Pak Joko sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.
"Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja" pamitnya. Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.
Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu ( karena aku tidak bisa, hehe.. )
20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca- cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis- habisan.
Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku. "Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!" ancamnya Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku "Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ng***** sama Neng!" katanya sambil matanya menatapi dadaku "Ng***** ya ng*****, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!" kataku sewot.
Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi). "Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!" tantangku. "Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh" jawabnya seraya melepas baju lusuhnya. Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).
Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya. "Eenghh.. terus Tar.. oohh!" desahku sambil meremasi rambut Taryo yang sedang mengisap payudaraku. Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya. "Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu" kataku. Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.
Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju- mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan. "Eemmpp.. emmphh.. nngg.. !" aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.
Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku. "Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan" katanya terbata-bata. Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya. "Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!" godaku. Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.
Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya. "Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?" Sambil tangannya terus meremasi payudaraku. Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut- emut hingga pemiliknya mengerang keenakan "Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!" seru si Taryo yang memperhatikan Pak Joko agak grogi menikmati oral seks-ku.
Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Joko makin bersemangat.
Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.
Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya. "Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?" tanya Pak Joko lembut. Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, "Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih". Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.
"Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng" kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku. Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Taryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku. "Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!" desahku tak tertahankan. Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.
"Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak *****in" ceracaunya. "Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim" kataku dalam hati. Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya.
Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana "Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!" rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya. Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan- lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.
Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.
Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir "Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih" disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.
Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman- teman kuliahku yang masih muda dan cantik.
Showing posts with label Pembantu. Show all posts
Showing posts with label Pembantu. Show all posts
Sunday, 13 September 2009
jilatan lidahku pada vagina dan klitoris baby sitter
Babby sitter yang satu ini memang agak berbeda dari semua babby sitter terdahulu. Kelima babby sitter sebelumnya yang sempat bekerja di tempat kami, rata-rata berusia dibawah 30 puluh tahun, bahkan ada yang baru berusia 19 tahun, namun babby sitter yang terakhir ini adalah seorang janda berusia 48 tahun. Kami memanggilnya Bu Darsih, bertubuh besar untuk ukuran seorang wanita (tingginya kurang lebih 165 cm), agak gemuk sebagaimana umumnya wanita paruh baya. Pada awalnya kami agak ragu kalau Bu Darsih ini akan sanggup merawat Rio putra kami, mengingat Bu Darsih sudah berumur, sementara Rio sangat hiperaktif, sehingga merawat Rio akan lebih melelahkan dibandingkan merawat anak-anak lain pada umumnya. Ternyata perkiraan kami salah, dan cukup surprise, ternyata Bu Darsih dapat merawat Rio dengan baik. Bahkan ada kejadian yang lebih mengejutkan lagi, dan ini yang ingin kuceritakan pada kesempatan ini.
Kami memiliki acara rutin, yaitu berenang yang kami lakukan seminggu sekali setiap hari Sabtu sore. Aku dan istriku selalu mengajak Rio berenang di gelanggang renang Ancol, dan biasanya selalu ada dua atau tiga orang anak tetangga teman bermain Rio yang ikut berenang bersama kami. Babby sitter selalu kami ajak ikut serta untuk membantu mengawasi anak-anak, meskipun tidak ikut berenang.
Sebagaimana biasanya, pada hari Sabtu kami pergi gelanggang renang Ancol, namun kali ini istriku tidak dapat ikut. Istriku pulang ke Yogyakarta yang rutin dilakukannya enam bulan sekali untuk menjenguk keluarga di sana, terutama orangtuanya (mertuaku), sehingga pada acara berenang kali ini, yang ikut hanya aku, Rio beserta lima orang temannya serta tidak ketinggalan Bu Darsih. Karena istriku tidak ikut, sementara teman Rio yang ikut lebih banyak dari biasanya, yaitu sampai lima orang (biasanya paling banyak tiga orang), aku berfikir bahwa Bu Darsih perlu ikut turun ke air untuk membantu mengawasi anak-anak. Masalahnya keselamatan anak-anak tetangga juga merupakan tanggung jawabku.
