Monday, 27 February 2012
Sunday, 26 February 2012
Cerita seru Aib Keluarga
Berikut akan saya ceritakan satu cerita nyata yang cukup membuat malu keluarga besar saya. Kejadiannya terjadi sekitar 6 tahun yang lalu. Ini adalah kisah affair antara saudara sepupu saya dengan salah satu tante saya juga yang sudah berkeluarga. Sengaja saya samarkan nama-nama yang terlibat dalam cerita saya ini karena sangat banyak saudara-saudara saya yang lain serta teman-teman atau tetangga di lingkungan rumah keluarga besar yang menyukai situs sumbercerita.com ini. Sehingga saya khawatir nama baik saudara-saudara saya yang sudah mulai normal akan kembali terkuak bila mengetahui cerita tentang siapa dalam kisah yang akan saya ceritakan ini..
Sebetulnya cerita detail antara sepupu dengan tante saya tersebut saya tidak tahu pasti, karena itu adalah rahasia mereka berdua. Ada beberapa bagian adalah rekaan saya sendiri. Tapi secara garis besar, cerita saya ini benar-benar mengikuti peristiwa yang sebenarnya terjadi.
*****
Di salah satu sudut kota Bandung, berdiri cukup megah sebuah rumah yang sangat besar. Di dalamnya tinggal beberapa orang yang saling terikat hubungan keluarga. Mereka adalah kakek dan nenek, kita panggil saja mereka demikian, lalu keluarga Irwan, anak tertua, dan keluarga Detty, anak ketiga, serta keluarga Nani, anak bungsu. Kakek dan nenek sebetulnya mempunyai 6 orang anak. Hanya saja karena tiga anak yang lain kebetulan mempunyai rejeki yang agak mendingan dari tiga anak yang ikut tinggal sekarang, mereka bertiga bisa mempunyai rumah sendiri yang lokasinya berjauhan di daerah lain.
Irwan, 45 tahun, seorang karyawan swasta. Mempunyai istri Ida, 40 tahun. Mereka dikaruniai 2 orang anak, Ricky, 19 tahun, dan Hesti, 15 tahun. Detty, 38 tahun, mempunyai suami Marwan, 40 tahun, pegawai swasta. Dikaruniai satu anak, Rika, 17 tahun. Nani, 34 tahun, pegawai swasta, mempunyai suami, Ismu, 36 tahun. Dikarunia satu anak, Budi, 11 tahun. Kehidupan mereka berjalan normal. Hubungan mereka sebagai satu keluarga besar bisa dibilang baik. Memang sesekali terjadi konflik diantara mereka, tapi dengan segera masalah di antara mereka bisa diselesaikan dengan baik.
Nenek dan kakekpun tidak kelihatan pilih kasih kepada mereka semua. Mereka bisa bersikap adil, baik dalam hal kasih sayang maupun dalam bentuk materi. Ricky sebagai sepupu paling besar diantara mereka bisa bertindak dan berlaku tegas dalam melindungi adik-adiknya. Bahkan semua saudara sepupunya selalu bicara dan minta pendapat kepada dia bila ada masalah. Walaupun sikap Rickky kadang sangat cuek terhadap lingkungan. Ricky sangat menjaga semua adik sepupu perempuannya.
"Ki.. Aku mau minta pendapat kamu tentang cowok..." kata Rika.
"Mau nanya apaan?" kata Ricky.
"Kamu kenal si Juneadi, tidak?" tanya Rika.
"Tentu saja kenal. Anak-anak sini aku kenal semua. Emang ada apa?" tanya Ricky.
"Mm.. Dia kemarin bilang bahwa dia suka aku. Dia mau aku jadi pacar dia.. Gimana, Ki?" tanya Rika sambil menatap mata Ricky.
"Kamu suka dia, tidak?" tanya Ricky lagi.
"Dari fisik sih aku suka, tapi aku takut salah pilih..." kata Rika.
"Gini.. Bukannya aku melarang kamu untuk jalan dengan dia..." kata Ricky sambil menghisap rokoknya.
"Hanya saja yang aku tahu, Junaedi itu salah satu preman komplek sebelah. Yang lebih parah lagi, yang aku dengar katanya dia jadi pengedar juga..." lanjut Ricky.
"Aku sih terserah kamu saja.. Yang penting kamu pikir baik-baik resiko dan akibatnya nanti..." kata Ricky lagi.
Rika terdiam seperti berpikir.. Lalu Rika tersenyum kemudian dengan tiba-tiba mencium pipi Ricky.
"Terima kasih banyak.. Aku beruntung punya kakak kamu. Bisa kasih pandangan tanpa melarang sesuatu..." kata Rika sambil tersenyum manja.
"Karena aku sayang kamu..." kata Ricky sambil mencubit pipi Rika.
"Tahu tidak, mama pernah bilang bahwa kalau bisa aku cari pacar yang kayak kamu..." kata Rika.
Ricky mengerenyitkan dahinya.
"Emang tante Detty bilang apa tentang aku?" tanya Ricky penasaran.
"Mama bilang kalau kamu itu cakep, pintar, perhatian pada saudara, dan sangat melindungi adik semua.. Jangan geer kamu..." kata Rika sambil tersenyum.
Rickypun tersenyum.. Itulah salah satu bukti betapa sayangnya Ricky pada semua adiknya. Dan masih banyak lagi perhatian dan perlindungan Ricky terhadap keluarga. Keluarga besar itu sangat memuji dan membanggakan Ricky. Suatu hari keluarga besar itu sedang berkumpul membicarakan suatu masalah penting.
"Masalah ini harus segera diselesaikan..!" kata kakek.
"Tapi siapa yang harus pergi? Kita semua sibuk dengan kerjaan..." kata Irwan.
"Apa harus Bapak yang pergi sendiri? Kalian kan hanya tinggal datang ke instansi tersebut untuk menyerahkan dokumen ini!" kata kakek sambil membanting map berisi dokumen ke atas meja.
"Biar saya saja yang pergi.. Bapak sudah terlalu tua untuk pergi jauh..." kata Nani.
"Kamu kan kerja, Nan..." kata Irwan.
"Kalau begitu biar saya yang pergi. Bapak buatkan saja surat kuasa untuk saya..." kata Detty menengahi.
Kakek terdiam sambil memandangi putri ketiganya itu.
"Ya baiklah kalau begitu. Kamu yang pergi besok.. Akan Bapak buatkan surat kuasanya segera..." kata kakek.
"Tapi saya minta ada yang mengantar saya ke Garut besok. Saya tidak mau naik angkutan karena sangat makan waktu..." kata Detty.
"Ya sudah, besok Ricky harus mengantar tantemu ke Garut ya, Rik?!" kata Irwan sambil menatap anaknya yang paling besar itu.
"Iya, Pa..." kata Ricky pendek.
"Kamu pakai saja motor Papa," kata Irwan.
"Iya, Pa.. Jangan lupa STNK-nya ya, Pa," kata Ricky.
Esok paginya, Ricky dan Detty sudah siap-siap berangkat ke Garut untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka tersebut. Singkat cerita, mereka sudah sampai di kota Garut. Dengan segera Detty menguruskan masalah yang dihadapi dengan suatu instansi. Menjelang tengah hari, Detty terlihat keluar dari kantor instansi yang dimaksud dengan muka cerah.
"Ayo kita pulang, Ki..." ajak Detty kepada Ricky yang menunggu di looby kantor.
Lalu dengan menggandeng tangan keponakannya itu, Detty dengan gembira melangkah menuju tempat parkir.
"Eh, kita kita makan siang dulu, Rik.. Tante lapar nih," kata Detty.
"Sama.. Ricky juga lapar nih. Makan dimana, tante?" kata Ricky.
"Dimana enaknya, ya..??" kata Detty sambil menatap Ricky.
"Ah, begini saja... sekalian capek, sekalian satu arah jalan pulang ke Bandung, kita ke Cipanas saja, Ki..." kata Detty.
"Memangnya tante mau mandi air panas?" kata Ricky sambil menghidupkan motornya.
"Tidak... tapi kan tempat makan disana lumayan bagus.. Bisa sambil istirahat," kata Detty sambil naik ke atas motor.
Merekapun segera pergi meninggalkan tempat itu menuju Cipanas Garut. Sesampai di Cipanas, mereka segera memesan makanan.
"Mm.. Lumayan enak, ya..." kata Detty sambil terus mengunyah makanannya.
"Iya tante..." kata Ricky.
"Juga saya suka tempat makan ini karena di depan kita ada kolam renangnya..." kata Ricky.
"Yee.. Nakal juga ya mata kamu liatin paha perempuan..." kata Detty sambil tersenyum. Ricky tertawa lebar.
"Ya lumayanlah.. Iseng-iseng berhadiah..." kata Ricky. Kini Detty yang tertawa lebar.
"Memangnya kamu lihat wanita yang berenang, suka lihat apa?" tanya Detty.
Ricky tersenyum, tak menjawab pertanyaan Detty.
"Jawab dong..." kata Detty sambil kakinya menendang pelan kaki Ricky.
"Ya lihat yang serba terbuka dong, tante..." kata Ricky cuek.
"Dasar nakal!" kata Detty sambil kembali menendang pelan kaki Ricky. Ricky tersenyum..
"Wanita dengan body seperti apa yang kamu suka, Ki?" tanya Detty.
Ricky tak menjawab, hanya menatap mata Detty sambil tetap mengunyah makanannya.
"Tidak usah malu dengan tante deh, Ki.. Bicara bebas saja dengan tante," kate Detty.
"Saya suka wanita dengan tubuh bagus seperti wanita itu tuh..." kata Ricky sambil menunjuk seorang wanita muda yang sedang berenang. Tubuhnya memang bagus dan mulus.
"Bagus amat selera kamu," kata Detty sambil tersenyum.
"Kalau dengan wanita yang sudah berumur, bagaimana?" kata Detty sambil menatap Ricky.
"Mm.. Saya tidak tahu," kata Ricky sambil tetap mengunyah makanannya.
"Saya belum pernah melihat tubuh wanita yang sudah berumur..." kata Ricky lagi cuek. Detty diam.
"Kalau menurut kamu, tante masih menarik tidak?" kata Detty serius.
Ricky diam sambil menatap Detty.
"Ayolah jawab jujur, Ki.. Biar tante tahu kekurangan tante apa..." kata Detty lagi.
Ricky tetap diam sambil menatap mata Detty.
"Tante sangat cantik.. Tubuh tante dari luar lumayan bagus..." kata Ricky serius. Detty terdiam.
"Maksud kamu dengan lumayan bagus apa?" tanya Detty lagi.
"Saya suka cara berpakaian tante. Modis. Itu sangat menarik," kata Ricky. Detty tersenyum.
"Kalau body tante?" tanya Detty lagi.
"Saya tidak tahu karena belum pernah lihat tubuh tante..." kata Ricky cuek.
Detty terdiam sambil lama menatap keponakannya itu..
"Kalau kamu sidah lihat body tante, kamu mau kan meberikan penilaian kamu dengan jujur?" tanya Detty.
"Ah, tante jangan bercanda.. Tidak mungkinlah..." kata Ricky sambil menghabiskan sisa makanannya di piring lalu minum. Detty tersenyum.
"Kita berendam air panas, yuk.. Sekalian mengistirahatkan badan..?" kata Detty mengagetkan perasaan Ricky.
"Ha! Tidak salah dengar nih? Masa sih kita berendam bersama? Malu dong..." kata Ricky sambil menatap Detty.
"Tidak usah malu dong, Ki.. Kita kan masih saudara. Lagian biar kamu bisa lihat body tante..." kata Detty ringan.
"Kamu nanti harus beritahu tante pendapat kamu tentang body tante..." kata Detty.
"Memangnya kita mau ngapain di dalam sana? Kan cuma berendam saja.. Yuk, ah..." kata Detty sambil bangkit lalu menarik tangan Ricky. Ricky serba salah. Tapi akhirnya Ricky menuruti kemauan Detty.
Sesampai di dalam ruangan berendam air panas, Detty tanpa ragu segera melepas seluruh pakaiannya sampai telanjang. Sementara Ricky hampir tak berkedip menatap tubuh telanjang Detty yang masih bagus walau sudah agak berumur.
"Ayo, Ki.. Buka pakaian kamu! Kita berendam bersama..." kata Detty.
Rickypun dengan malu-malu segera melepas pakaiannya.. Apalagi ketika tinggal celana dalam yang harus dibukanya. Ricky tampak malu.
"Yee.. Cepatlah buka dan masuk sini! Apakah harus tante yang bukain celana dalam kamu?" kata Detty sambil tersenyum.
"Sebentar dong..." kata Ricky sambil melepas celana dalamnya.
Ricky menutupi kontolnya yang masih sedikit ditumbuhi bulu dengan tangan, lalu masuk ke tempat berendam.
"Tidak usah malu begitu, Ki.. Biasa sajalah..." kata Detty sambil tersenyum.
"Iya tante..." kata Ricky sambil melepas tangannya yang menutupi kontol, lalu dia bersandar ke tepi kolam.
"Nah bagaimana body tante menurut kamu?" tanya Detty.
"Tubuh tante bagus..." kata Ricky pendek.
"Bagus kenapa?" tanya Detty lagi.
"Tubuh tante putih mulus.. Buah dada cukup besar.. Ramping..." kata Ricky sambil matanya turun melihat memek Detty yang ditumbuhi bulu yang tidak terlalu banyak.
Detty diam saja sambil menatap Ricky. Dibiarkannya mata keponakannya menjelajahi seluruh tubuh telanjangnya.
"Lalu apa lagi?" tanya Detty. Ricky tak menjawab.
"Saya menyukai tubuh tante.. Sexy.." kata Ricky. Detty tersenyum lebar.
"Kamu pernah memegang tubuh wanita?" tanya Detty.
