujung jariku di atas klitoris Ita hingga membuat cairan bening yang membasahi liang vaginanya lebih deras mengalir keluar, kuselipkan ujung jariku dan kugesekkan naik turun dari atas ke bawah di sela lipatan bibir vaginanya. Ita jadi lebih bernafsu sekali tampaknya, jilatan lidahnya terus mengarah ke bagian bawah tubuhku.

Tangan Ita meremas-remas payudaraku sambil mulutnya tetap menjilat menjalari bagian perutku, ujung lidah Ita sengaja dikorekkannya di pusarku, sesekali bibirnya mengecup pusarku hingga aku merasa geli bercampur nikmat, kemudian Ita mengawali menjilat vaginaku, aku pun melakukan hal yang sama padanya dalam posisi 69.

Aku terus terang sangat terangsang saat menjilati vagina Ita yang mulus tanpa bulu kemaluan itu, kukecup klitorisnya dan kumainkan dengan ujung lidahku. Cairan sedikit kental yang membasahi vagina Ita kujilat dan kutelan bersama ludah yang membasahi rongga mulutku.

Dapat kurasakan Ita sangat menikmati sekali jilatanku, dia pun tak kalah piawainya melumat habis bibir vaginaku, ujung lidahnya dijulurkan dan ditancapkannya ke dalam liang vaginaku, dapat kurasakan ujung lidahnya menyentuh bagian dalam dinding vaginaku yang juga sudah sangat basah oleh cairan yang mengalir deras dari dalam rahimku. Mulut Ita mengulum klitorisku, sambil ujung lidahnya sengaja dimainkannya di situ.

Entah dari mana diambilnya, tiba-tiba tangannya sudah menggenggam sebuah alat yang berbentuk seperti batang kemaluan pria yang terdiri dari dua sisi bertolak belakang. Panjang dan besar sekali batang kemaluan mainan itu, bila dibandingkan dengan aslinya yang selama ini pernah kulihat, terbuat dari bahan semacam silikon atau mungkin sejenis plastik elastis.

Ita langsung memasukkan ujung batang kemaluan mainan itu ke dalam liang vaginaku sambil diputar dan dikocoknya, aku mengalami kenikmatan yang luar biasa. Liang vaginaku jadi tersumbat penuh oleh benda yang mirip sekali dengan batang kemaluan asli itu, ujungnya menyentuh-nyentuh benjolan daging sebesar ibu jari yang tumbuh di dalam liang vaginaku.

Aku hanya dapat mengeluh panjang sambil menghentikan jilatanku pada vagina Ita, aku tidak mempu melakukan sesuatu kecuali merintih dan menggeliat sambil menikmati batang kemaluan mainan yang keluar masuk memompa liang vaginaku. Punggungku terangkat dan kugoyangkan mengikuti irama kocokan batang kemaluan mainan yang besar dan panjang itu.

Ita rupanya mengetahui bahwa aku sudah akan mencapai puncak hingga tangannya mengocokkan batang kemaluan mainan tadi lebih cepat lagi. Rasanya luar biasa sekali, lebih heboh daripada aslinya, dan aku baru pertama kali merasakan hal seperti ini, sebelumnya memang aku juga pernah melihatnya saat menonton BF, namun tidak pernah terbayang sebelumnya kalau aku ternyata akhirnya juga dapat menikmati memakai alat tersebut.

Tubuhku menggigil dan terguncang hebat, akhirnya aku mencapai puncaknya, kurasakan semburan cairan dari dalam rahimku muncrat keluar membasahi liang vaginaku. Mengetahui bahwa aku sudah mengalami orgasme, Ita langsung menjilati klitorisku sambil tetap mengocokkan batang kemaluan mainan tadi.

"Aa.. Aacch! Ayoo.. Itt..! Teruu.. Uuss..!" rrangku sambil terus melepaskan semburan lendir dari dalam liang vaginaku.

Vaginaku berkedut-kedut saat melepaskan hasratku sementara bibir Ita tetap menempel ketat di klitorisku sambil ujung lidahnya sengaja menggelitiknya. Kemudian Ita juga memasukkan ujung batang kemaluan mainan yang sisi satunya ke liang vaginanya sendiri sehingga posisi vagina kami saling berhadapan dan masing-masing tersumpal oleh ujung mainan yang berbentuk batang kemaluan itu.

Tangan Ita memegang dan mengocok-ngocok batang kemaluan mainan tersebut, saat ujung yang satu masuk lebih dalam ke liang vaginaku, di bagian ujung lain yang berada di dalam liang vagina Ita jadi sedikit tercabut. Demikian pula sebaliknya, bila di bagian ujung yang terbenam di dalam liang vagina Ita tertancap lebih dalam lagi, maka di bagian yang terbenam dalam liang vaginaku jadi sedikit tercabut, demikian terus menerus saat dikocok oleh Ita. Posisiku tetap telentang sementara Ita sedikit berjongkok di atas tubuhku.

Nikmat sekali, aku terus terang baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Tangan Ita terus membantu memegang dan mengocok batang kemaluan mainan tersebut. Ita memainkannya dengan piawai sekali sehingga kami akhirnya mengalami orgasme secara hampir bersamaan. Pada saat selesai orgasme, Ita langsung mencabut alat itu dan kembali melumat vaginaku.

Dengan tanpa merasa jijik sama sekali Ita menjilat habis dan menelan semua cairan yang membasahi liang vaginaku. Aku pun tidak mau kalah dengannya, kujilat pula vaginanya hingga kami akhirnya kembali melakukan posisi 69. Ita rupanya mempunyai kesamaan denganku, sangat suka saat klitorisnya dijilat, apa lagi saat ujung klitorisnya dimainkan dengan ujung lidah.