Menurut keterangannya, Bu Darsih dapat berenang, tetapi dia tidak memiliki pakaian renang. Bagiku, yang penting Bu Darsih dapat berenang, karena soal pakaian renang adalah soal mudah, tinggal beli saja, beres.
Sesampainya di kolam renang, aku mampir sebentar di sebuah kios yang menjual perlengkapan renang untuk membelikan baju renang Bu Darsih. Untungnya ada nomor yang pas untuknya, karena baju renang ukuran besar tidak begitu banyak. Setelah itu seperti biasanya, aku selalu menyewa kamar bilas keluarga yang dapat disewa per tiga jam. Aku selalu menyewa kamar bilas keluarga, karena kupikir lebih praktis. Di kamar bilas itu kami sekeluarga dapat berkumpul dan tidak perlu terpisah seperti di kamar bilas umum yang dipisahkan antara kamar bilas untuk pria dan wanita. Disamping itu, di kamar bilas keluarga semua perlengkapan, pakaian, tas dan sebagainya dapat disimpan di kamar bilas tersebut, tinggal dikunci dan beres, tidak perlu repot-repot antri ke tempat penitipan pakaian yang melelahkan, ditambah resiko kehilangan barang-barang. Shower juga sudah tersedia di dalam kamar bilas, tidak perlu repot-repot keluar kamar, ada air panasnya lagi. Begitu praktis, sehingga mengawasi anak-anak pun jadi lebih mudah.
Rio dan teman-temannya begitu antusias, di kamar bilas mereka mengganti pakaian dengan tergesa-gesa. Dan setelah selesai, mereka semua langsung lari ke kolam tanpa tunggu-tunggu lagi. Setelah semua anak-anak keluar menuju kolam, aku segera melepas pakaianku. Setelah aku telanjang bulat, aku bergegas menuju shower, namun... astaga... aku baru sadar kalau ternyata ada Bu Darsih di kamar bilas itu. Kulihat Bu Darsih mesem-mesem (tersipu malu) sambil mencari-cari sesuatu dari tasnya. Aku pun pura-pura bersikap biasa, seolah-olah telanjang bulat di depan Bu Darsih merupakan hal yang lumrah bagiku, padahal itu kulakukan untuk mengusir rasa malu.
Dengan sok berlagak tenang, aku menyuruh Bu Darsih untuk segera ganti pakaian.
"Ayo.. Bu Darsih.. cepat ganti baju.. itu anak-anak nggak ada yang ngejagain.."
Semua ucapanku itu betul-betul hanya bertujuan untuk mengusir rasa malu karena sudah terlanjur telanjang, sementara itu kulihat Bu Darsih terus saja mesem-mesem, dan ini mengundang perasaan aneh pada diriku. Sebetulnya aku mengerti makna mesem-mesemnya Bu Darsih, aku yakin kalau mesem-mesem-nya berkaitan erat dengan keadaanku yang sedang telanjang ini.
"Forget it..!" kupikir sambil tetap telanjang bulat, akhirnya aku langsung menuju shower untuk membasahi tubuhku, hal yang biasa kulakukan sebelum berenang.
Lyd
April 4th, 2007, 14:48
Saat berada di bawah kucuran shower, aku sempat memperhatikan Bu Darsih saat sedang menanggalkan seragam babby sitternya yang berwarna putih, dan masih saja sambil mesem-mesem. Mungkin dia pikir buat apa malu-malu telanjang dihadapan majikannya ini, toh majikannya saja tidak malu telanjang bulat dihadapannya, semua ini membuat perasaan mesum mulai menjalari tubuhku. Selanjut pemandangan di hadapanku menjadi semakin mendebarkan. Bu Darsih sambil terus mesem-mesem sendiri mulai menanggalkan pakaian dalamnya, jantungku berdebar keras, apalagi disaat dia melepaskan kait-kait BH-nya, serta meloloskan tali-tali BH tersebut dari lengannya.