"Belum.. Belum pernah..." kata Ricky sambil menatap Detty.
Detty kembali tersenyum sambil menghampiri Ricky. Hati Ricky jadi berdebar keras.. Tangan Detty lalu meraih tangan Ricky. Dibimbingnya tangan Ricky untuk menjamah buah dadanya.
"Ayo peganglah..." kata Detty.
Ricky dengan agak ragu memegang buah dada Detty. Dielusnya gundukan daging putih di dada Detty, lama-lama diremasnya buah dada Detty dengan pelan. Telunjuk Ricky mulai memainkan puting susu Detty. Detty tersenyum sambil merasakan desiran nikmat yang terasa di buah dadanya. Tak kuat menahan rasa yang ada, Detty lalu mencium bibir Ricky dengan hangat. Tangan Detty segera turun ke badan Ricky dan langsung memegang dan meremas kontol Ricky. Ricky seperti merasakan ada aliran setrum pada tubuhnya..
Tubuhnya bergetar sambil merasakan nikmatnya di remas kontol. Tanpa ragu lagi dibalasnya ciuman Detty dengan hangat pula. Tanga Ricky yang satu lagi mulai berani menyusuri tubuh Detty. Ketika mencapai pantat Detty, tangannya segera meremas pantat Detty yang bulat padat.. Kemudian segera tangannya berpindah ke depan.. Memek Detty diusap dan dielus. Jarinya segera menyusuri belahan memek Detty..
"Mmhh..." desah Detty sambil terus memagut bibir Ricky. Tak lama..
"Naik ke atas, Ki..." kata Detty.
"Duduk di pinggir kolam sini..." kata Detty lagi.
Ricky menurut. Segera dia naik ke pinggiran kolan, lalu duduk di pinggirannya. Detty langsung memegang kontol Ricky, lalu dikocoknya perlahan. Mata Ricky terpejam menahan nikmat. Tak lama mulut Detty segera melahap dan mengulum kontol Ricky sambil terus dikocok.
"Ohh.. Tantee.. Mmhh," desah Ricky sambil memegang kepala Detty.
Pinggul Rickky bergerak mengikuti hisapan dan jilatan Detty pada kontolnya. Setelah hampir beberapa belas menit Ricky diberi kenikmatan oleh mulut Detty.
Detty lalu berkata," Gantian, Ki.. Jilatin tante, ya.."
Ricky mengangguk dengan nafsu yang semakin besar. Detty segera keluar dari kolam lalu duduk di pinggi kolam. Kakinya dibuka lebar. Ricky lalu turun ke kolam, kemudian tak lama lidahnya sudah bermain di belahan memek Detty.
"Ohh.. Oohh.. Aahh..." desah Detty menahan nikmat. Pinggulnya sedikit bergoyang.
"Teruss, Kii..." desahnya lagi sambil matanya terpejam.
"Jilati ininya, Ki..." katqa Detty sambil jarinya mengusap kelentitnya. Lidah Ricky segera menjilati bagian itu.
"Ohh..." desah Detty agak keras.
Setelah beberapa menit..
"Ki, naik sini..." kata Detty sambil menelentangkan tubuhnya di lantai.
Kakinya mengangkang lebar. Ricky lalu keluar dari kolam., Kontolnya sudah sangat tegak dan keras.
"Cepat masukin sini, Ki.. Setubuhi tante..." kata Detty.
Ricky tanpa banyak cerita langsung mengangkangi tubuh Detty. Diarahkan kontolnya ke belahan memek Detty. Tangan Detty segera memegang dan menuntun kontol Ricky ke arah lubang memeknya.
"Tekan dan masukkan pelan-pelan, Ki..." bisik Detty.
Rickypun segera melakukan apa yang diminta Detty. Tak lama, bless.. Ricky merasakan suatu sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa ketika kontolnya masuk ke memek Detty.
"Ohh..." desah Ricky.
Lalu dipompanya kontol keluar dan ke dalam memek Detty.
"Ohh.. Ohh..." keduanya mendesah bersamaan.
"Enak, Ki..?" bisik Detty.
"Enak sekali tante..." bisik Ricky sambil mengecup bibir Detty.
Setelah beberapa lama..
"Lutut saya sakit, tante..." kata Ricky sambil menghentikan gerakannya, sementara kontolnya masih menancap di dalam memek Detty.
"Kena lantai, ya?" kata Detty. Ricky mengangguk.
"Kita sambil berdiri saya, Ki..." kata Detty.
Ricky segera mencabut kontolnya lalu berdiri. Detty juga segera bangkit lalu bersender ke dinding ruangan.
"Masukan kontol kamu, Ki..." kata Detty sambil mengangkat salah satu kakinya agar kontol Ricky mudah masuk.
Rickypun segera memasukkan kontolnya. Setelah kontol Ricky masuk memeknya, Detty menurunkan kakinya lalau berdiri dengan agak berjinjit mengimbangi tinggi tubuh Ricky. Ricky langsung mengeluarmasukkan kontolnya ke memek Detty.
"Ohh.. Enak sekali, Kii..." desah Detty. Detty menggerakan pinggulnya mengimbangi gerakan kontol Ricky. Dengan saling berpelukan mereka terus bersetubuh, sampai akhirnya tubuh Ricky mengejang, gerakannya makin cepat.. Setelah itu kontol Ricky didesakan ke memek Detty semakin dalam. Lalu.. Crott! Croott! Croott! Air mani Ricky tumpah di dalam memek Detty. Tubuh Ricky bergetar keras menahan nikmat.
"Ohh.. Tantee.. Nikmaatt..." desah Ricky sambil memeluk Detty erat, sementara kontolnya masih menancap di memek Detty.
Setelah kembali berendam untuk membersihkan diri, lalu berpakaian, mereka segera pulang ke Bandung. Di sepanjang jalan pulang, Detty dengan erat memeluk tubuh Ricky sambil sesekali tangannya memegang dan meremas kontol Ricky.
"Kamu hebat, Ki..." kata Detty.
"Kapan kita bisa begituan lagi, tante?" tanya Ricky.
"Kapan saja..." kata Detty sambil tersenyum lalu memeluk tubuh Ricky erat di atas motor.
Begitulah, entah sudah berapa puluh kali Detty telah bersetubuh dengan Ricky. Baik di rumah, di motel, dimanapun tiap ada kesempatan. Sampai suatu saat.. Sebetulnya pihak keluarga sudah sering mendengar kabar dari orang kalau Detty sangat akrab dengan Ricky, bahkan terlalu akrab. Bahkan ada yang bilang banyak yang melihat mereka keluar dari motel. Tapi keluarga tetap diam karena tidak ada bukti. Pernah mereka berdua ditanya oleh keluarga mengenai berita yang keluarga dengar dari orang, tapi mereka berdua dengan keras membantah..
Dalam suatu kesempatan, di suatu motel di pusat kota Bandung, Detty dan Ricky sedang asyik memacu birahi.. Saling cium, saling jilat, saling raba, saling remas, saling hisap.. Kontol Ricky keluar masuk memek Detty memberikan sensasi kenikmatan buat keduanya. Desahan dan jeritan kecil tanda kenikamatan kerap keluar dari mulut kedua orang yang masih terikat saudara itu.
Tiba-tiba ditengah kenikmatan yang sedang mereka rasakan terdengar suara pintu motel diketuk. Lama-lama terdengar makin keras.. Lalu mereka berdua berpakaian. Ketika pintu dibuka.. Irwan, Marwan, dan Ismu berdiri di depan pintu dengan wajah sangat buas. Tanpa banyak bicara Ricky langsung dipukuli oleh Irwan sampai babak belur tanpa ampun. Demikian juga dengan Detty, Marwan menyiksanya dengan penuh amarah. Teriakan minta ampun keduanya sudah tidak dihiraukan lagi.. Sampai akhirnya.. Marwan menceraikan Detty. Sedangkan Ricky sejak kejadian itu meninggalkan rumah sampai sekarang..
Cerita seru Kecewa Karena Suami
Perkenalkan nama saya Nendi umur 29 tahun, saya bekerja di sebuah hotel berbintang tiga di kota “B”. Seperti kebanyakan orang bekerja yang kadang membuat kita jenuh, untuk mengatasinya aku sering mengunjungi situs 17Tahun ini, sampai akhirnya saya terobsesi untuk menulis cerita ini.Cerita ini berawal dari pulang kemalaman dengan seorang sekretaris teman sekantor di bagian lain, namanya Vivi berperawakan sintal dengan kulit putih dan tinggi badan yang sedang-sedang saja sekitar 165 cm. Sebetulnya Vivi bukanlah tipe orang yang ramah walaupun dia seorang sekretaris, mungkin karena om-nyalah dia ada di posisi tersebut. Oh ya, Vivi juga sudah menikah kira-kira satu setengah tahun yang lalu, dan saya pernah beberapa kali ketemu dengan suaminya.
Pagi itu pada saat jam masuk kantor aku berpapasan dengannya di pintu masuk, seperti biasa kita saling tersenyum dan mengucapkan selamat pagi. Ah lucu juga kita yang sudah kenal beberapa tahun masih melakukan kebiasaan seperti itu, padahal untuk hitungan waktu selama tiga tahun kita harus lebih akrab dari itu, tapi mau bagaimana lagi karena Vivi orangnya memang seperti itu jadi akupun terbawa-bawa, aku sendiri bertanya-tanya apakah sifatnya yang seperti itu hanya untuk menjaga jarak dengan orang-orang di lingkungan kerja atau memang dia punya pembawaan seperti itu sejak lahir.Mungkin saat itu aku sedang ketiban mujur, tepat di pintu masuk entah apa penyebabnya tiba-tiba saja Vivi seperti akan terjatuh dan refleks aku meraih tubuhnya dengan maksud untuk menahan supaya dia tidak benar-benar terjatuh, tapi tanpa sengaja tanganku menyentuh sesuatu di bagian dadanya. Setelah dapat berdiri dengan sempurna Vivi memandang ke arahku sambil tersenyum, ya ampun menurutku itu merupakan sesuatu yang istimewa mengingat sifatnya yang kuketahui selama ini.“Terima kasih Pak nendi, hampir saja aku terjatuh.”
“Oh, nggak apa-apa, maaf barusan tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa.”Seperti itulah dialog yang terjadi pagi itu. Walaupun nggak mau mikirin terus kejadian tersebut tapi aku tetap merasa kurang enak karena telah menyentuh sesuatu pada tubuhnya walaupun nggak sengaja, waktu kutengok ke arah meja kerjanya melalui kaca pintu ruanganku dia juga kelihatannya kepikiran dengan kejadian tersebut, untung waktu masuk kerja masih empat puluh lima menit lagi jadi belum ada orang, seandainya pada saat itu sudah banyak orang mungkin dia selain merasa kaget juga akan merasa malu.Aku kembali melakukan rutinitas keseharian menggeluti angka-angka yang yang nggak ada ujungnya. Sudah kebiasaanku setiap tiga puluh menit memandang gambar panorama yang kutempel dikaca pintu ruanganku untuk menghindari kelelahan pada mata, tapi ternyata ada sesuatu yang lain di seberang pintu ruanganku pada hari itu, aku melihat Vivi sedang memandang ke arah yang sama sehingga pandangan kami bertemu. Lagi, dia tersenyum kearahku, aku malah jadi bertanya-tanya ada apa gerangan dengan cewek itu, aku yang geer atau memang dia jadi lain hari ini, ah mungkin hanya pikiranku saja yang ngelantur.Jam istirahat makan seperti biasa semua orang ngumpul di EDR untuk makan siang, dan suatu kebetulan lagi waktu nyari tempat duduk ternyata kursi yang kosong ada di sebelah Vivi, akhirnya aku duduk disana dan menyantap makanan yang sudah kuambil. Setelah selesai makan, kebiasaan kami ngobrol ngalor-ngidul sambil menunggu waktu istirahat habis, karena aku duduk disebelah dia jadi aku ngobrol sama dia, padahal sebelumnya aku males ngobrol sama dia.“Gimana kabar suaminya vi?” aku memulai percakapan
“Baik pak.”
“Trus gimana kerjaannya? masih di tempat yang dulu?”
“Sekarang sedang meneruskan studi di amerika, baru berangkat satu bulan yang lalu.”
“Oh begitu, baru tahu aku.”
“Ingin lebih pintar katanya pak.”
“Ya baguslah kalau begitu, kan nantinya juga untuk mesa depan berdua.”
“Iya pak.”Setelah jam istirahat habis semua kembali ke ruangan masing-masing untuk meneruskan kerjaan yang tadi terhenti. Akupun kembali hanyut dengan kerjaanku.Pukul setengah tujuh aku bermaksud beres-beres karena penat juga kerja terus, tanpa sengaja aku nengok ke arah pintu ruanganku ternyata Vivi masih ada di mejanya. Setelah semua beres akupun keluar dari ruangan dan bermaksud untuk pulang, aku melewati mejanya dan iseng aku nyapa dia.“Kok tumben hari gini masih belum pulang?”
“Iya pak, ini baru mau pulang, baru beres, banyak kerjaan hari ini”Aku merasakan gaya bicaranya lain hari ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang kalau bicara selalu kedengaran resmi, yang menimbulkan rasa tidak akrab.“Ya udah kalo begitu kita bareng aja.” ajakku menawarkan.
“Tidak usah pak, biar aku pulang sendiri saja.”
“Nggak apa-apa, ayo kita bareng, ini udah terlalu malam.”
“Baik Pak kalau begitu.”Sambil berjalan menuju tempat parkir kembali kutawarkan jasa yang walaupun sebetulnya niatnya hanya iseng saja.“Gimana kalo vivi bareng aku, kita kan searah.”
“Nggak usah pak, biar aku pakai angkutan umum atau taksi saja.”
“Lho, jangan gitu, ini udah malem, nggak baik perempuan jalan sendiri malem-malem.”