Ini adalah sungguh suatu pengalaman yang luar biasa bersama Ita yang pasti juga membaca kisahku ini. Selesai melampiaskan segala bentuk kepuasan bersama, kami tertidur tanpa mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuh montok kami, dan kami baru terbangun saat udara dingin di Trawas mulai menghembus dan merayapi tubuh dan menyusup ke dalam tulang.

Ita memberikan sebuah kimono untuk kupakai, sedang Ita sendiri hanya memakai hem yang longgar dan agak panjang, sehingga lebih mirip dengan rok mini yang berbentuk hem. Gila betul Ita ini, pikirku, karena selain itu ia sudah tidak mengenakan apa-apa lagi, sehingga bagian selangkangannya dapat terlihat dengan jelas saat dia berjalan, karena ujung hem yang ia kenakan ujungnya hanya menutupi tepat di bagian selangkangannya.

Mungkin ini juga dikarenakan Ita sudah terbiasa dan tidak terusik dengan keberadaan Pak Djo, yang memang sejak Ita masih kecil sudah ikut mengasuh Ita hingga dia terbiasa cuek saja dengan penampilannya seperti itu saat ada Pak Djo, dan kulihat Pak Djo juga biasa-biasa saja saat kami berada dalam satu ruangan, ketika Pak Djo harus mengantarkan minuman untuk kami.

Untuk makan malam, Ita meminta Pak Djo membelikan ayam goreng di sebuah restoran. Pak Djo pergi cukup lama dengan mengendarai ojek, karena tempatnya cukup jauh dari villa yang kami tempati. Pada saat menunggu kedatangan Pak Djo kami berdua menonton BF koleksi Ita.

Rupanya Ita banyak menyimpan BF di villanya, ada tempat tersembunyi yang hanya dia yang mengetahui tempatnya untuk menyimpan BF, dan berbagai peralatan masturbasi. Ita punya berbagai macam dan bentuk mainan yang berbentuk alat kelamin pria, ada pula vibrator, memakai baterai yang bisa berputar meliuk-liuk sambil bergetar.

Ita mengambil salah satu yang bisa bergetar dan meliuk-liuk, bentuknya transparan, di dalamnya ada banyak semacam bola-bola yang akan bergeser saat berputar melingkar bagaikan mata bor. Di bagian atasnya ada tonjolan panjang dan lunak sekali, bisa bergetar hebat saat vibrator dinyalakan, fungsinya ternyata untuk mengorek-ngorek klitoris kita (kaum wanita tentunya) saat batang kemaluan mainan tersebut ditancapkan ke dalam liang vagina. Gila!, pikirku dalam hati, bagaimana Ita bisa mendapatkan benda-benda seperti itu?

Ita menyalakan TV-nya, sementara dia menyuruhku telentang di sofa yang panjang, aku seperti terhipnotis saja layaknya dan menuruti semua perintah Ita. Lalu dia berjongkok di samping sofa dekat selangkanganku. Kimonoku disingkapnya sedikit ke atas sehingga bagian bawah tubuhku terpampang jelas, karena aku tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam kimono yang kukenakan.

Ita membuka pahaku lebar-lebar, kakiku yang kiri diletakkan di atas sandaran sofa, sementara kaki kananku diarahkan ke bawah sofa sehingga selangkanganku terbuka lebar dan vaginaku terpampang jelas di hadapannya. Ita mulai menyalakan vibrator di tangannya, dan kulihat batang kemaluan mainan yang dipegangnya sejak tadi itu mulai menggeliat berputar melingkar dengan tempo tetap.

Butiran yang ada di dalamnya ikur terputar, ujungnya digesekkan ke belahan bibir vaginaku, dapat kurasakan ujung batang kemaluan mainan itu bergetar dan berputar di belahan bibir baginaku. Ita menggesek-gesekkan ujungnya naik turun di sela-sela lipatan bibir vaginaku, sesekali berhenti di ujung klitorisku dan ditekankan sedikit.

Bisa dibayangkan bagaimana rasa yang menyelimuti bagian luar vaginaku yang langsung seketika itu juga menjadi basah. Hal ini memudahkan Ita untuk mulai menyusupkan batang kemaluan mainan itu masuk ke dalam lipatan bibir vaginaku, dapat kurasakan ujungnya mulai masuk ke dalam liang vaginaku.

Bagaikan mata bor yang besar berputar pelan sambil bergetar memasuki liang vaginaku lebih dalam lagi, aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, kuremas-remas payudaraku sendiri sambil memilin-milin puting susuku. Batang kemaluan mainan itu akhirnya benar-benar masuk membenam di dalam liang vaginaku, kurasakan ujungnya menempel, menekan dan berputar di tonjolan daging kecil sebesar ibu jari yang tumbuh di dalam liang vaginaku. Ita menarik dan membenamkannya kembali, mengocok terus makin lama makin cepat.

Ujung tipis yang bergetar di bagian luar vaginaku menyentuh ujung klitorisku, aku merasakan setiap inci dinding vaginaku mendapat rangsangan hebat, liukan batang kemaluan mainan itu membuat dinding bagian dalam vaginaku bergetar, cairan yang membasahi liang vaginaku makin lama makin banyak.

Aku hampir pingsan rasanya karena merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tidak memerlukan waktu yang lama hingga aku mengalami orgasme yang hebat sekali. Ita tampak tersenyum puas setelah berhasil mengerjaiku dengan alat koleksinya.

"Kamu mau alat ini?" tanya Ita padaku sambil menawarkan alat yang baru digunakannya untuk memuaskanku.
"Ini untuk kamu saja. Kalau kamu mau, besok boleh kamu bawa pulang" imbuh Ita sambil menyodorkan batang kemaluan mainannya yang baru saja membuatku orgasme.

Demikianlah kisah petualanganku dengan sesama wanita.