Belum pernah terbayangkan dalam pikiranku melihat Bu Darsih dalam keadaan yang kulihat saat ini. Selama ini gairahku sama sekali tidak pernah terusik oleh wanita paruh baya itu yang bertubuh besar dan agak gembrot, serta mengenakan pakaian seragam putih. Namun pemandangan di hadapanku kali ini sungguh-sungguh berbeda. Payudara yang sungguh besar dan montok dengan puting payudara yang lebar berwarna coklat gelap, menggantung di dadanya, begitu menggetarkan kalbuku. Apalagi saat dia memelorotkan celana dalamnya, membuat rambut lebat di kedua pangkal pahanya yang montok begitu jelas terpandang, sungguh membuat darahku menjadi berdesir dengan derasnya. Jantungku semakin berdetak tidak beraturan, dan tubuhku gemetar menahan gairah yang kali ini terusik oleh pemandangan yang sungguh benar-benar lain dari biasanya, serta tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehku.
Disaat Bu Darsih hendak mengenakan pakaian renangnya, secara refleks aku langsung berkata kepadanya, "Ayoh... Bu Darsih.., mandi dulu... supaya nggak keram di kolam."
Sebetulnya, ucapanku hanyalah akal bulusku yang semata-mata hanya agar aku dapat menikmati pemandangan tubuh bugil Bu Darsih lebih lama lagi. Namun ternyata, 'Pucuk dicinta ulam tiba', Bu Darsih batal mengenakan pakaian renangnya, dan melemparnya ke atas jok empuk berkulit plastik yang ada di kamar bilas itu. Lantas sambil terus mesem-mesem dan masih telanjang bulat, Bu Darsih melangkah menuju shower. Aku sedikit menggeser posisi berdiriku di bawah shower untuk memberi tempat bagi Bu Darsih.
Tubuh telanjangnya yang begitu montok dan besar, bergidik kedinginan saat air yang memancar dari shower menerpa tubuhnya. Bu Darsih mengusap-usap wajahnya yang terguyur air shower. Birahi yang sudah menguasai diriku membuatku nekat menjamah payudaranya yang sangat besar itu.., sungguh aku sangat gemetaran, takut kalau-kalau Bu Darsih menolak untuk disentuh. Tetapi ternyata Bu Darsih hanya diam saja saat aku mengusap-usap payudaranya. Hal ini membuatku nekat untuk berlanjut menjamah kemaluannya. Disaat jemariku menyentuh kemaluannya yang berambut lebat itu, dalam waktu yang hampir bersamaan tangan Bu Darsih juga menjamah batang penisku yang tengah tegang. Dia terus-terusan mengusap dan mengelus batang penisku.
Kupandangi wajah Bu Darsih, matanya menatap nakal dengan senyuman bandel di bibirnya. Wanita paruh baya itu ternyata begitu menggairahkan. Tanpa kuminta, Bu Darsih kemudian berjongkok di hadapanku, dia segera mengulum dan menjilati batang penisku sampai menimbulkan bunyi yang begitu khas. Keahliannya menyedot dan mengulum batang penisku begitu luar biasa, membuatku tidak dapat menahan diri lagi. Kutarik tangannya mengajak berdiri, lalu menggiringnya menuju jok berkulit plastik di kamar bilas itu. Kubimbing agar Bu Darsih duduk di jok empuk itu, dan tanpa kuminta, Bu Darsih pun langsung membengkangkan kedua kakinya, sehingga kemaluannya yang besar menantang di hadapanku. Tanpa buang-buang waktu, aku langsung menyibakkan rambut lebat yang menutupi vaginanya, sehingga kudapati bibir-bibir vagina yang tebal berwarna hitam kecoklatan. Lendir putih mengalir dari bibir-bibir vagina yang mulai merekah itu yang merupakan pertanda birahi luar biasa yang telah menghinggapi dirinya.