“Baik kalau begitu pak.”Di sepanjang jalan yang dilalui kami tidak banyak bicara sampai akhirnya aku perhatikan dia agak lain, dia kelihatan murung, kenapa ini cewek.“Lho kok kelihatannya murung, kenapa?” tanyaku penasaran.
“Nggak apa-apa pak.”
“Nggak apa-apa kok ngelamun begitu, perlu teman buat ngobrol?” tanyaku memancing.
“Nggak ah pak, malu.”
“Kok malu sih, nggak apa-apa kok, ngobrol aja aku dengerin, kalo bisa dan perlu mungkin aku akan bantu.”
“Susah mulainya pak, soalnya ini terlalu pribadi.”
“Oh begitu, ya kalo nggak mau ya nggak usah, aku nggak akan maksa.”
“Tapi sebetulnya memang aku perlu orang untuk teman ngobrol tentang masalah ini.”
“Ya udah kalo begitu obrolin aja sama aku, rahasia dijamin kok.”“Ini soal suami aku pak.”
“Ada apa dengan suaminya?”
“Itu yang bikin aku malu untuk meneruskannya.”
“Nggak usah malu, kan udah aku bilang dijamin kerahasiaannya kalo vivi ngobrol ke aku.”
“Anu, aku sering baca buku-buku mengenai hubungan suami istri.”
“Trus kenapa?”
“aku baca, akhir dari hubungan badan antara suami istri yang bagus adalah orgasme yang dialami oleh keduanya.”
“Trus letak permasalahannya dimana?”
“Mengenai orgasme, aku sampai dengan saat ini aku hanya sempat membacanya tanpa pernah merasakannya.”Aku sama sekali nggak pernah menduga kalo pembicaraannya akan mengarah kesana, dalam hati aku membatin, masa sih kawin satu setengah tahun sama sekali belum pernah mengalami orgasme? timbul niatku untuk beramal:-)“Masa sih vi, apa betul kamu belum pernah merasakan orgasme seperti yang barusan kamu bilang?”
“Betul pak, kebetulan aku ngobrolin masalah ini dengan bapak, jadi setidaknya bapak bisa memberi masukan karena mungkin ini adalah masalah laki-laki.”
“Ya, gimana ya, sekarang kan suami vivi lagi nggak ada, seharusnya waktu suami vivi ada barengan pergi ke ahlinya untuk konsultasi masalah itu”
“Pernah beberapa kali aku ajak suami aku, tapi menolak dan akhirnya kalau aku singgung masalah itu hanya menimbulkan pertengkaran diantara kami.”Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan tanpa terasa pula kami sudah sampai didepan rumah Vivi, Aku bermaksud mengantar dia sampai depan pintu rumahnya.“Tidak usah pak, biar sampai sini saja.”
“Nggak apa-apa, takut ada apa-apa biar aku antar sampai depan pintu.”Dasar, kakiku menginjak sesuatu yang lembek ditanah dan hampir saja terpeleset karena penerangan di depan rumahnya agak kurang. Setelah sampai di teras rumahnya kulihat kakiku, ternya yang kunjak tadi adalah sesuatu yang kurang enak untuk disebutkan, sampai-sampai sepatuku sebelah kiri hampir setengahnya kena.“Aduh Pak nendi, gimana dong itu kakinya.”
“Nggak apa-apa, nanti aku cuci kalo udah nyampe rumah.”
“Dicuci disini aja pak, nanti nggak enak sepanjang jalan kecium baunya.”
“Ya udah, kalo begitu aku ikut ke toilet.”Setelah membersihkan kaki aku diperliahkan duduk di ruang tamunya, dan ternyata disana sudah menunggu segelas kopi hanngat. Sambil menunggu kakiku kering kami berbincang lagi.“Oh ya vi, mengenai yang kamu ceritakan tadi di jalan, gimana cara kamu mengatasinya?”
“aku sendiri bingung Pak harus bagaimana.”Mendengar jawaban seperti itu dalam otakku timbul pikiran kotor lelaki.“Gimana kalau besok-besok aku kasih apa yang kamu pengen?”
“Yang aku mau yang mana pak.”
“Lho, itu yang sepanjang jalan kamu bilang belum pernah ngalamin.”
“Ah bapak bisa aja.”
“Bener kok, aku bersedia ngasih itu ke kamu.”Termenung dia mendengar perkataanku tadi, melihat dia yang sedang menerawang aku berpikir kenapa juga harus besok-besok, kenapa nggak sekarang aja selagi ada kesempatan.Kudekati dia dan kupegang tangannya, tersentak juga dia dari lamunannya sambil menatap kearahku dengan penuh tanda tanya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan kukecup pipi sebelah kanannya, dia diam tidak bereaksi. Ku kecup bibirnya, dia menarik napas dalam entah apa yang ada dipikirannya dan tetap diam, kulanjutkan mencium hidungnya dan dia memejamkan mata.Ternyata napsu sudah menggerogoti kepalaku, kulumat bibirnya yang tipis dan ternyata dia membalas lumatanku, bibir kami saling berpagut dan kulihat dia begitu meresapi dan menikmati adegan itu. Kitarik tangannya untuk duduk disebelahku di sofa yang lebih panjang, dia hanya mengikuti sambil menatapku. Kembali kulumat bibirnya, lagi, dia membalasnya dengan penuh semangat.Dengan posisi duduk seperti itu tanganku bisa mulai bekerja dan bergerilya. Kuraba bagian dadanya, dia malah bergerak seolah-olah menyodorkan dadanya untuk kukerjain. Kuremas dadanya dari luar bajunya, tangan kirinya membuka kancing baju bagian atasnya kemudian membimbing tangan kananku untuk masuk kedalam BHnya. Ya ampun bener-bener udah nggak tahan dia rupanya.Kulepas tangan dan bibirku dari tubuhnya, aku berpindah posisi bersandar pada pegangan sofa tempatku duduk dan membuka kalkiku lebar-lebar. Kutarik dia untuk duduk membelakangiku, dari belakang kubuka baju dan BHnya yang saat itu sudah nempel nggak karuan, kuciumi leher bagian belakang Vivi dan tangan kiri kananku memegang gunung di dadanya masing-masing satu, dia bersandar ketubuhku seperti lemas tidak memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri dan mulai kuremas payudaranya sambil terus kuciumi tengkuknya.Setelah cukup lama meremas buah dadanya tangan kiriku mulai berpindah kebawah menyusuri bagian perutnya dan berhenti di tengah selangkangannya, dia melenguh waktu kuraba bagian itu. Kusingkap roknya dan tanganku langsung masuk ke celana dalamnya, kutemukan sesuatu yang hangat-hangat lembab disana, sudah basah rupanya. Kutekan klitorisnya dengan jari tengah tangan kiriku.“Ohh .. ehh ..”Aku semakin bernapsu mendengan rintihannya dan kumasukkan jariku ke vaginanya, suaranya semakin menjadi. Kukeluar masukkan jariku disana, tubuhnya semakin melenting seperti batang plastik kepanasan, terus kukucek-kucek semakin cepat tubuhnya bergetar menerima perlakuanku. Dua puluh menit lamanya kulakukan itu dan akhirnya keluar suara dari mulutnya.“Udah dulu pak, aku nggak tahan pengen pipis.”
“Jangan ditahan, biarkan aja lepas.”
“Aduh pak, nggak tahan, vivi mau pipis .. ohh .. ahh.”Badanya semakin bergetar, dan akhirnya.“Ahh .. uhh.”Badanya mengejang beberapa saat sebelum akhirnya dia lunglai bersender kedadaku.“Gimana vi rasanya?”
“Enak pak.”Kulihat air matanya berlinang.“Kenapa kamu menangis vi.”Dia diam tidak menyahut.“Kamu nyesel udah melakukan ini?” tanyaku.
“Bukan pak.”
“Lantas?”
“aku bahagia, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku idam-idamkan selama ini yang seharusnya datang dari suami aku.”
“Oh begitu.”Kami saling terdiam beberapa saat sampai aku lupa bahwa jari tengah tangan kiriku masih bersarang didalam vaginanya dan aku cabut perlahan, dia menggeliat waktu kutarik jari tanganku, dan aku masih tercenung dengan kata-kata terakhir yang terlontar dari mulutnya, benar rupanya .. dia belum pernah merasakan orgasme.“Mau ke kamar mandi pak?”Tiba-tiba suara itu menyadarkanku dari lamunan ..“Oh ya, sebelah mana kamar mandinya?”
“Sebelah sini pak”, sahutnya sambil menunjukkan jalan menuju kamar mandi.Dia kembali ke ruang tamu sementara aku mencuci bagian tangan yang tadi sudah melaksanakan tugas sebagai seorang laki-laki terhadap seorang perempuan. Tak habisnya aku berpikir, kenapa orang berumah tangga sudah sekian lama tapi si perempuan baru mengalami orgasme satu kali saja dan itupun bukan oleh suaminya.Selesai dari kamar mandi aku kembali ke ruang tamu dan kutemukan dia sedang melihat acara di televisi, tapi kulihat
dari wajahnya seakan pikirannya sedang menerawang, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu.“Vi, udah malam nih, saya pulang dulu ya ..”Terhenyak dia dan menatapku ..“Emm, pak, mau nggak malam ini nemanin vivi?”Kaget juga aku menerima pertanyaan seperti itu karena memang tidak pikiran untuk menginap dirumahnya malam ini, tapi aku tidak mau mengecewakan dia yang meminta dengan wajah mengharap.“Waktu kan masih banyak, besok kita ketemu lagi di kantor, dan kapan-kapan kita masih bisa ketemu diluar kantor.”Dia berdiri dan menghampiriku ..“Terima kasih ya pak, vivi sangat bahagia malam ini, saya harap bapak tidak bosan menemani saya.”
“Kita kan kenal sudah lama, saya selalu bersedia untuk membantu kamu dalam hal apapun.”
“Sekali lagi terima kasih, boleh kalau mau pulang sekarang dan tolong sampaikan salam saya buat ibu.”Akhirnya aku pulang dengan terus dihinggapi pertanyaan didalam pikiranku, kenapa dia bisa begitu, kasihan sekali dia.Seperti biasa esoknya aku masuk kantor pagi-pagi sekali karena memang selalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kupikir belum ada siapa-siapa karena biasanya yang sudah ada saat aku datang adalah office boy, tapi ternyata pagi itu aku disambut dengan senyuman vivi yang sudah duduk di meja kerjanya. Tidak seperti biasa, pada hari-hari sebelumnya aku selalu melihat vivi dalam penampilan yang lain dari pagi ini, sekarang dia terlihat berseri dan terkesan ramah dan akrab.“Pagi vi.”
“Pagi pak.”
“Gimana, bisa tidur nyenyak tadi malam?”
“Ah bapak, bisa aja, tadi malam saya tidur pulas sekali.”
“Ya sudah, saya tinggal dulu ya, selamat bekerja.”
“Iya pak.”Aku meneruskan langkahku menuju ruang kerjaku yang memang tidak jauh dari meja kerjanya, dari dalam ruangan kembali aku menengokkan wajah ke arahnya, ternyata dia masih menatapku sambil tersenyum.Tidak seperti biasanya, aku merasakan hari ini bekerja merupakan sesuatu yang membosankan, suntuk rasanya menghadapi pekerjaan yang memang dari hari ke hari selalu saja ada sesuatu yang harus diulang, akhirnya aku menulis cerita ini. HP didalam saku celanaku berbunyi, ada SMS yang masuk, kubuka SMS tersebut yang rupanya datang dari cewek diseberang ruanganku yang tadi pagi menatapku sampai aku masuk ke ruangan ini .. ya dia, vivi.“Pak, nanti mlm ada acara gak? kalo tidak bisa gak bapak menuhin janji bapak tadi malam.”Begitulah isi SMS yang kuterima, aku berpikir agresif juga nih cewek pada akhirnya. Kuangkan telepon yang ada diatas meja kerjaku dan kutekan nomor extensin dia.“Kenapa gitu vi, mau ngajak kemana?”
“Eh bapak, kirain siapa, enggak, vivi udah nyediain makan malam di rumah, bapak bisa kan makan malam sama vivi nanti malam?”
“Boleh, kalau gitu nanti pulang saya tunggu di ruang parkir ya.”
“Iya pak, ma kasih.”Sore hari aku terkejut karena waktu pulang sudah terlewat sepuluh menit, bergegas kubereskan ruanganku dan berlari menuju ruang parkir. Disana vivi sudah menungguku, tapi dia tersenyum waktu melihatku datang, tadinya kupikir dia akan kecewa, tapi syukurlah kelihatanyya dia tidak kecewa.“Maaf jadi nunggu ya vi, harus beres-beres sesuatu dulu.”
“Nggak apa-apa pak, vivi juga barusan ada yang harus diselesaikan dulu dengan neni.”
“Yo.” kataku sambil membukkan pintu untuk dia, dan dia masuk kedalam mobil kemudian duduk disebelahku.Diperjalanan kami ngobrol kesana kemari, dan tanpa terasa akhirnya kami masuk ke komplek perumahan dimana vivi tinggal lalu kami turun menuju ke rumahnya. Dia membuka pintu depan rumahnya dengan susah, rupanya ada masalah dengan kunci pintu tersebut. Aku tidak berusaha membantunya, karena dari belakang baru kuperhatikan kali ini kalau bagian tengah belakang milik vivi menarik sekali, lingkarannya tidak terlalu besar, tapi aku yakin laki-laki akan suka bila melihatnya dalam keadaan setengah berjongkok seperti itu.Akhirnya pintu terbuka juga dan dia mempersilakan aku masuk, dan kamipun masuk. Setelah mempersilakan aku untuk duduk, dia pergi ke kamarnya, setelah itu dia kembali lagi dengan pakaian yang sudah digantinya, dia tidak langsung menghampiriku tapi terus melangkah ke arah dapur dan kembali dengan segelas air putih dan segelas kopi, lalu dia menyodorkan kopi tersebut kepadaku.“Wah enak sekali nih hari gini minum kopi, kamu kok nggak minum kopi juga vi?”
“Saya nggak pernah minum kopi pak, nggak boleh sama si mas.”
“Oh gitu.”
“Pak mobilnya dimasukin garasi aja ya, biar vivi yang mindahin.”
“Bolah, sekalian saya mau ikut ke kamar mandi dulu, badan rasanya nggak enak kalau masih ada keringatnya.”
“Handuknya ada di kamar mandi pak.”Dia berdiri sambil menerima kunci mobil yang kuserahkan sedangkan aku ngeloyor ke kamar mandi untuk terus membersihkan badan yang memang rasanya agak nggak enak setelah barusan diperjalanan dihadapkan ke kondisi jalan yang cukup macet tidak seperti biasa.Keluar dari kamar mandi kudapati vivi kelihatan sedikit bingung, kutanya dia,“Kenapa vi, kok seperti yang bingung begitu ..”
“Anu pak, barusan ada telepon dari restoran yang saya pesani untuk makan malam, katanya nggak bisa nganter makanan yang dipesan karena kendaraannya nggak ada.”
“Ya sudah nggak apa-apa, kita kan bisa bikin makanan sendiri, punya apa yang bisa dimasak?”
“Adu pa, vivi jadi malu.”
“Udah nggak apa-apa kok, malah jadi bagus kita bisa masak barengan.”Kataku sambil tersenyum, vivi melangkahkan kakinya menuju dapur dan kuikuti, sampai didapur dia membuka lemari es yang ternyata hanya ada sedikit makanan yang siap masak disana. Akhirnya kami masak masakan seadanya sambil berbincang kesana kemari.Tanpa sengaja aku perhatikan postur tubuh vivi yang terlihat lain dengan pakaian yang dikenakan sekarang, pakaian yang sedikir agak ketat menyebabkan lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas, sungguh bentuk tubuh yang sempurna untuk wanita seusia dia. Tanpa sadar kuhampiri dia dan dari belakang kupeluk dia yang sedang melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, dia menoleh kearahku dan tersenyum, kudekatkan bibirku ke bibirnya dan dia menyambutnya, awalnya hanya ciuman biasa sampai akhirnya kami saling berpagutan disini, ya di dapur miliknya.Berlanjut terus pergulatan bibir tersebut, kuraba buah dadanya dan kuremas dari luar bajunya. Tangan vivi bergerak membuka kancing baju bagian depan dilanjutkan dengan menyingkapkan BH yang dia pakai, dengan demikian tanganku kiri kanan lebih leluasa meremasnya. Beberapa saat kemudian kulepaskan bibirku dari bibirnya dan kuarahkan ke buah dadanya yang terlihat sungguh indah dengan warna puting yang kemerahan, kujilat puting yang sebelah kanan dan dia menarik nafas dalam menerima perlakuan itu, akhirnya kukulum puting itu dan kuhisap dalam-dalam sambil tangan kananku tetap meremas dadanya yang sebelah kiri.Tangan kiriku kugerakkan ke arah pantatnya, dan kuremas pantat yang kenyal itu. Kumasukkan tangan itu ke dalam rok yang dia pakai dan disana kuraba ada sesuatu yang hangat dan sedikit basah dan kuraba-raba bagian itu terus menerus. Rupanya dia tidak tahan menerima sikapku itu, tangannya bergerak membuka resleting roknya dan melorotkannya kebawah. Aku hentikan kegiatan bibirku di buah dadanya lalu bubuka celana dalamnya dan kutemukan bulu indah yang tidak terlalu banyak disana kusingkapkan sedikit dan kuarahkan bibirku kesana dan kujilat bagian kecil yang menonjol disana.Suara lenguhan dari bibirnya sudah tidak terbayangkan lagi, akan memperpanjang cerita kalau saya tuliskan disini.“Oh, pak, saya belum pernah merasakan ini, oh ..”Aku terus melanjutkan kegiatan lidahku diselangkangannya sambil terus memasukkan lidah ini kedalam gua lembab yang berbau khas milik wanita. Lenguhan demi lenguhan terus keluar dari mulutnya sampai akhirnya kurasakan tubuhnya mengejang dan bergetar dengan mengeluarkan teriakan yang tidak bisa ditahan dari mulutnya, dia sudah sampai ke puncak kenikmatan sentuhan seorang lelaku seperti aku ini, dan akhirnya kuhentikan kegiatanku itu lalu berdiri menghadap dia, danpa kuduga dia mencium bibirku.“Pak kita ke kamar ya.”Dia menuntunku masuk ke kamar tidurnya, kamar itu terlihat rapi, lalu kami duduk dipinggir tempat tidur dan kembali saling berpagutan disana. Dia bangkit berdiri dihadapanku seraya bertanya.“Boleh saya buka pakaian bapak?”Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut, lalu dia membuka seluruh pakaian yang kukenakan sampai ke celana dalamku. Dia memegang senjataku yang dia dapati dibalik celana dalam yang baru saja terbuka, lalu dia menciumnya dan menjilatinya, nikmat sekali rasanya.“Dari dulu saya ingin melakukan ini, tapi suami saya nggak pernah mau diperlakukan begini.”Dia berkata begitu sambil kembali meneruskan kegiatannya menjilati senjata milikku, tanpa kuduga dia lanjutkan kegiatannya tadi dengan mengulum dan menyedot batang kemaluanku, dan rasanya lebih nikmat dari yang tadi kurasakan. Akhirnya dia berhenti berlaku seperti itu dan berkata.“Pak, tidurin vivi ya.”Tanpa menunggu permintaan itu terulang aku baringkan tubuhnya diatas tempat tidur, aku ciumi sekujur tubuhnya yang dibalas dengan gelinjangan tubuh mulus itu, akhirnya setelah sekian lama kucoba masukkan kemaluanku kedalam lubang senggama yang memang sudah basah dari sejak tadi, dan “Ahh ..” itulah yang keluar dari mulut vivi, sungguh nikmat sekali rasanya memasuki tubuh yang telanjang ini, dan satu lagi, lubang kemaluannya masih terasa cukup sempit dan menggigit, terbersit lam pikiranku sebuah pertanyaan, sebesar apa milik suaminya sampai lubang ini masih terasa sempit seperti ini.Kuperhatikan jam yang ada di dinding kamarnya menunjukkan bahwa aku sudah mengeluar masukkan kemaluanku kedalam tubuhnya selama dua puluh menit dan akhirnya kembali kurasakan tubuhnya mengejang sambil mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya, akhirnya dia menggelepar sambil memeluk tubuhku erat-erat seolah tidak ingin lepas dari tubuhnya, karena pelukannya itu aku jadi terhenti dari kegiatanku.Beberapa saat kemudian vivi melepaskan pelukannya dan terkulai lemas, tapi aku melihat sebuah senyuman puas diwajahnya dan itu membuat aku merasa puas karena malam ini dia sudah dua kali mendapatkan apa yang selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya.“Gimana vi?”
“Aduh, vivi lemas tapi tadi itu nikmat sekali ..”
“Vivi mau coba gaya yang lain?”
“Emm ..”Kubangunkan tubuhnya dan kugerakkan untuk membelakangiku, kudorong pundaknya dengan pelan sampai dia menungging dihadapanku, kumasukkan kejantananku kedalam lubang senggamanya dan dia mengeluarkan teriakan kecil.“Aduh .. Pak enak sekali, dorong terus pak, vivi belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini ..”Aku keluar masukkan kemaluanku ini kedalam tubuhnya dengan irama yang semakin lama semakin kupercepat, lama juga aku melakukan itu sampai akhirnya dia berkata “Pak vivi mau pipis lagi ..”, semakin kupercepat gerakanku karena kurasakan ada sesuatu yang mendorong ingin keluar dari dalam tubuhku.Dalam kondisi lemas dan masih menungging vivi menerima gerakan maju mundur dariku, mungkin dia tahu kalau aku sebentar lagi mencapai klimaks, dan akhirnya menyemburlah cairan dari kemaluanku masuk semua kedalam tubuhnya. Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuhku lemas bagai tak bertulang dan kucabut senjataku dari lubang milik vivi.Aku terbaring disampingnya setelah melepaskan nikmat yang diada tara, dia tersenyum puas sambil menatapku dan memelukku, lalu kami tertidur dengan perasaan masing-masing. Dalam tidur aku memimpikan kegiatan yang barusan kami lakukan dan waktu hampir pagi aku terbangun kudapati vivi masih terpejam dengan wajah yang damai sambil masih memelukku, kulepaskan pelukkannya dan dia terbangun, lalu kami meneruskan kegiatan yang tadi malam terpotong oleh tidur sampai akhirnya kami berdua bangun dan menuju kamar mandi dalam keadaan masing-masing telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh kami.Dikamar mandi kami melakukannya lagi, dan kembali dia mengucapkan kata-kata yang tidak habis aku bisa mengerti “Vivi belum pernah melakukan seperti ini sebelumnya ..”.Akhirnya kami berangkat kerja dari rumah vivi, sengaja masih pagi agar tidak ada orang di kantor yang melihat kedatangan kami berdua untuk menghindari sesuatu yang kami berdua tidak inginkan.Sampai saya menulis cerita ini, masih tetap terngiang kata-katanya yang sering mengucapkan kata-kata “Vivi belum pernah melakukan seperti ini sebelumnya ..” setiap saya berhubungan dengan dia dengan gaya yang lain.Berawal dari situlah kami sering melakukan hubungan suami istri, dan itu selalu kami lakukan atas permintaan dari dia, aku sendiri tidak pernah memintanya karena aku tidak mau dia punya pikiran seolah-olah aku mengeksploitir dia. Dan sekarang vivi yang kukenal jauh berbeda dari vivi yang dulu, dia menjadi orang yang ramah dan selalu tersenyum kepada semua orang dilingkungannya.
Cerita seru Gara-Gara Salah Sambung
Aku sedang asik membuat laporan cashflows project yang harus kuselesaikan dan mengirimkannya malam itu juga ke perusahaan partner kami di Paris. Aku ditemani oleh seorang "OB" yang meski sudah beristri dan memiliki 1 orang anak, masih suka senang meladeni/mencari-cari orang yang salah sambung telepon ke kantor. Jam di meja kerjaku 10.30 tapi lampu (line) telepon masih menyala, sambil istirahat sebentar, kucari pesawat mana yang masih online itu. Belum sempat ketemu, "OB"-ku sudah panggil aku lewat intercom dari pentry tempatnya ber-online ria, "Bang, ada yang mau ngomong nih.. ambil yang kelap-kelip ya.." (Bang = Abang; "OB" kantorku yang satu ini selalu meng-Abang-kan).
Dengan malas kuangkat gagang telepon, sambil teriak ke "OB"-ku itu.
"Siapa Nang?"
"Angkat aja.. Bang," jawabnya lagi sambil teriak dari pentry (pentry dengan mejaku agak berjauhan).
Pada akhirnya salah sambung ini berkelanjutan jadi menarik. Nama orang yang "salah sambung" itu adalah Lia dan dengan setia akan meneleponku setiap 2 minggu sekali setiap jam 21:00 - 24:00 dan akhirnya aku juga jadi menunggu-nunggu telepon dari Lia. Perlu kuberitahukan di sini, sejak pertama telepon, Lia (aku memanggilnya "Li") ini bicaranya tidak jauh dari selangkangan dan pusar, dan mungkin ini juga yang membuat aku ketagihan melayaninya.
Hingga pada 4 bulan berikutnya, hari Sabtu kami copy darat. Dari situlah baru aku kenal Li dengan wajah melayunya, kulitnya putih, tinggi 162 cm, berat 55 kg, payudara 36C, betis kecil, pantatnya kecil tapi pinggulnya lebih lebar (bahenol), usianya sekitar 35 tahunan. Terus terang, fisiknya dari dada ke bawah lebih meruntuhkan iman, ketimbang wajahnya. Setelah makan dan ngobrol ngalor ngidul, kami ke luar.
"Li, mau terus pulang atau ada acara lain lagi nih..?"
"Aku tadi ijin keluar mau ke Bogor, tempat temen waktu SMA, jadi kayaknya kalo pulang sekarangmasih kesiangan deh.. kita jalan aja yuk..!"
"Kemana?" tanyaku, sambil menggoda nakal.
"Ah.. kamu ngelantur deh.." sambil mencubit pinggangku.
aku hanya meringis, sambil aku langsung gandeng pinggangnya menuju mobil di parkiran. Keluar dari Wendy's, aku langsung mengarahkan mobil ke tol Jagorawi. Setelah masuk tol,
"Kok, kita ke sini.. mau kemana?"
"Ya.. ke Bogor lah.. paling tidak kan, kamu nggak terlalu banyak bo'ongnya."
Lia diam saja sambil merenggut manja dan memalingkan wajah ke luar.
Kupegang bahunya, "Jangan marah gitu doong, eh.. tapi kamu manis juga kalo lagi cemberut gitu.." lagi-lagi Lia mencubitku di pinggang. Kali ini kubiarkan, malah kutangkap tangannya dengan tangan kiri, dan kutaruh tangannya di pangkuanku. Lia tidak menarik tangannya, malah mengelus-elus perlahan bagian terlarangku sampai menggeliat di balik celana. Mobil memasuki jalan desa di pesisir Kali Cisadane dan berbelok masuk ke rumah yang kubeli untuk beristirahat.
"Li.. kita udah sampai, yuk.. masuk.." aku mendahului langsung masuk kamar, membuka kaos dan jeans lalu menggantinya dengan celana pendek.
"Li, kalo kamu mau pakai celana pendek atau kaos, di dalam ya.." teriakku dari dalam.