Saat bibir-bibir vagina itu ku renggangkan, muncul klitoris sebesar kacang tanah seperti menuntut untuk dijilati. Belum pernah kulihat klitoris sebesar itu, juga bibir-bibir vagina yang begitu tebal, mungkin karena badannya besar membuat klitoris-nya juga jadi besar sesuai dengan ukuran badannya yang juga besar dan gemuk. Kujilati klitoris itu dengan buas, membuat Bu Darsih mendesah keras, tubuhnya menjadi kejang dan gemetar menahan kenikmatan itu, pinggulnya terangkat menyambut jilatan lidahku pada vagina dan klitoris-nya. Vaginanya menjadi semakin menganga lebar, membuat dinding vaginanya yang merah menjadi jelas terlihat seperti menyampaikan kesiapannya untuk menerima coblosan batang penisku.
Akhirnya, "Bleesss..!" kubenamkan batang penisku ke lubang vaginanya.
Terasa begitu sempit dan menggigit, mungkin akibat Bu Darsih yang telah hampir 20 tahun menjanda, membuat otot-otot vaginanya kembali menguat.
Tubuh kami berguncang-guncang dahsyat di atas jok itu saling menekan, sementara batang penisku keluar masuk lubang vaginanya menggesek dan menggaruk dinding-dinding vagina yang sudah begitu gatal selama ini. Kujejalkan penisku lebih dalam lagi, Bu Darsih pun menyambut dengan mendorong pinggulnya supaya penisku masuk ke tempat yang paling dalam. Sementara itu jempol serta telunjukku memilin-milin klitoris-nya, membuat Bu Darsih mengalami kenikmatan yang sangat dahsyat, sampai-sampai matanya mendelik, sementara desahan dan erangan keras silih berganti mengiringi orgasme yang dirasakannya.
Spermaku menyembur deras di dalam lubang vagina Bu Darsih dan membanjiri rahimnya. Tubuhku menggeletak lemas di atas tubuhnya dengan batang penis yang masih terbenam di lubang vaginanya untuk beberapa waktu. Saat kucabut batang penisku, Bu Darsih kembali merenggut batang penisku dan memerasnya dengan begitu bernafsu, sehingga sisa-sisa sperma yang telah bercampur lendir vaginanya meleleh keluar dan langsung ditampung dengan lidahnya.
Setelah kejadian yang mengejutkan dan menegangkan itu, kami melanjutkan acara berenang, sementara hubunganku dengan Bu Darsih berjalan seperti biasa. Bu Darsih tetap bersikap sebagaimana aku adalah majikannya. Hanya disaat istriku meleng, kami pun langsung bergelut setubuh di atas ranjang tanpa malu-malu dan tanpa basa-basi. Namun selain di ranjang, sikapnya terhadap diriku begitu wajar seperti sediakala, bahkan meskipun istriku sedang tidak di rumah, sikapnya tetap saja begitu wajar. Sama sekali tidak tercermin di wajahnya maupun di sikapnya kalau wanita paruh baya itu sebetulnya bandel dan sering bergelut senggama dengan diriku. Wajah liar penuh birahi, mata binal, senyum nakal dan kebuasannya hanya muncul saat berada di atas ranjang.
Kami memiliki acara rutin, yaitu berenang yang kami lakukan seminggu sekali setiap hari Sabtu sore. Aku dan istriku selalu mengajak Rio berenang di gelanggang renang Ancol, dan biasanya selalu ada dua atau tiga orang anak tetangga teman bermain Rio yang ikut berenang bersama kami. Babby sitter selalu kami ajak ikut serta untuk membantu mengawasi anak-anak, meskipun tidak ikut berenang.