"Iiihh.. emangnya aku mau langsung ngamar gitu.." sambil berjalan ragu-ragu, melongokkan wajah ke pintu kamar.
"Eh.. yang mau begituan siapa..?"
"Aku mau berenang di kali bawah, kalo kamu mau ikut, ganti kaos dan celana pendek, nih.."
Belum lagi Lia masuk, aku sudah berlari ke luar dan di pintu bertabrakan dengan Lia yang maumasuk. Kami jatuh bertindihan dan tertawa bersama-sama. "Li, gila nih.. aku jadi kepinginbanget.. tadi niatnya mau berenang, tapi jadi berubah kebelet gini.." Dengan refleks kubopong Lia ke dalam kamar dan kubimbing untuk berdiri sambil kupeluk dari belakang, mulut dan bibirku ramai dengan kecupan rangsangan yang lembut namun bergairah di telinga, tengkuk, dan leher, tanganku mengusap-usap di sekitar perut. Ketika rangsangan itu menjalar di dadanya, Lia membalik, "Gi.. Aku juga spaning, nih.." sambil bibirnya terbuka dengan gemetar sensual karena gairah, mencari-cari bibirku. Kulumat bibirnya, kukecup bibir bawahnya dan kuputar dan kulepaskan dan langsung memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Belum lagi Lia siap, aku sudah menangkap lidahnya dan menghisapnya dalam-dalam, sambil tangan kiri menopang punggung, tangan kanan menjalar di antara dua bukit kembar bergantian. Lia terlihat sangat bergetar, menahan gejolak akibat rabaan tanganku di dadanya dan sedotan mulutku pada lidahnya sembari berjalan perlahan ke belakang untuk bersandar pada dinding kamar. Kutarik lepas BH-nya, aku agak renggangkan dan mengangkat tangannya ke atas untuk melepas t-shirtnya, dan menarik turun jeans beserta celana dalam yang dipakainya.
Lia tidak ketinggalan menarik lepas celana pendek dan CD yang kukenakan sekaligus, aku pun melepas kaosku sendiri. Sehingga kami sudah berbugil ria tanpa sehelai benangpun yangmelekat. Pada posisinya berdiri kujilati sekitar permukaan vaginanya, jari-jariku bermain indah menyibakkan rambut di belahan kemaluannya yang coklat kemerahan dan lembab yang beraroma khas wanita, menciumi bibir luar vagina sebelah luar dan menjepitnya dengan bibir serta menariknya dengan lembut, melepaskannya, dan berulang-ulang, terlihat Lia menggeletar dan sedikitmembungkuk, menahan geli dan gejolak yang luar biasa, "Ssshh.. ah.. Gi.. sshh.. aduuhh.. enak bangeet.. sshh.. ahh.." kumasukkan lidah ke dalam liang vagina dan mengeluar-masukkannya secara teratur. Vagina Lia sudah banjir air liur dan cairan birahi kewanitaannya.
Lia memegang rambutku dan menekan-nekan kepalaku ke arah vaginanya, sambil menceracau. "Ogi.. ahh.. sshh.. terus masukin lagi.. sayang.. aduhh.. ahh.. lebih enak oralnyaini dari pada online, sayangghh.. sshh.. ahh.." (Selama kurang lebih 4 bulan Liaselalu melakukan "bercinta/mastubrasi" selama sedang online denganku). Kubimbing Lia untuk merebah di lantai yang berkarpet, dan kuputar tubuhku 180 derajat sehingga posisi "69", dan langsung dilahapnya kemaluanku yang sudah menegang dan mengacung melengkung ke atas, dikulum, disedot, bukan main nikmatnya, sampai-sampai tidak bisa berkonsentrasi untuk mengerjaivaginanya. "Aahh.. agghh.. sshh agghh.." Hampir 10 menit kami melakukan posisi itu, dan sambil mengangkat pantatnya dan pinggulnya, Lia mengeluarkan cairan dari vaginanya, lembut hangat terasa di ujung lidahku. Aku seka dengan lidah dan kusedot sampai kering, nikmat sekali protein itu, dan Lia berhenti sejenak untuk ketegangan dan orgasme yang dilaluinya. "Ahh.. ahh.. ayo bikin aku keluar lagi sayang.."
Kuusap lagi vaginanya dan menekan-nekan di antara lubang vaginanya yang kiri dan kanan, sambilmenarik-narik rambut kemaluannya, sambil menjepit klitorisnya dengan bibirku. Sekali-kali kujulurkan lidahku menyentuh bagian dalam vaginanya, dari kekenduran sehabis orgasme. Vaginanya mulai terlihat menegang kembali, terus kupacu sampai kembali berdenyut-denyut seperti nadi. Sementara batang penis dan "topi baja" tak henti-hentinya dikerjai dan dijilati oleh Lia, yang hampir aku tidak kuat menahan. Sebelum terlontar, ternyata Lia sudah benar-benar "siap tempur" di vaginanya. "Ayo, Gi.. masukin kontol kamu ke memekku, aku udah enggakkh shhabar.. nihh..ahh.." Kulepaskan perlahan penisku dari genggaman dan kulumannya. Posisi kami sekarangberhadap-hadapan, kuangkat/berdirikan pahanya dan posisi telapak kaki tetap pada karpet, sehingga vaginanya benar-benar terlihat dan terkuak dengan lebarnya, dan kupandangi.
"Li, memek kamu seksi banget, belum pernah aku nemuin yang kayak gini.." (berbohong).
"Ayoo.. dong Gi.. udah nggak nahan nih.. kok cuma diliatin aja sih," sambil memegangi paha.
Terus ke arah vagina yang sudah lembab dan licin itu, kuarahkan penis yang sudah menegang melengkung dan mengkilap kepalanya itu ke vaginanya. Perlahan-lahan masuk, dan dengan tiba-tiba kutancapkan sampai sedalam-dalamnya. "Aghh.. gila.. kamu.. asshh.." tanpa menjawab kuputar searah jarum jam berkali-kali dan ke arah sebaliknya tanpa menarik penis, baru perlahan-lahan kutarik dan tekan, mulailah ceracaunya, "Aaghh.. Gi.. ahh.. agghh.." aku juga mengalami hal yang sama, "Li.. memek kamu hangat, dan kayak ngejepit kontolku nih.. ahh.. agghh.." Peluh sudah membanjir di tubuhku dan Lia, cairan birahi telah membanjir di dinding vagina Lia, sehingga menimbulkan suara yang romantis dan binal, "SsebBH.. beebb.. sebb.." berulang-ulang.
Lebih 15 menit kutarik keluar seluruh penisku, sehingga menimbulkan bunyi, "Plob.." Lia benar-benar sedang "on" dan nyaris klimaks, dan langsung melihat ke arahku.
"Kenapa dicabut sayanghh.."
"Sabar, ya.. kamu udah mau keluar khan.. tahan dulu yah.." sembari ganti posisi sambil kami istirahat, biar asik klimaksnya.
Tanpa menjawab Lia setuju dengan alasan yang kuberikan. Kutelungkupkan posisi merangkak (doggy style) dan kumasukkan ke vaginanya, terpeleset.. dan dengan bantuan tangan Lia akhirnya penis yang sudah mengkilap saking tegangnya itu berhasil masuk ke dalam, dan mulai menarik dan mendorong pantat untuk menikmati permainan ini sampai puncak. kuraih bukit kembar yang bergelantungan, kuusap putingnya, kutarik-tarik dan kutekan, kujilati punggungnya yang penuh dengan peluh. Terlihat Lia menegang dan aku tidak tahan lagi, kucabut penis dan kubalikkan posisi Lia menjadi terlentang, kembali kumasukkan penisku ke vaginanya terus kupertahankan irama permainan sesantai mungkin. Rupa-rupanya cara inilah wanita yang biasatergila-gila dalam mencapai orgasme klimaksnya yang tiada tara.
"Gi.. tekan sayang.. ahh.. agghh.. sshh.." bergantian ceracau kami berdua. Kamisama-sama menegang, terus berpacu dengan kenikmatan gelora yang tiada tara, dan pada hampir menit ke-50, kubisikkan kepada Lia,
"Aku.. udahh.. mau keluar.. sayangghh.. agghh.. sshh.., bagaimana dengan kamu..?"
"Aku juga mau keluarhh.." jawab Lia sambil merem-melek.
"Ayoo.. kita keluarin bareng yahh.. aduhh.. sshh.. agghh.."
Kami menegang, Lia menjepit pinggangku dan menjambak rambutku. Kuhisap bergantian puting bukit kembarnya sambil sekali-kali kumasukkan semuat-muatnya gundukan bukit itu dan kuhisap serta dilepaskan. Lia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak tahu mana yang lebih nikmat pada penghujung permainan seks ini, dan aku tidak tahan, hampir bersamaan kami keluarkan cairan bersamaan, seolah tidak ada kering-keringnya. Hampir 14 kali tembakan penisku menyemburkan sperma di dalam vagina Lia, demikian Lia juga kurasakan mengalir seperti mata air, air mani yang dikeluarkannya pada saat klimaks.
Pulang dari Bogor, kuantar Lia ke rumahnya. Sampai di rumah, ternyata Lia masih berhasrat lagi, kebetulan di rumah hanya ada anaknya yang sudah kelas 2 SMU sedang tidur siang dan pembantu sedang mencuci di belakang. Aku khawatir juga, karena bermain api di kandang macan.
"Suamimu pulang jam berapa?" tanyaku pelan.
"Dia sih jam 9 malam baru sampai," jawab Lia sambil menyodorkan minuman marquisa dingin.
"Yuk.. kita ke atas!" ajaknya sambil manarik tanganku, dan lagi-lagi aku menurut.
Baru saja kami melakukan warming up dan saling membelai dan berciuman, tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan-lahan dan entah sudah berapa lama Ita anak Lia berdiri di situ sambil memperhatikan mamanya sedang aku kerjai, sampai pada suatu waktu kami melihatnya dan refleks menghentikan segala aktifitas.
"Kok berhenti Mah.." aku diam dan sedikit pucat, lebih-lebih Lia, sebaliknya Ita dengan tenangnya menghampiri kami.
"Mah.. tenang aja, Ita ngerti kok, Ita juga udah pernah kayak gini, sama Mas Andre."
Belakangan aku tahu Andre adalah pacar Ita. Dengan mengorbankan aku, Lia bilang,
"Ini Mas Ogi mau pulang, tapi maksa Mamah untuk dicium, Mamah malu, jadi ngasihnya di sini aja (atas loteng),"
Lebih terkejut lagi, aku dan Lia,
"Udahlah Mah.. aku udah tahu kok kesepian, Mamah terusin aja, dan pasti aman, tapi asal aku boleh liat."
Kami berpandangan, tapi jengah untuk meneruskan. Dengan santainya, Ita membukapakaian SMU-nya, dan terus memandangi kami. Akhirnya Lia memeluk Ita dan meminta maaf, tapi dengan halus Ita mendorong Lia dan mengalungkan tangannya ke leherku dan menciumiku. Hilang semua kekakuan, dan akhirnya Lia membantu melepaskan pakaian yang kupakai dan akhirnya melepas pakaiannya pula. Jadilah pertandingan 2 lawan 1. Gila anak dan ibu sekaligus. Ita ternyata memiliki gaya konvensional, meski dia sudah beberapa kali melakukan hubungan seks, sehingga mau tidak mau Lia harus mengalah ketika Ita kukerjai dan kulumat. Yang paling banyak kami lakukan adalah dengan gaya telentang atau duduk dan bergantian. Lia dan Ita di atas sambil ber-rodeo di atas rudal yang berdiri kokoh. Ketika Lia menggunakan doggy style, Ita berada di atas punggungnya (tidak sampai menduduki) dan vaginanya mengarah ke mulutku dan kukerjai habis-habisan sampai berkali-kali. Ia menjerit karena klimaks prematur akibat sensitifitas rangsangannya yang begitu peka.
Lia telah bercucuran peluh, aku dan Ita juga serupa, dan permainan itu hampir 2 jam kami lakukan karena Ita cepat keluar dan cepat sekali "on", sementara Lia terkontrol karenasedikit agak malu bersaing dengan Ita, serasa spermaku terkuras habis. Jika dengan Lia, kumuntahkan di dalam vaginanya, sedangkan dengan Ita kukeluarkan di mulutnya. Ita dengan terampil menyedotnya sampai tuntas. Sampai akhirnya kami terkulai lemas di kamar atas, ketika sedang maghrib, aku diam-diam meninggalkan kamar itu dengan lunglai. Sejak itu tidak pernah lagi Lia menghubungiku, dan aku pun segan untuk menghubunginya, namun permainan seperti ini baru sekali dalam pengalaman seks-ku. Ma'afkan dan terimakasih untuk Lia dan Ita atas pengalaman itu, karena salah sambung.
Saturday, 25 February 2012
Cerita seru Empat Lawan Satu
Yanti, sebut saja demikian, sudah tiga minggu kami saling berbagi kebutuhan biologis. Yanti adalah wanita berusia 25 tahun dengan tinggi 160 cm, dan dengan dada yang amat besar 36B ukurannya, kulit putih, dengan wajah mirip wanita bangsawan.
Hubungan kami berawal pada sebuah pesta pertunangan rekan bisnis saya, aku kenalan dengannya dan menjadi akrab dengannya bahkan aku menawarkan untuk pulang bersama karena dia bosan untuk berada disana karena dia telah ditinggal oleh temannya. Yanti pun naik ke mobilku, dia tidak keberatan dengan itu, malam itu suhunya terasa amat dingin, walaupun AC sudahku matikan tapi masih terasa dingin aku juga tidak mengerti mengapa bisa terjadi seperti itu, akhirnya aku pinjami jasku untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai gaun putih itu. Bagiku Yanti malam itu terlihat sexy dengan gaun yang dipakainya, dia memakai gaun putih tanpa lengan, dan bra hitam yang menunjukkan kemolekan tubuhnya. Dan rambut panjangnya yang terawat dibiarkan tergerai dengan bebasnya.
Karena perutku masih terasa lapar, tadi aku cuma makan sedikit karena keasyikan ngobrol dan menikmati tubuhnya yang sexy dan bahenol itu, kuajak dia makan di sebuah restoran tapi dia menolak karena dia dirumah telah masak, jadi aku diminta untuk makan ditempatnya saja, dalam hati, ini cewek baik banget selain dia sexy dan bahenol tapi juga baik hati, setelah aku berpikir lama akhirnya aku setuju.
Singkat cerita kami sampai di rumah kontrakannya dan makanlah aku disana, selesai makan aku membereskannya, lalu dia mengajakku kekamarnya untuk menemaninya malam itu, padahal aku ingin pulang karena jam sudah menunjukkan jam 00.30. Aku mencoba untuk menolak tapi karena dia terus memohon untuk menemaninya, dan akhirnya aku pun mengiyakannya karena aku juga tidak tega kalau dia terlalu memohon kepadaku.
Kamarnya terlihat rapi dan bersih semuanya tertata rapih sekali, ya, maklum kamar cewek. Dia mengontrak untuk berempat dan teman-temanya kebetulan saat itu lagi pada keluar, maklum saat itu adalah malam minggu. Singkat cerita, dia bercerita padaku bahwa dia baru putus sama pacarnya karena cowoknya kepergok telah berbuat perselingkuhan dibelakang dia. Diapun menangis mengenang masa lalu yang teramat indah bersama sang pacar dan sekarang hanyalah tinggal kemalangan belaka dan aku coba untuk memberanikan diriku untuk memeluknya dan menenangkannya, Yanti tak menolaknya.
Setelah agak tenang, kubisikan dia bahwa malam ini kamu kelihatan cantik sekali. Yanti tersenyum dan menatapku sangat dalam, lalu aku cium bibirnya yang hangat itu dan dia membalas ciumanku dengan sangat ganasnya, lalu tangannya mulai mencari dimana adik kecikku bersembunyi. Akhirnya dia mendapatkannya dan meremas dengan lembutnya.
Kamipun berciuman dengan sangat ganasnya lalu aku mulai mencium lehernya, Yantipun mendesah,
"Aaahh geli Jok aahh."
Mendengar itu aku semakin bernafsu, aku pun mulai meremas-remas payudaranya dari luar branya yang montok itu. Yanti mendesah lagi,
"Aaahh enak Jok terus Jok terus sstt."
Dan dia pun menjambak rambutku. Setelah beberapa lama aku meremas payudaranya, dia mendesah dan terus berkicau, dengan permainan yang aku buat itu. Aku pun mulai melucuti gaun yang dia masih pakai, yang tersisa hanya tinggal Branya dan CD beranda merah muda, kemudian branya pun aku lepas, tampaklah jelas gunung kembar yang sangat menantang birahiku dan punting merah-kecoklatan cerah yang sudah mengeras. Kuremas payudaranya dan kuhisap puntingnya dan kugigit kecil dengan gigiku, Yanti hanya memejamkan mata sambil menikmati hisapanku itu. Aku gigit-gigit puntingnya dan dia pun mengerang dan menggelinjang keasikan,
"Jok enak Jok, teruss Jok, hisap terus aahh sstt"
Kemudian aku lanjutkan dengan menciumi perutnya kemudian aku copot CD yang masih melekat pada dirinya. WOw ternyata jembutnya tidak terlalu lembat dan rapi, rambut disekitar bibir kemaluannya bersih. Dan vaginanya tampak kencang dengan clitoris yang cukup besar dan tampak basah.
"Kamu rajin mencukur yaa," tanyaku, dengan wajah memerah dia mengiyakan, sebab kata teman-temannya demi kesehatan vagina, dan tidak bau.
Kupangku dia dan mulai menciuminya lagi, dan sapuan lidahku mulai menjalar dari payudara kemudian puntingnya, kugigit kecil dengan gigiku, Yanti menggelinjang keasikkan dan mendesah-desah merasakan rangsangan kenikmatan,
"Ssstt terus Jok sstt."
Tangan kananku mulai memainkan clitorisnya yang sudah banjir, kemudian kujilati klitotisnya dengan lidahku perlahan-lahan, desahan dan lenguhan makin sering kudengar. Seirama dengan sapuan lidahku klitorisnya, Yanti semakin terangsang, dia bahkan menjabak rambutku dan menekan kepalaku di klitorisnya,
"Jok, enak.. Banget.. Enak.. Jok, aahh.. Jok terus Jok jilat terus sampai dalam Jok aahh.."
Desahannya dan lenguhannya membuat aku bertambah nafsu untuk melancarkan yang lebih gila dari sebelumnya dan seketika itu juga badannya mulai mengejang dan
"Jok.. Yanti.. mau.. Keeluaar aa.. Aaahh" dan terasa sekali derasnya cairan yang mengalir dari vaginanya yang terasa asam-asam pahit tapi nikmat kemudian langsung aku jilat sampai habis dan tak tersisa. Yanti kemudian berdiri.
"Sekarang giliranku," katanya.
Celanaku langsung dilucutinya dan akupun langsung berbaring diatas kasur yang empuk itu. Salah satu tangannya memegang penisku dan yang lain memegang buah zakarku, di mengelusnya dengan lembut.
"Mmmhh enak juga yaa penis kamu," ceretus dia.
"Aaahh enak Yan" desahku.
Yanti mulai menciumi penisku dan mengelus buah zakarku, dan mengemutnya dan mengocoknya dengan mulutnya yang sangat imut itu. Terasa jutaan arus listrik mengalir ke tubuhku,
"Gila ini cewek pinter sekali sedotan dan kocokannya benar-benar nikmat banget," dalam batinku. Kupegang kepalanya, kuikuti naik turunnya, sesekali kutekan kepalanya saat turun. Sesaat kemudian dia berhenti.
"Jok penis kamu lumayan besar dan panjang yach, keras lagi, aku semakin terangsang nich."
Aku hanya tersenyum, lalu kuajak dia main 69, ternyata dia mau. Vaginanya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Yanti sudah mengocok penisku. Aku semakin bernafsu untuk memainkan vaginanya yang semakin menantang aja, tercium wangi yang khas pada sekitar vaginanya yang sangat aku sukai sekali pada wanita, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap yang sudah keluar untuk kedua kalinya.
Tiba-tiba aku kaget ketika aku melihat ke arah pintu yang tidak begitu rapat ditutupnya dan aku semakin kaget ketika ternyata teman-temannya sudah melihat semua permainan yang sedang kami lakukan. Salah satu dari dia celetuk,
"Yan main kok tidak ngajak-ngajak sih kita kan juga mau,"
Dan ternyata setelah aku ketahui namanya Yeni (24), tampa disangka mereka langsung membuka baju dan celana mereka dan seketika itu pula mereka sudah keadaan bugil. Aku semakin kelabakan karena diserang dari berbagai arah. Aku mulai memasukkan penisku ke vagina Yanti, walaupun pertama kali terasa sempit sekali jadi aku agak kesulitan memasukannya dan setelah beberapa lama aku berusaha, akhirnya aku dapat masuk setengah dan Yanti menjerit menahan sakit yang tiada tara. Tanpa aku duga ternyata ada sedikit darah mengalir di sekitar vaginanya, ternyata dia masih perawan batinku. Yanti makin mengejang sambil mendesis seperti ular, sedangkan Yeni yang tidak kalah montok dan juga payuadarannya paling besar dari pada Yanti.
Yanti pun memainkan puntingnya Dewi(24, 38), sedangkan Ati (25, 36b) memainkan vaginanya Dewi. Mereka saling mendesah membuat suasana semakin panas saja. Aku sendiri semakin cepat memainkan penisku, desahan Yanti pun semakin kencang saja bersamaan dengan kecepatan goyanganku yang semakin cepat dan Yanti semakin menikmati permainanku dan dia pun semakin mengimbangi permainanku.
"Aaahh enak Jok, terus Jok, lebih dalam lagi Jok," celotehnya aku semakin cepat dan ketika itu juga badan dia mulai mengejang bertanda dia mau orgasme. Tidak berapa lama dia,
"Jok aku ingiin keluar" dan ketika itu juga keluarlah cairan yang ketiga kalinya dengan banyak sekali dan Yanti terlihat lemas dan langsung tergeletak disampingku, tapi penisku masih tegak bagaikan mau menantang kenikmatan.
Yeni pun langsung mengambil penisku yang masih tegak itu ke dalam vaginanya ternyata sama sempitnya dengan Yanti, aku sedikit kaget karena ada sedikit darah mengalir dari vaginanya dan ternyata Yeni pun masih perawan juga batinku, perlahan kugoyang penisku, maju mundur, dan semakin keras aku mengenjotnya dan jeritanya panjang dan seketika itu juga badannya mulai mengejang yang berarti dia mau orgasme, aku pun semakin mempercepat gerakan penisku dan Yeni pun menjerit panjang,
"Jok.. Aku keeluuar aahh" dan seketika itu pula dia roboh disampingku sedangkan aku masih belum sampai puncaknya.
Aku raih tangannya Dewi dan langsung aku mainkan vaginanya dengan lidahku dan terus aku mainkan sampai diapun mendesah dengan keras. Sedangkan Ati memainkan puyudara Dewi yang sudah mengeras. Aku pun mulai memasukkan penisku ke vagina Dewi yang ternyata sempit juga tapi untung vaginanya sudah basah jadi tidak terlalu sulit. Dan ketika baru masuk setengah ada darah yang mengalir pada vaginanya dalam batin ternyata semuanya masih pada perawan dalam batinku, perlahan kugoyang penisku maju mundur membentuk angka 8, rintihan kesakitan berubah menjadi desahan kenikmatan.
Sedangkan Ati menjilati payudara Dewi dengan nafsunya dan sekali-kali Ati mencium bibirku dengan garangnya, saat kau berada diatas Dewi, kujilati payudaranya yang memerah dan Dewi tidak bisa menjerit karena bibirnya sudah disumpel dengan mulutnya Ati yang dari tadi sudah mencium bibirnya Dewi dengan garang dan kelihatan sudah bernafsu itu.
Aku mulai menekannya dengan nafsu dan tentunya dann tentunya penisku masih ada didalam vaginanya Dewi yang sangat nikmat itu.
"Ooohh nikmat sekali rasanya", dia menjerit "Ssshh", seperti ular yang sedang mendekati mangsanya. Dan kupercepat lagi goyanganku dan semakin cepat aku mengocoknya semakin keras dia menjerit kenikmatan dan seketika itu juga,
"Aaahh aku mau keeluuarr Jok, kau juga ingin keluar, kita keluarin bareng aja yaa, aahh"
Crot.. Crot.. Crot hampir bersamaan, begitu nikmatnya permain malam ini dan akupun langsung tertidur lemas karena sudah bermain dengan tiga wanita sekaligus, setelah 3 jam aku tertidur aku merasakan ada yang mengemut penisku dengan lebutnya dan setelah aku membuka mataku ternyata Ati yang belum mendapatkan jatahnya. Langsung kucium bibirnya denga bernafsu dan dia langung meminta aku untuk memasukkan penisku ke vaginanya yang ternyata sudah banjir dari tadi. Aku mencoba untuk memainkan vaginanya dan tanpa kuduga ternyata Ati telah meraih penisku dan langsung membimbingku memasuki vaginanya.
Disaat menyentuh bibir vaginanya dia mengerang kenikmatan dan akupun langsung memasukkannya dan ternyata sudah tidak begitu sempit dibandingkan dengan tiga temannya dan tanpa banyak hambatan aku mulai menggenjot dengan cepat dan terasa sekali ada yang terasa yang berdenyut-denyut di vaginanya yang berarti menandakan dia mau orgasme dan aku semakin mempercepat goyanganku dan seketika itu pula.
"Aaahh Jok, aku mau keeluuaarr sstt"
Keluarlah cairan yang sangat banyak itu dan dia langsung lemas dan ternyata mereka berempat langsung bangun dan langsung memburu aku dengan sangat garangnya, dan saat itu jam 05.30 pagi, kami berlima mandi bareng dan disaat mandipun kami masih sempat bermain walaupun hanya sebentar karena waktunya sudah tidak memungkinkan untuk bermain lama.
"Makasih yaa Jok, kamu memang hebat walaupun tubuh kamu tidak gemuk(kurus), tapi stamina kamu kuat sekali, aku jadi ingin sekali mengulangnya."
Tapi aku harus berangkat kerja, setelah kejadian itu aku masih sering bermain dengan mereka kadang aku bermain hanya berdua, kadang berempat, kadang bertiga, kadang juga langsung berlima. Tapi hampir sudah sebulan ini, aku tidak tahu kemana mereka dan tidak pernah ketemu lagi bahkan saat aku ke kontrakannya ternyata dia sudah pindah entah kemana dan aku hubungin lewat HP tak pernah aktif, aku merindukan saat itu.
Bagi tante atau teman wanita lainnya yang ingin merasakan layananku dan yang pasti servis sangat memuaskan segera hubungi lewat email. Pasti aku balas secepatnya, dan makasih atas ditayangkannya ceritaku yang lalu.