Sebagaimana biasanya, pada hari Sabtu kami pergi gelanggang renang Ancol, namun kali ini istriku tidak dapat ikut. Istriku pulang ke Yogyakarta yang rutin dilakukannya enam bulan sekali untuk menjenguk keluarga di sana, terutama orangtuanya (mertuaku), sehingga pada acara berenang kali ini, yang ikut hanya aku, Rio beserta lima orang temannya serta tidak ketinggalan Bu Darsih. Karena istriku tidak ikut, sementara teman Rio yang ikut lebih banyak dari biasanya, yaitu sampai lima orang (biasanya paling banyak tiga orang), aku berfikir bahwa Bu Darsih perlu ikut turun ke air untuk membantu mengawasi anak-anak. Masalahnya keselamatan anak-anak tetangga juga merupakan tanggung jawabku.
Menurut keterangannya, Bu Darsih dapat berenang, tetapi dia tidak memiliki pakaian renang. Bagiku, yang penting Bu Darsih dapat berenang, karena soal pakaian renang adalah soal mudah, tinggal beli saja, beres.
Sesampainya di kolam renang, aku mampir sebentar di sebuah kios yang menjual perlengkapan renang untuk membelikan baju renang Bu Darsih. Untungnya ada nomor yang pas untuknya, karena baju renang ukuran besar tidak begitu banyak. Setelah itu seperti biasanya, aku selalu menyewa kamar bilas keluarga yang dapat disewa per tiga jam. Aku selalu menyewa kamar bilas keluarga, karena kupikir lebih praktis. Di kamar bilas itu kami sekeluarga dapat berkumpul dan tidak perlu terpisah seperti di kamar bilas umum yang dipisahkan antara kamar bilas untuk pria dan wanita. Disamping itu, di kamar bilas keluarga semua perlengkapan, pakaian, tas dan sebagainya dapat disimpan di kamar bilas tersebut, tinggal dikunci dan beres, tidak perlu repot-repot antri ke tempat penitipan pakaian yang melelahkan, ditambah resiko kehilangan barang-barang. Shower juga sudah tersedia di dalam kamar bilas, tidak perlu repot-repot keluar kamar, ada air panasnya lagi. Begitu praktis, sehingga mengawasi anak-anak pun jadi lebih mudah.
Rio dan teman-temannya begitu antusias, di kamar bilas mereka mengganti pakaian dengan tergesa-gesa. Dan setelah selesai, mereka semua langsung lari ke kolam tanpa tunggu-tunggu lagi. Setelah semua anak-anak keluar menuju kolam, aku segera melepas pakaianku. Setelah aku telanjang bulat, aku bergegas menuju shower, namun... astaga... aku baru sadar kalau ternyata ada Bu Darsih di kamar bilas itu. Kulihat Bu Darsih mesem-mesem (tersipu malu) sambil mencari-cari sesuatu dari tasnya. Aku pun pura-pura bersikap biasa, seolah-olah telanjang bulat di depan Bu Darsih merupakan hal yang lumrah bagiku, padahal itu kulakukan untuk mengusir rasa malu.
Dengan sok berlagak tenang, aku menyuruh Bu Darsih untuk segera ganti pakaian.
"Ayo.. Bu Darsih.. cepat ganti baju.. itu anak-anak nggak ada yang ngejagain.."
Semua ucapanku itu betul-betul hanya bertujuan untuk mengusir rasa malu karena sudah terlanjur telanjang, sementara itu kulihat Bu Darsih terus saja mesem-mesem, dan ini mengundang perasaan aneh pada diriku. Sebetulnya aku mengerti makna mesem-mesemnya Bu Darsih, aku yakin kalau mesem-mesem-nya berkaitan erat dengan keadaanku yang sedang telanjang ini.
"Forget it..!" kupikir sambil tetap telanjang bulat, akhirnya aku langsung menuju shower untuk membasahi tubuhku, hal yang biasa kulakukan sebelum berenang.
Lyd
April 4th, 2007, 14:48
Saat berada di bawah kucuran shower, aku sempat memperhatikan Bu Darsih saat sedang menanggalkan seragam babby sitternya yang berwarna putih, dan masih saja sambil mesem-mesem. Mungkin dia pikir buat apa malu-malu telanjang dihadapan majikannya ini, toh majikannya saja tidak malu telanjang bulat dihadapannya, semua ini membuat perasaan mesum mulai menjalari tubuhku. Selanjut pemandangan di hadapanku menjadi semakin mendebarkan. Bu Darsih sambil terus mesem-mesem sendiri mulai menanggalkan pakaian dalamnya, jantungku berdebar keras, apalagi disaat dia melepaskan kait-kait BH-nya, serta meloloskan tali-tali BH tersebut dari lengannya.
Belum pernah terbayangkan dalam pikiranku melihat Bu Darsih dalam keadaan yang kulihat saat ini. Selama ini gairahku sama sekali tidak pernah terusik oleh wanita paruh baya itu yang bertubuh besar dan agak gembrot, serta mengenakan pakaian seragam putih. Namun pemandangan di hadapanku kali ini sungguh-sungguh berbeda. Payudara yang sungguh besar dan montok dengan puting payudara yang lebar berwarna coklat gelap, menggantung di dadanya, begitu menggetarkan kalbuku. Apalagi saat dia memelorotkan celana dalamnya, membuat rambut lebat di kedua pangkal pahanya yang montok begitu jelas terpandang, sungguh membuat darahku menjadi berdesir dengan derasnya. Jantungku semakin berdetak tidak beraturan, dan tubuhku gemetar menahan gairah yang kali ini terusik oleh pemandangan yang sungguh benar-benar lain dari biasanya, serta tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehku.
Disaat Bu Darsih hendak mengenakan pakaian renangnya, secara refleks aku langsung berkata kepadanya, "Ayoh... Bu Darsih.., mandi dulu... supaya nggak keram di kolam."
Sebetulnya, ucapanku hanyalah akal bulusku yang semata-mata hanya agar aku dapat menikmati pemandangan tubuh bugil Bu Darsih lebih lama lagi. Namun ternyata, 'Pucuk dicinta ulam tiba', Bu Darsih batal mengenakan pakaian renangnya, dan melemparnya ke atas jok empuk berkulit plastik yang ada di kamar bilas itu. Lantas sambil terus mesem-mesem dan masih telanjang bulat, Bu Darsih melangkah menuju shower. Aku sedikit menggeser posisi berdiriku di bawah shower untuk memberi tempat bagi Bu Darsih.
Tubuh telanjangnya yang begitu montok dan besar, bergidik kedinginan saat air yang memancar dari shower menerpa tubuhnya. Bu Darsih mengusap-usap wajahnya yang terguyur air shower. Birahi yang sudah menguasai diriku membuatku nekat menjamah payudaranya yang sangat besar itu.., sungguh aku sangat gemetaran, takut kalau-kalau Bu Darsih menolak untuk disentuh. Tetapi ternyata Bu Darsih hanya diam saja saat aku mengusap-usap payudaranya. Hal ini membuatku nekat untuk berlanjut menjamah kemaluannya. Disaat jemariku menyentuh kemaluannya yang berambut lebat itu, dalam waktu yang hampir bersamaan tangan Bu Darsih juga menjamah batang penisku yang tengah tegang. Dia terus-terusan mengusap dan mengelus batang penisku.