Friday, 24 February 2012
Cerita seru Training Nikmat
Kisah ini berawal ketika aku sering ditugaskan kantorku ke luar kota untuk
mengikuti training, melakukan negosiasi dan maintain pelanggan yang
umumnya adalah perusahaan asing.Oh ya, saya John, 32 tahun, berkeluarga dan tinggal di wilayah timurnya
Jakarta. Bekasi kali ye. Sebetulnya sejauh ini tidak ada yang kurang
dengan keluarga dan profesiku sebagai orang marketing. Sebagai tenaga
penjual dengan berbagai training yang pernah kuikuti aku tidak pernah
kekurangan teman, pria maupun wanita. Di mata istriku aku adalah seorang
ayah yang baik, penuh perhatian dan selalu pulang cepat ke rumah. Namun di
balik itu, sebuah kebiasaan, yang entah ini sudah kebablasan, aku masih
suka iseng. Iseng dalam arti awalnya cuma ingin memastikan bahwa ilmu
marketing ternyata bisa diterapkan dalam mencari aPapaun termasuk teman
cewek, hehehe..
Marketing menurutku bersaudara dengan rayu merayu customer, yah si cewek
tadi juga bisa tergolong customer. Anyway, Anne adalah orang kesekian yang
masuk perangkap ilmu marketing versi 02 (versi 01 adalah customer
beneran). Anne gadis berkulit putih berusia 23 tahun, lulusan universitas
ternama, tinggi 167, berat 50, (buset, kapan gue ngukurnya ya). Ukuran bra
gak hapal, karena sebetulnya aku lebih terkonsentrasi dengan yang di balik
bra itu. Mojang Bandung ini kukenal dalam sebuah training di Puncak,
Bogor. Dia dari sebuah perusahaan Periklanan di seputaran Sudirman Jakarta
dan aku dari perusahaan konsultan Manajemen di sekitar Casablanca, juga di
Jakarta. “Hai Anne, tadi kulihat kamu ngantuk ya?” kataku ketika rehat
kopi sore itu di sebuah training yang kuikuti. “Iya nih, gue ngejar
deadline 2 hari dan boss langsung nyuruh ke training ini” katanya. “Kemari
dengan siapa?” kataku menyelidik “Sendiri.., napa, elo diantar ama bini
ya?” Buset dah ketahuan nih gue udah punya bini. “Ah, enggak, gue sama
Andre.. tuh..” kataku sambil menunjuk Andre yang sedang asyik ngobrol
dengan peserta lain. “Lo sendiri kok gak ngantuk sih?” “Gimana bisa
ngantuk sebelah gue ada cewe cakep, hehehe..” “Ah, masa? Siapa?” Ye, pura
pura dia, pikirku. “Itu tuh, yang tadi ngantuk..” “Ah, sialan lo..” sambil
tangannya mencubit lenganku.Usai sesi yang melelahkan sore itu, kami kembali ke kamar masing masing.
Aku antar dia sampai pintu kamarnya dan janjian ngobrol lagi sambil makan
malam. “Hmm..elo kok nggak bawa jaket An?” kataku ketika dia kulihat agak
meringkuk kedinginan di meja makan. “Iya nih, buru buru.. kelupaan” “Aku
masih punya satu di kamar, biar aku ambilkan” “Oh, gak usah John.. toh
cuma sebentar..” Tapi aku keburu pergi dan mengambilkan baju hangatku
untuknya. “Thanks, John.. elo emang temen yang baik” katanya sambil
mengenakan sweater. Aku membayangkan seandainya aku jadi sweater,
heheheh.. Usai makan nampaknya dia buru buru ingin masuk ke kamar. Anne
tidak menolak ketika aku menawarkan mengantarkannya. Di depan pintu kamar
dia malah menawarkan aku masuk, pengen ngobrol katanya. Alamak, pucuk
dicinta ulam tiba. Aku pura pura lihat jam.Masih jam besar 20.15. “Lain kali aja deh, gak enak kan ntar apa kata
teman teman” kataku agak nervous tapi dalam hati aku berdoa, mudah mudahan
dia tidak basa basi. “Cuek aja John, kita kan ada tugas bikin outline..”
Memang kebetulan aku dan Anne satu group dengan 3 orang lainnya, tetapi
tugas itu sebetulnya bisa dikerjakan besok siang. Akhirnya aku masuk,
duduk di kursi. Anne menyetel TV lalu naik ke ranjang dan dengan santai
duduk bersila. “Gimana An, kamu udah punya gambaran tentang tugas besok?”
kataku basa basi. “Belum tuh, males ah ngomongin tugas, mending ngobrol
yang lain saja” Horee.. aku bersorak, pasti dia mau curhat nih. Bener
juga. “John, gue jadi inget cowok gue yang perhatian kayak elo..sama bini
elo juga begitu ya?” “Yah, Anne.. biasa sajalah, sama siapa siapa juga
orang marketing harus baik dong, apa lagi sama cewe kayak elo.. hehehe..”
“Tapi gue akhirnya mengerti kalau cowo perhatian itu gak hanya punya satu
cewe, tul gak sih?” “Tergantung dong An, buktinya gue punya bini satu,
hahaha..” “Tapi kayaknya elo juga punya cewe lain.. ya kan?” “Kok tau
sih?” kataku pelan. Aku jadi ingat Vina mahasiswi yang minta bantuanku
menyelesaikan skripsinya dan akhirnya bisa tidur dengannya. Tapi sungguh,
aku tidak merusaknya karena aku mengenalnya dengan cara baik baik dan dia
tetap virgin sampai akhirnya menikah. “Stereotip saja, berbanding lurus
dengan keramahan dan perhatiannya” katanya lagi dengan senyum yang genit.
“Kenapa emang An, elo lagi ada masalah dengan cowo lo yang ramah itu?”
“Justru itu John, gue lagi mikir mau putus sama dia. Eh, sori kok malah
curhat..” “Santai aja An, setiap orang punya masalah dan banyak cara
menghadapinya” kataku seolah psikolog kawakan. “Gue melihat dia jalan ama
temen gue, dan kepergok di kosan temen gue itu” “Trus?” “Gue gak bisa
maafin dia..” “Ya, sudah mungkin kamu masih emosi saja, santai saja dulu
masih banyak pekerjaan. Toh kalau jodoh dia pasti pulang ke pangkuanmu..”
kataku. “Kadang gue pengen balas aja, selingkuh sama yang lain, biar
impas..” “Hmm.. tapi itu kan gak menyelesaikan?” “Biar puas aja..” Tiba
tiba dia menangis. Wah gawat nih, pikirku. Aku mendekat dan berusaha
membujuknya. Lalu entah bagaimana ceritanya aku sudah memeluknya. “An,
jangan nangis, entar orang orang pada dengar” Bukannya mereda, tangisnya
malah makin keras. Kudekap dia sehingga tangisnya teredam di dadaku.
Jantungku berdebar tak karuan. Telunjukku menyeka air matanya. Kupandangi
wajahnya. Bodoh amat nih cowoknya, cewe cakep begini kok disia siakan
pikirku. Dan tanpa sadar aku mencium pipinya, dia melihatku dengan mata
sayu lalu tiba tiba Anne membalas dengan kecupan di bibir. Wah, seperti
keinginan gue nih, pikirku dalam hati. Dan seperti kehilangan kontrol
akupun membalas menghisap bibir mungil yang harum dan merekah itu. Anne
membalas tidak kalah hotnya. Napasnya terengah engah tanda napsunya mulai
naik. Dengan lembut kutidurkan dia. Dan dengan lembut pula tanpa kata
kata, dari balik sweater aku sentuh kedua bukit kembar menantang itu. Anne
mendesis desis. “Terus John, perhatian elo bikin gue jadi wanita..”
“Tenang sayang, wanita seperti kamu memang pantas diperhatikan.. hmm?”
Seperti minta persetujuannya, perlahan aku angkat sweater dan tshirtnya.
Sekarang kedua bukit kembarnya terbuka. Buset dah, putingnya sudah
menonjol keras dan tak ada waktu lagi untuk tidak menyedotnya. Aku memang
paling hobby menetek dan menghisap benda terindah di dunia ini. Anne terus
mendesis desis.Tangannya juga sudah menggenggam senjataku yang mulai mengeras. “Uh..
ahh.. uh..” “Anne.. tubuhmu indah sekali..” Kataku memuji seperti halnya
memberi pujian kepada customer perusahaanku. “Ayo, John.. jangan dilihat
saja, aku rela kamu apakah saja..” “Iya, sayang..” kataku, sambil tanganku
merogoh bagian depan celana jinnya. Tangannya membantu membuka retsileting
dan dengan cepat Anne sudah terlihat dengan CD warna kremnya. Hmm, seksi
sekali anak ini, pikirku. Hmm..dari balik CD-nya terlihat bulu bulu halus
dan hitam legam. Uh, aku sudah tidak sabar lagi namun dengan tenang aku
mengelusnya dari luar. Anne menggelijang, matanya terlihat saya menahan
gejolak. Perlahan kuturunkan CD-nya. Uh, sodara sodara, tercium aroma yang
sangat kukenal, dia pasti merawat benda yang paling dicari semua laki laki
ini dengan baik. “Anne.. boleh aku cium?” bisikku pelan. Anne mengangguk
lemah dan tersenyum. Perlahan Anne merenggangkan kedua kakinya. Pasrah.
Dengan kedua jariku, kubuka vaginanya dan terlihat klitorisnya yang merah
merekah. Basah. Sungguh indah dan harum. Kujulurkan lidahku di sekitar
pahanya sebelum mencapai klitorisnya. Anne mendesis desis dan mulai
meracau dan terlihat seksi sekali. “Ayo, John.. jangan buat gue tersiksa..
terus ke tengah sayang..” Aku malah menjilat bagian pusernya membuat dia
uringan uringan dan makin bernafsu. Bermain sex memang perlu teknik dan
kesabaran tinggi yang membuat wanita merasa di awang awang. “Johnn.. gila
lo, ke bawah sayang.. please..” “Hmm.. iya nih, gue emang udah gila
melihat memek yang indah ini sayang” kataku terengah engah. Akhirnya
lidahku hinggap di labia mayoranya. Kusibak dengan lembut rimbunan hutan
yang sudah becek itu. Kuhurip cairan yang meleleh di sela selanya.
Kelentitnya kuhisap seperti menghisap permen karet. Akibatnya pantatnya
terangkat tinggi dan Anne menjerit nikmat. Lidahku terus merojok sampai ke
dalam dalamnya. Kuangkat pantatnya dan kupandangi, lalu kusedot lagi. Anne
berteriak teriak nikmat.Aku jadi kuatir kalau suaranya sampai keluar. Kupindahkan bibirku ke
bibirnya. “Tenang sayang, perang baru dimulai..” Kataku berbisik. Ia
mengangguk dan perlahan aku putar posisi menjadi 69. Posisi yang paling
aku sukai karena dengan demikian seluruh isi memeknya terlihat indah.
Batangku juga sudah terbenam di bibirnya yang mungil dan terasa hangat
serta nikmat sekali. Kutahan agar aku tidak meletus duluan. “Punya kamu
enak John..” Pujinya layaknya memuji Customer. “Iya, sayang punya kamu
lebih enak dan baguss sekali..” kataku terengah engah. “Uh, becek
sayang..” Aku lanjutkan menjilat seluruh permukaan memeknya dari bawah.
Uh, benar pemirsa, siapa tahan melihat barang bagus dan cantik ini. Yang
luar biasa, aku yakin dia masih perawan. Bentuk kemaluannya menggelembung
dan benar benar seperti belum pernah tersentuh benda tumpul lain. “Anne..
kamu masih perawan sayang..” “Iya, John.. gue belum pernah..” “Iya, kamu
harus jaga sampai kamu menikah..” “Gue gak tahan John, cepetan sayang..”
Sungguh, meski banyak kesempatan aku belum pernah berpikir memerawani
cewek baik seperti Anne ini, kecuali istriku. Wanita yang kutahu sedang
stress dan sedang mencari pelarian sesaat ini harus ditenangkan. Akan
buruk akibatnya ketika dia sadar bahwa keperawanannya diberikan kepada
orang lain yang bukan suaminya. Aku percaya jika sudah mencapai orgasme
dia justru akan berterima kasih dan menginginkannya lagi. Kembali
kujelajahi kemaluannya. Cepat cepat aku jilat berulang ulang klitorisnya.
Dan sodara pemirsa, apa kataku, pantatnya tiba tiba menekan keras wajahku
dan mengejang beberapa kali..lalu mengendur. “Uuhh.. gue nyampe Johnn..
aahh.. uhh.. uhh..” Masih dalam posisi 69, Anne terdiam sesaat, kulihat
kemaluannya masih merekah merah. Perlahan ia mulai bangkit dan mngecup
bibirku. “Sorry sayang, gue duluan..” “No problem Anne.. kamu merasa
mendingan?” Ia mengangguk, memelukku dan mencium bibirku. “Terima kasih
John, elo emang hebat..” “Iya nih, Ann, gue minta maaf jadi telanjur
begini..” “Gak Papa kok, gue juga senang..” Kami mengobrol sebentar namun
tangannya masih menyentuh nyentuh batangku.Ia mengambilkanku minuman dan menyorongkan gelas ke bibirku. Ketika
tegukan terakhir habis, bibirku perlahan mengulum bibirnya. Putingnya
mulai mengeras dan aku mulai aksi sedot menyedot seperti bayi. Anne
kembali menggelijang. Aku bisikkan perlahan, “Anne.. gue pengen
menggendong kamu sayang”. “Hmm..mulai nakal ya..” katanya dan merentangkan
tangannya. Aku peluk dan angkat dia lalu kusenderkan ke dinding dekat meja
rias. Dari balik cermin kulihat pantatnya yang montok dan mulus itu,
membuat gairahku meledak ledak. Dengan posisi berdiri, tubuhnya sungguh
seksi. Aku perhatikan dari atas ke bawah, sungguh proporsional tubuhnya.
Segera kusedot putingnya dan jariku sebelah kiri segera mengelus rimbunan
hutan lebatnya. Basah, hmm..dia mulai naik lagi. Klentitnya kupilin pilin
pelan dan Anne mendesis seperti ular. Making love sambil berdiri adalah
posisi favoritku selain 69.Perlahan sebelah kakinya kuangkat ke kursi pendek meja rias dan
terlihatlah belahan memeknya yang merah merekah, indah dan seksi sekali
Kuturunkan kepalaku dan segera kutelusuri paha bawahnya dengan lidahku.
Dari bawah aku lihat wajahnya mendongak ke atas menahankan nikmat. Sungguh
saat itu Anne kelihatan sangat seksi. Sebelum lidahku mencapai
kelentitnya, aku sibakkan labia mayoranya dengan kedua Ibu jari. Hmm..
sungguh harum. “Cepat John.. gue udah gak tahan.. jilat sayang.. jilat..”
Benar benar nikmat melihatnya tersiksa, namun sebetulnya aku lebih
tersiksa lagi karena batangku sudah mengeras bagaikan batu. Aku nyaris tak
bisa menahan klimaks, namun aku harus membuatnya orgasme untuk kedua
kalinya. Benar saja, begitu lidahku menyedot klitorisnya, Anne langsung
mengejang dan berteriak pertanda orgasme. Kusedot habis cairannya.Luar biasa, aku menikmati ekspresinya ketika mencapai orgasme dan itu
jugalah puncak orgasmeku. Cepat aku berdiri dan aku tekan batangku ke sela
sela pahanya dan seketika muncratlah semua. crott.. crott..! Wuahh.. “Oh
John, kita keluar bersamaan sayang..” “Iya, enak banget An.. elo membuat
gue gila..” “Sama.., gue berterima kasih elo menjaga gue..” “Gue sayang
kamu An..” ***** Pemirsa, begitulah ceritanya. Tak selamanya seks harus
membobol gawang. Setelah kejadian itu Anne makin ketagihan. Dia sangat
terkesan bisa mencapai orgasme tanpa merusak keperawanannya. Dia juga
menyukai posisi 69 dan posisi berdiri yang bisa mirip 69. Kadang kadang
aku datang ke kantornya dan hanya dengan mengangkat roknya aku menjelajahi
area area sensitifnya secara cepat dan efisien. Dan pada saat yang sama
aku juga mencapai orgasme. Masih ada Vina dan Dina yang ketagihan seperti
Anne. Aku selalu bilang pada wanita wanita berpendidikan itu bahwa suatu
saat mereka akan menikah dan aku berjanji tidak akan memerawaninya.
Cukuplah 69!
Thursday, 23 February 2012
Cerita seru Selingkuh Di Warteg
Nama saya Heru, saat itu saya berumur 25 tahun, telah berkeluarga dengan istri bernama Meri, serta telah dikaruniai dua orang anak yang pertama berumur 3 tahun dan kedua berumur 1 tahun. Cerita ini bermula dari kebiasaan saya yang sering nongkrong di warteg di komplek tempat saya tinggal pada waktu santai. Pemilik Warteg itu adalah sepasang pengantin baru yang baru 7 bulan menikah. Penjaganya adalah istri dari pengantin baru tersebut yang bernama Diana, sedangkan suaminya adalah seorang sopir bus AKAP, yang sering bertugas sampai berhari-hari baru pulang dan bernama Juanda. Saya dan istri sayapun kenal baik dan akrab dengan mereka. Pada suatu hari yang telah saya lupa tanggalnya saya kembali nongkrong di Warteg itu yang pada saat itu suasana sudah mulai sepi karena hari sudah menjelang malam. Pada saat itu Diana sedang berkemas-kemas untuk menutup wartegnya. Saya lalu mengajak Diana mengobrol sambil dia berkemas-kemas.
“Kok sendirian Yan?” tanya saya. (Saya memanggilnya Dian/Yan)
“Iya nih Kak, Kak Juandanya tadi pagi baru berangkat!”
“Kemana?”
“Katanya hari ini tujuan Jakarta, dan sampai 8 hari baru bisa pulang,” katanya.
“Oh ya Kak saya tinggal dulu ya, mau mandi, habis dari tadi rame sih belum sempat mandi,” katanya lagi. Lalu Diana masuk ke dalam rumahnya untuk mandi. Setelah setengah jam Diana keluar lagi dengan rambut yang masih basah, dan memakai daster yang membuat saya menahan napas karena kalau kena lampu kelihatan BH dan CDnya yang menerawang dari balik daster yang dipakainya, serta membawa secangkir kopi untukku, dan duduk di kursi yang ada di depanku. Harum sabun mandi yang dipakai saat mandi masih tercium saat Diana duduk, dan ini membuat nafsu saya agak tergugah dan kontol saya mulai ngaceng. “Diminum Kak kopinya,” katanya mempersilakan.
“Terima kasih,” jawabku sambil menghirup kopi yang disuguhkan.
“Apa enggak takut ditinggal sendirian,” tanyaku memulai obrolan.
“Ya enggaklah, kan tetangga di sekitar sini baik-baik Kak?” jawabnya. Lalu obrolan kami terus berlanjut dan haripun bertambah malam. Karena suasana yang mulai sepi saya mencoba memancingnya dengan obrolan yang dapat membangkitkan gairah. “Yan kamu nggak kesepian ditinggal suamimu berhari-hari gini?”
“Mau gimana lagi Kak, namanya juga tuntutan pekerjaan”
“Kasihan! Masa pengantin baru ditinggal kedinginan kaya gini”
“Ih, siapa lagi yang kedinginan?” jawabnya agak centil. Merasa ada respon sayapun tambah semangat. “Ya kan kasihan, orang pengantin baru itu biasanya kan kalau tidur selalu berpelukan biar tidak kedinginan”
“Siapa bilang kalau pengantin baru itu kalau tidur selalu berpelukan?”
“Buktinya kakak semasa pengantin baru selalu tidur berpelukan.”
“Enak dong Mbak Meri selalu tidur dipeluk kakak”
“Ya begitulah, kalau kamu mau, saya juga mau tidur pelukin kamu,” kata saya sambil bercanda.
“Ih kakak ini Piktor (pikiran kotor) deh”
“Emang Mbak Meri boleh kakak tidur pelukin cewek lain?” sambungnya.
“Ya jangan ketahuan dong,” jawabku, sambil aku memandang wajah cantiknya dan menanti responnya. Diana lalu memandangku dengan tatapan yang menggoda. “Kalau kakak tidur pelukin saya dan ketahuan Mbak Meri gimana hayoo?”
“Nggak mungkin ketahuan kalau kamu mau,” pancingku sambil bergeser duduk disampingnya, dan kugenggam tangannya yang tampak bergetar, dan ternyata Diana diam saja.
“Jangan disini Kak nanti ada orang lihat,” katanya. Karena mendapat angin aku mengajak Diana masuk ke dalam rumahnya. Begitu masuk ke dalam rumahnya saya langsung menutup pintu dan memeluk Diana dari belakang. Semula dia menolak dengan alasan takut ketahuan. Aku yang sudah dikuasai nafsu terus merayu Diana yang masih ragu. Aku sudah tidak peduli apa-apa lagi kecuali menikmati tubuh Diana yang cantik ini. Aku membalikkan tubuh Diana dan langsung melumat bibirnya yang sexy itu. “Mmhh,” desah Diana. Aku terus menyerangnya dengan bergairah. Tangankupun tak tinggal diam, aku meremas buah dadanya yang montok dari balik dasternya. “Mmhh Kak,” desahnya yang mulai terangsang. Aku lalu membopong tubuh Diana ke kamarnya yang ditunjuk Diana dan merebahkannya di ranjang yang merupakan ranjang pengantin Diana. Lalu aku berdiri dan membuka baju dan celana panjangku agar tidak kusut, dan yang tertinggal hanya celana dalamku. Kontolku yang dari tadi ngaceng tampak menonjol di balik CDku. Lalu aku mendekati Diana yang terbaring diranjang sambil memandangku. Aku kembali mengulum bibirnya yang sexy itu sambil tanganku mengelusi pahanya yang putih. Diana menyambut ciumanku dengan bernafsu. Setelah puas aku melanjutkan ciumanku ke lehernya yang jenjang dan secara perlahan-lahan aku membuka dasternya, dan dilanjutkan dengan BH dan CDnya. Kini tubuh Diana yang mulus terpampang pasrah di ranjang. Kemudian aku menciumi buah dadanya yang kiri sedangkan tanganku meremas buah dadanya yang kanan. “Aww… geli Kak,” rintihnya yang membuat aku tambah bersemangat.
“Buah dada kamu bagus Yan” kataku.
“Emang punya Mbak Meri jelek ya?” tanyanya menggodaku.
“Bagusan punya kamu” kataku merayunya.
“Aahh enak Kak, terus Kak, isap Kak yang kuaat” rintihnya. Setelah puas dengan buah dadanya ciumanku aku lanjutkan ke bawah menyusuri perutnya yang ramping terus ke bawah hingga menyentuh bulu bulu halus diatas memeknya. Lalu aku mulai menjilati memeknya yang telah basah oleh cairan birahi. “Aahh enak Kak, diapain Kak memekku,” rintihnya.
“Terus Kak aahh!! Enak sekali Kak, Kak juanda tidak pernah mau begini Kak aahh!!” rintihnya lagi. Sesaat kemudian Diana menekan kepalaku semakin dalam di memeknya, dan ternyata dia mendapat orgasmenya yang pertama. Kemudian aku naik untuk mencium bibirnya kembali dan disambut dengan buas oleh Diana. “Enak nggak Yan?” tanyaku.
“Enak sekali Kak,” jawabnya
“Emang Juanda nggak pernah ya?”
“Enggak Kak, jijik katanya”
“Tolol sekali dia,” batinku.
“Buka dong Kak CDnya”
“Diana dong bukain”
“Ih Kak Heru manja deh,” katanya sambil membuka CDku. Kontolku yang sudah tegang dari tadi langsung meloncat keluar begitu CD ku diturunkan oleh Diana. Tampak Diana terbelalak melihat kontolku. “Besar sekali Kak,” katanya kaget.
“Emang punya suamimu kecil ya?” tanyaku.
“Paling setengah dari punya kakak,” katanya sambil meremas kontolku.
“Aahh enak Yan” desahku
“Enak nggak Kak kontol sebesar ini masuk dimemekku nanti?” tanyanya. Aku tersenyum sambil mengangguk. “Jilati Yan” pintaku. Lalu Diana menunduk untuk mencium Kontolku yang super menurutnya. “Aahh enak, enak Yan jilati terus Yan aahh!!” rintihku. Lalu Diana memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, dan mengulum kontolku. Tampak Diana kesusahan mengulum kontolku yang besar didalam mulutnya. Setelah beberapa saat aku menarik Diana keatas dan membaringkannya secara telentang. Diana mengerti dan segera membuka pahanya lebar lebar. Aku segera mengarahkan kontolku dan menyentuh lobang memeknya yang semakin banjir oleh cairannya. “Lambat-lambat Kak, aku belum pernah dimasuki kontol sebesar itu” pintanya. Aku tersenyum memandangnya sambil mengangguk. “Aaww… Kak, sakit Kak aahh!!” Aku menghentikan dorongan pantatku dan mendiamkannya sejenak. Setelah Diana tenang kembali aku mendorong laju kontolku ke dalam memeknya. “Aaww Kak enak!! Terus Kak enak, kontol kakak enak Kak, aawwuuhh enak kontol kakak besar enak,” erangnya dengan liar. Mendengar itu aku tambah bersemangat untuk memompa kontolku didalam memeknya. Kemudian aku memeluknya sambil berbisik ditelinganya, “Enak nggak kontol kakak?”
“Oohh enak sekali Kak, kontol kakak enak sekali, besar panjang sampai sesak memek diana” racaunya dengan Vulgar. Mendengar itu aku terpancing untuk melayani racau Vulgarnya. “Enak mana kontol kakak dengan kontol suamimu?” tanyaku.
“Lebih enak kontol kakak, kontol kakak tiada duanya oohh!! Aahh” rintihnya.
“Memek kamu juga enak, legit juga sempit sepeti perawan” kataku. Mendengar itu Diana lalu bertanya, “Enakan mana memek Diana dengan memek Mbak Meri aaww!! Oohh!!”
“Sama sama enak, tapi lebih enak punya Diana karena masih sempit,” jawabku sambil terus memompa kontolku. Tak lama kemudian aku merasa akan segera meledak begitu juga dengan Diana. “Aahh aku mau keluar Yan”
“Diana juga Kak”
“Kita keluarkan sama sama Yan, aahh!! Oohh keluarkan dimana Yan?”
“Keluarkan didalam saja Kak aahh,” jerit panjang Diana, lalu akupun menyusul.
“Aahh!!” jeritku sambil memeluk erat Diana. Kemudian kami berdua terkulai lemas setelah pertempuran panjang itu. Aku mencium kening Diana lalu mengecup bibirnya. “Terima kasih Yan”
“Sama-sama Kak” Lalu aku segera turun dari ranjang dan berpakaian karena tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sebelum pulang aku kembali menghampiri Diana yang masih tergolek lemas di ranjang dan melumat bibirnya, sambil berjanji untuk mengulanginya. Setelah dirumah ternyata istri dan anak-anak telah tidur. Dan pada saat suami Diana tak ada di rumah kamipun kembali melakukannya, baik di rumahnya maupun di hotel, sampai suami Diana berhenti dari pekerjaanya, karena Diana telah melahirkan bayi dan harus merawat bayinya. Sampai saat ini saya dan Diana masih tidak dapat memperhitungkan sebenarnya bayi yang dilahirkannya itu merupakan benih dari siapa, apakah benih dariku atau suaminya, karena kalau dilihat secara teliti wajah sang bayi sangat mirip suaminya tetapi badan si bayi sangat mirip denganku. Namun demikian masalah ini sampai sekarang tidak pernah dipermasalahkan oleh suami Diana sehingga perselingkuhanku dengan Diana tidak pernah terbongkar dan kami dua keluarga tetap bersahabat dan tetap akrab.