Kupandangi wajah Bu Darsih, matanya menatap nakal dengan senyuman bandel di bibirnya. Wanita paruh baya itu ternyata begitu menggairahkan. Tanpa kuminta, Bu Darsih kemudian berjongkok di hadapanku, dia segera mengulum dan menjilati batang penisku sampai menimbulkan bunyi yang begitu khas. Keahliannya menyedot dan mengulum batang penisku begitu luar biasa, membuatku tidak dapat menahan diri lagi. Kutarik tangannya mengajak berdiri, lalu menggiringnya menuju jok berkulit plastik di kamar bilas itu. Kubimbing agar Bu Darsih duduk di jok empuk itu, dan tanpa kuminta, Bu Darsih pun langsung membengkangkan kedua kakinya, sehingga kemaluannya yang besar menantang di hadapanku. Tanpa buang-buang waktu, aku langsung menyibakkan rambut lebat yang menutupi vaginanya, sehingga kudapati bibir-bibir vagina yang tebal berwarna hitam kecoklatan. Lendir putih mengalir dari bibir-bibir vagina yang mulai merekah itu yang merupakan pertanda birahi luar biasa yang telah menghinggapi dirinya.
Saat bibir-bibir vagina itu ku renggangkan, muncul klitoris sebesar kacang tanah seperti menuntut untuk dijilati. Belum pernah kulihat klitoris sebesar itu, juga bibir-bibir vagina yang begitu tebal, mungkin karena badannya besar membuat klitoris-nya juga jadi besar sesuai dengan ukuran badannya yang juga besar dan gemuk. Kujilati klitoris itu dengan buas, membuat Bu Darsih mendesah keras, tubuhnya menjadi kejang dan gemetar menahan kenikmatan itu, pinggulnya terangkat menyambut jilatan lidahku pada vagina dan klitoris-nya. Vaginanya menjadi semakin menganga lebar, membuat dinding vaginanya yang merah menjadi jelas terlihat seperti menyampaikan kesiapannya untuk menerima coblosan batang penisku.
Akhirnya, "Bleesss..!" kubenamkan batang penisku ke lubang vaginanya.
Terasa begitu sempit dan menggigit, mungkin akibat Bu Darsih yang telah hampir 20 tahun menjanda, membuat otot-otot vaginanya kembali menguat.
Tubuh kami berguncang-guncang dahsyat di atas jok itu saling menekan, sementara batang penisku keluar masuk lubang vaginanya menggesek dan menggaruk dinding-dinding vagina yang sudah begitu gatal selama ini. Kujejalkan penisku lebih dalam lagi, Bu Darsih pun menyambut dengan mendorong pinggulnya supaya penisku masuk ke tempat yang paling dalam. Sementara itu jempol serta telunjukku memilin-milin klitoris-nya, membuat Bu Darsih mengalami kenikmatan yang sangat dahsyat, sampai-sampai matanya mendelik, sementara desahan dan erangan keras silih berganti mengiringi orgasme yang dirasakannya.
Spermaku menyembur deras di dalam lubang vagina Bu Darsih dan membanjiri rahimnya. Tubuhku menggeletak lemas di atas tubuhnya dengan batang penis yang masih terbenam di lubang vaginanya untuk beberapa waktu. Saat kucabut batang penisku, Bu Darsih kembali merenggut batang penisku dan memerasnya dengan begitu bernafsu, sehingga sisa-sisa sperma yang telah bercampur lendir vaginanya meleleh keluar dan langsung ditampung dengan lidahnya.
Setelah kejadian yang mengejutkan dan menegangkan itu, kami melanjutkan acara berenang, sementara hubunganku dengan Bu Darsih berjalan seperti biasa. Bu Darsih tetap bersikap sebagaimana aku adalah majikannya. Hanya disaat istriku meleng, kami pun langsung bergelut setubuh di atas ranjang tanpa malu-malu dan tanpa basa-basi. Namun selain di ranjang, sikapnya terhadap diriku begitu wajar seperti sediakala, bahkan meskipun istriku sedang tidak di rumah, sikapnya tetap saja begitu wajar. Sama sekali tidak tercermin di wajahnya maupun di sikapnya kalau wanita paruh baya itu sebetulnya bandel dan sering bergelut senggama dengan diriku. Wajah liar penuh birahi, mata binal, senyum nakal dan kebuasannya hanya muncul saat berada di atas ranjang.
Subscribe to:
Posts (Atom)